Opini
Rubrik untuk suara-suara subjektif namun reflektif dan tetap mengakar pada fakta
-
Apa Itu Hidup “Yang Wajar”: Menalar Balai Pikir
Ihwal paling mengganggu dalam frasa “hidup wajar” terletak pada bagaimana manusia memahami “hidup yang wajar” itu.
-
Korupsi, Agama, dan Pendidikan
Korupsi pada hakikatnya lebih dari pelanggaran hukum karena melakukan penyelewengan hak individu atau kelompok oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.
-
Homo Homini Lupus di Tengah Penderitaan Korban Bencana
Kasus korupsi di BNPB adalah cerminan nyata dari matinya rasa kemanusiaan dan kepedulian terhadap sesama yang sedang tertimpa musibah.
-
NU Gus Kikin, NU yang Maskulin (?)
Padahal, jika merujuk pada AD/ART NU, tak ada aturan spesifik yang mensyaratkan bahwa anggota AHWA mestilah seorang lelaki atau larangan bahwa perempuan tak boleh masuk…
-
Keteladanan Reformisme dan Modernisme Cak Nur
Sekali lagi, tanpa ingin teramat memuja-muji, keteladanan reformisme dan modernisme yang telah Cak Nur wariskan harus dilanjutkan
-
Muktamar ke-35 NU: Wira(usaha) Santri untuk Tidak Nambang
Ketimbang kasak-kusuk gerah membahas soal siapa saja kandidat potensial yang bakal mengemban amanah muktamirin nantinya, akan lebih substansial jika warga nahdliyin mencurahkan tenaga dan pikirannya…
-
Paylater dan Ilusi Kebebasan: Kebiasaan Berutang di Era Digital
Faktanya, paylater memang menawarkan kenyamanan yang luar biasa. Tanpa perlu menyediakan uang tunai, seseorang dapat memperoleh barang yang ia inginkan dalam hitungan menit
-
Apa Jadinya Demokrasi Tanpa Ruang Perlawanan?
Kebebasan berekspresi di internet memang bukan lagi sekadar isu normatif, melainkan telah menjadi ruang perlawanan sehari-hari, tempat merespons ketidakadilan, mengkritik kebijakan, dan membangun imajinasi politik…












