Opini
Rubrik untuk suara-suara subjektif namun reflektif dan tetap mengakar pada fakta
-
NU Gus Kikin, NU yang Maskulin (?)
Padahal, jika merujuk pada AD/ART NU, tak ada aturan spesifik yang mensyaratkan bahwa anggota AHWA mestilah seorang lelaki atau larangan bahwa perempuan tak boleh masuk…
-
Keteladanan Reformisme dan Modernisme Cak Nur
Sekali lagi, tanpa ingin teramat memuja-muji, keteladanan reformisme dan modernisme yang telah Cak Nur wariskan harus dilanjutkan
-
Muktamar ke-35 NU: Wira(usaha) Santri untuk Tidak Nambang
Ketimbang kasak-kusuk gerah membahas soal siapa saja kandidat potensial yang bakal mengemban amanah muktamirin nantinya, akan lebih substansial jika warga nahdliyin mencurahkan tenaga dan pikirannya…
-
Paylater dan Ilusi Kebebasan: Kebiasaan Berutang di Era Digital
Faktanya, paylater memang menawarkan kenyamanan yang luar biasa. Tanpa perlu menyediakan uang tunai, seseorang dapat memperoleh barang yang ia inginkan dalam hitungan menit
-
Apa Jadinya Demokrasi Tanpa Ruang Perlawanan?
Kebebasan berekspresi di internet memang bukan lagi sekadar isu normatif, melainkan telah menjadi ruang perlawanan sehari-hari, tempat merespons ketidakadilan, mengkritik kebijakan, dan membangun imajinasi politik…
-
Predator di Balik Tembok Pesantren
Banyak pesantren dibangun di atas budaya sami’na wa atha’na—kami mendengar dan kami taat—yang nyaris tanpa ruang kritik.
-
Doom Spending: Belanja sebagai Pelarian Eksistensial
Pada era ini rata-rata orang membeli sesuatu bukan karena benar-benar memerlukannya, melainkan karena ingin meredakan penat, menghibur diri, atau melupakan kecemasan yang diam-diam menumpuk dalam…
-
Melawan Hegemoni Progres Linier untuk Membebaskan Kreativitas Jiwa
Tuntutan akan progres linier yang kaku merupakan bentuk pemasungan terhadap potensi manusia yang sangat luas dan beragam.












