Doom Spending: Belanja sebagai Pelarian Eksistensial

Doom Spending: Belanja sebagai Pelarian Eksistensial

Perlahan, di tengah kehidupan modern yang semakin cepat dan melelahkan, belanja tidak lagi menjadi aktivitas memenuhi kebutuhan. Pada era ini rata-rata orang membeli sesuatu bukan karena benar-benar memerlukannya, melainkan karena ingin meredakan penat, menghibur diri, atau melupakan kecemasan yang diam-diam menumpuk dalam hidup. Diskon besar, flash sale, dan kemudahan paylater menjadikan manusia modern semakin mudah mencari pelarian emosional melalui konsumsi. Tidak mengherankan jika keranjang belanja digital kini sering menjadi “ruang pelampiasan” bagi rasa lelah dan tekanan hidup sehari-hari.

Fenomena inilah yang dalam beberapa tahun terakhir disebut dengan istilah doom spending, yakni kebiasaan membelanjakan uang sebagai respons terhadap stres, kecemasan, dan ketidakpastian masa depan. Di balik kesenangan sesaat setelah menekan tombol checkout, tersimpan persoalan yang lebih dalam tentang relasi manusia dengan uang, hasrat, dan makna hidup. Mengapa manusia modern semakin sulit merasa cukup? Mengapa konsumsi sering menjadi cara tercepat untuk mencari ketenangan? Dan apakah belanja benar-benar mampu mengisi kehampaan yang dialami manusia modern saat ini?

Belanja sebagai Obat Kecemasan Modern

Kehidupan masyarakat modern hari ini berada dalam tekanan yang tidak ringan. Harga kebutuhan pokok meningkat, lapangan pekerjaan semakin kompetitif, dan masa depan terasa sulit diprediksi. Di sisi lain, media sosial terus menampilkan gambaran kehidupan yang tampak sempurna: liburan mewah, barang-barang baru, gaya hidup estetik, hingga standar kesuksesan yang terus dipamerkan setiap hari. Dalam situasi seperti ini, banyak orang hidup dalam kecemasan yang diam-diam menguras kondisi psikologis mereka.

Di tengah tekanan tersebut, belanja kemudian hadir bukan hanya sebagai aktivitas ekonomi, tetapi juga sebagai pelarian emosional. Banyak orang merasa lebih tenang setelah membeli sesuatu, meskipun sebenarnya barang itu tidak terlalu dibutuhkan. Tidak sedikit yang melakukan checkout tengah malam setelah hari yang melelahkan, membeli kopi mahal sebagai bentuk “hadiah kecil” untuk diri sendiri, atau menggunakan paylater demi memperoleh kepuasan instan. Kalimat seperti “saya pantas membeli ini karena sudah lelah bekerja” perlahan menjadi pembenaran yang terasa wajar dalam kehidupan sehari-hari.

Fenomena ini dikenal dengan istilah doom spending, yakni kebiasaan membelanjakan uang untuk meredakan stres, kecemasan, atau rasa putus asa terhadap masa depan. Dalam kondisi tertentu, belanja memang dapat memberi rasa senang sementara karena otak manusia merespons aktivitas konsumsi dengan pelepasan hormon dopamin. Namun rasa lega itu biasanya tidak bertahan lama. Setelah euforia sesaat berlalu, muncul tagihan, penyesalan, bahkan kecemasan baru akibat kondisi keuangan yang semakin tidak terkendali.

Pada titik inilah persoalannya menjadi lebih dalam daripada sekadar masalah pengelolaan uang. Doom spending menunjukkan bahwa manusia modern sebenarnya sedang mengalami krisis ketenangan batin. Konsumsi akhirnya dipakai sebagai cara tercepat untuk menghibur diri di tengah hidup yang terasa melelahkan dan penuh tekanan. Manusia membeli bukan hanya karena membutuhkan barang, tetapi karena ingin mendapatkan rasa nyaman, diterima, dan merasa hidupnya masih memiliki sedikit kebahagiaan. Ironisnya, semakin sering kebahagiaan dicari melalui konsumsi, semakin sulit pula manusia merasa cukup dengan apa yang dimilikinya.

Kapitalisme Digital dan Hasrat Konsumsi Tanpa Akhir

Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara manusia berbelanja secara sangat drastis. Jika dahulu seseorang harus pergi ke toko untuk membeli barang, hari ini cukup dengan beberapa sentuhan di layar ponsel, transaksi dapat selesai dalam hitungan detik. E-commerce, live shopping, flash sale, gratis ongkir, hingga notifikasi diskon setiap hari membuat manusia hidup dalam godaan konsumsi yang hampir tidak pernah berhenti. Dunia digital tidak hanya mempermudah belanja, tetapi juga menciptakan suasana psikologis yang terus mendorong manusia untuk membeli.

Algoritma media sosial dan platform belanja bekerja dengan cara membaca kebiasaan pengguna, lalu menawarkan barang-barang yang paling mungkin menarik perhatian mereka. Semakin lama seseorang melihat sebuah produk, semakin sering produk serupa akan muncul di beranda mereka. Pada akhirnya, manusia tidak lagi sepenuhnya membeli karena kebutuhan, tetapi karena terus dipancing oleh hasrat yang dibentuk secara digital. Belanja menjadi hiburan tercepat di tengah rasa bosan, stres, dan kelelahan hidup sehari-hari.

Dalam situasi seperti ini, budaya self reward perlahan mengalami pergeseran makna. Pada awalnya, self reward dapat dipahami sebagai bentuk apresiasi diri yang sehat setelah bekerja keras. Namun dalam praktiknya, konsep ini sering berubah menjadi pembenaran untuk konsumsi berlebihan. Banyak orang membeli sesuatu demi memperoleh kepuasan emosional sesaat, bukan karena benar-benar membutuhkannya. Kalimat seperti “hidup cuma sekali” atau “yang penting bahagia dulu” sering dipakai untuk membenarkan keputusan finansial yang impulsif.

Fenomena tersebut semakin diperkuat oleh hadirnya layanan paylater yang membuat batas antara “mampu” dan “ingin” menjadi semakin kabur. Kemudahan cicilan instan memberi ilusi bahwa semua orang dapat memiliki apa saja kapan saja. Padahal, kebahagiaan yang diperoleh sering kali hanyalah rasa senang sementara yang dibayar dengan kecemasan di kemudian hari. Manusia modern akhirnya terjebak dalam siklus konsumsi: merasa lelah, lalu membeli; merasa kosong, lalu berbelanja lagi.

Pemikir humanis Erich Fromm pernah mengatakan bahwa manusia modern lebih sibuk “memiliki” daripada “menjadi”. Nilai diri manusia perlahan diukur dari apa yang dimiliki dan ditampilkan kepada orang lain. Sementara itu, pemikir postmodern Jean Baudrillard melihat bahwa masyarakat modern sebenarnya tidak lagi sekadar mengonsumsi barang, tetapi mengonsumsi simbol dan citra sosial. Orang membeli bukan hanya untuk fungsi barang tersebut, melainkan demi terlihat sukses, modern, dan bahagia di mata orang lain.

Di era digital saat ini, manusia akhirnya hidup dalam arus konsumsi yang nyaris tanpa jeda. Setiap hari mereka dibombardir oleh iklan, tren, dan standar gaya hidup yang terus berubah. Akibatnya, manusia modern semakin sulit membedakan antara kebutuhan nyata dan hasrat yang dibentuk oleh sistem digital itu sendiri.

Doom Spending dan Krisis Makna Kehidupan

Di balik kebiasaan belanja impulsif dan konsumsi berlebihan, sebenarnya tersembunyi persoalan yang lebih mendalam, yaitu krisis makna kehidupan manusia modern. Banyak orang hari ini hidup dalam ritme yang sangat sibuk, tetapi secara batin merasa kosong dan lelah. Mereka bekerja terus-menerus, mengejar target, memenuhi tuntutan sosial, dan berusaha tampil baik di media sosial, tetapi diam-diam kehilangan ruang untuk memahami dirinya sendiri. Dalam kondisi seperti ini, konsumsi sering menjadi cara tercepat untuk memperoleh rasa senang, meskipun hanya sementara.

Belanja kemudian berubah menjadi semacam “obat emosional”. Ketika merasa stres, seseorang membuka aplikasi belanja. Ketika merasa sedih, ia membeli makanan atau barang baru untuk memperbaiki suasana hati. Ketika merasa gagal atau minder, ia mencoba mendapatkan kembali rasa percaya diri melalui konsumsi. Aktivitas membeli memberikan sensasi lega sesaat karena manusia merasa memiliki kontrol, mendapatkan hadiah, atau memperoleh identitas baru melalui barang yang dibeli. Namun rasa itu biasanya cepat menghilang dan digantikan oleh kehampaan yang sama.

Ironisnya, semakin manusia mencari kebahagiaan melalui konsumsi, semakin sulit pula ia merasa puas. Setelah satu keinginan terpenuhi, muncul keinginan lain yang harus dikejar. Dunia digital terus menciptakan standar baru tentang apa yang dianggap keren, sukses, dan membahagiakan. Akibatnya, manusia hidup dalam perlombaan tanpa akhir untuk mengejar citra diri yang sebenarnya tidak pernah benar-benar selesai. Pada titik tertentu, konsumsi tidak lagi memberi ketenangan, melainkan justru memperdalam rasa lelah dan kecemasan.

Filsuf Korea Selatan Byung-Chul Han menyebut manusia modern sebagai masyarakat yang mengalami kelelahan (burnout society). Menurutnya, manusia hari ini terus dipaksa untuk produktif, tampil menarik, dan menunjukkan performa terbaik setiap saat. Dalam situasi seperti itu, manusia kehilangan kemampuan untuk berdiam diri, merenung, dan menemukan makna hidup yang sejati. Kehidupan akhirnya dipenuhi aktivitas, tetapi miskin kedalaman batin.

Doom spending menunjukkan bahwa persoalan manusia modern bukan hanya soal uang, melainkan juga soal kesepian, kecemasan, dan kehilangan makna hidup. Banyak orang sebenarnya tidak sedang membutuhkan barang baru, tetapi sedang membutuhkan rasa tenang, diterima, dan dihargai. Sayangnya, dunia konsumsi menawarkan solusi yang cepat tetapi dangkal. Keranjang belanja mungkin mampu memberi kesenangan sesaat, tetapi tidak selalu mampu menyembuhkan kehampaan yang berasal dari jiwa yang kelelahan.

Menuju Kesadaran Finansial dan Kedewasaan Eksistensial

Fenomena doom spending pada akhirnya mengajarkan bahwa persoalan keuangan manusia tidak pernah sepenuhnya terpisah dari kondisi psikologis dan spiritualnya. Banyak orang mengira masalah finansial hanya berkaitan dengan besar kecilnya penghasilan, padahal sering kali akar persoalannya terletak pada cara manusia memaknai hidup, kebahagiaan, dan dirinya sendiri. Seseorang dapat memiliki pendapatan yang cukup, tetapi tetap merasa kurang karena hidupnya terus digerakkan oleh kecemasan dan hasrat konsumsi yang tidak pernah selesai.

Karena itu, literasi keuangan modern seharusnya tidak berhenti pada ajakan menabung, berinvestasi, atau mengatur pengeluaran. Manusia juga perlu belajar memahami hubungan antara uang dan emosi. Sebelum membeli sesuatu, mungkin pertanyaan paling penting bukanlah “apakah saya mampu membeli ini?”, melainkan “apakah saya benar-benar membutuhkan ini, atau saya hanya sedang lelah dan ingin mencari pelarian?” Kesadaran semacam ini penting agar manusia tidak terus-menerus menggunakan konsumsi sebagai cara menenangkan luka batin yang sebenarnya membutuhkan perhatian lebih dalam.

Di tengah budaya digital yang mendorong manusia untuk terus membeli dan membandingkan diri, hidup sederhana justru menjadi sesuatu yang semakin bernilai. Menikmati percakapan yang tulus, memiliki waktu istirahat yang cukup, menjaga relasi dengan keluarga, menemukan makna dalam pekerjaan, dan belajar merasa cukup merupakan bentuk kekayaan yang sering kali terlupakan dalam masyarakat konsumtif. Manusia membutuhkan uang untuk hidup, tetapi manusia tidak dapat hidup hanya dengan uang. Ada ruang batin yang tidak selalu bisa diisi oleh barang, diskon, ataupun transaksi digital.


Editor: Farhan Azizi

Penulis

Avatar Vinsensius

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *