“Yang aneh
(Helvy Tiana Rosa, Buku dari Barat, 2026)
bukan anjuran membaca Barat
Tapi seorang pejabat
berdiri di negeri kaya hikayat,
babad, suluk, pantun, gurindam,
cerpen, novel, puisi, drama,
dan luka sejarah sendiri,
lalu menyuruh rakyatnya
membeli cakrawala
dari toko sebelah.”
Tidak semua puisi selesai ketika titik terakhir dituliskan. Begitulah puisi berjudul Buku dari Barat karya Helvy Tiana, mulai bekerja setelah pembacanya menutup halaman.
Buku dari Barat tidak menawarkan kemarahan kepada Barat, tetapi mengembalikan kita kepada pertanyaan yang lebih sunyi: mengapa sebuah bangsa begitu mudah percaya kepada cahaya dari luar, tetapi begitu sulit percaya kepada cahaya yang tumbuh dari akarnya sendiri?
Barangkali memang bukan Barat yang paling jauh dari kita. Yang paling jauh justru ruang batin kita sendiri.
Kita hafal jalan menuju perpustakaan dunia, tetapi lupa jalan pulang menuju ruang batin tempat hikayat, pantun, babad, suluk, dan puisi-puisi leluhur masih setia menunggu. Kita begitu sibuk mengeja bahasa orang lain hingga lidah sendiri terasa canggung mengucapkan nama-nama yang membesarkan peradaban ini.
Helvy Tiana Rosa tidak sedang mengadili sebuah benua. Ia sedang menggelar pengadilan di dalam kepala kita.
Terdakwanya bukan Plato, bukan Shakespeare, bukan Foucault, bukan Derrida. Yang sedang duduk di kursi pesakitan adalah rasa rendah diri yang telah lama menyamar sebagai kecerdasan.
Betapa sering kita menyangka diri sedang berpikir modern, padahal sesungguhnya kita hanya sedang kehilangan keberanian untuk percaya kepada mata air yang mengalir dari tanah sendiri.
Begitulah kolonialisme bekerja. Ia tidak selalu datang dengan kapal perang. Kadang ia datang sebagai kekaguman yang kehilangan ukuran.
Ia tidak lagi memenjarakan tubuh, melainkan membuat pikiran rela menjadi tawanan. Orang yang terjajah tidak selalu dipaksa mencintai penjajah; cukup dibuat ragu terhadap dirinya sendiri. Dan keraguan itulah yang perlahan-lahan menggerogoti martabat suatu bangsa.
Puisi Buku dari Barat mengajak kita menertawakan kenyataan yang sebenarnya menyakitkan. Kita tertawa ketika otak dijemur menghadap Eropa. Kita tersenyum saat buku-buku lokal dipersilakan duduk di dapur, menyeduhkan kopi bagi para filsuf dunia.
Namun, di sela-sela tawa itu ada sesak yang diam-diam tumbuh. Kita sadar, itu bukan sekadar metafora. Itu adalah potret keseharian kita.
Di banyak ruang kelas, di ruang seminar, di meja penelitian, bahkan di percakapan-percakapan kecil, kita sering lebih mudah percaya kepada suara yang datang dari seberang lautan daripada bisikan yang tumbuh dari tanah sendiri.
Padahal pohon tidak pernah menjadi besar karena meminjam akar pohon lain. Ia menjulang justru karena akarnya setia memeluk tanah tempat ia dilahirkan.
Begitu pula bangsa. Ia tidak kehilangan keluasan ketika menghormati dunia. Yang membuatnya kehilangan arah justru ketika malu terhadap tanah tempat ia berpijak. Bangsa yang tercerabut dari akar kebudayaannya mungkin tampak tinggi, tetapi ia rapuh diterpa angin zaman.
Helvy tidak mengajak kita membakar buku-buku Barat. Itu justru pengkhianatan terhadap ilmu pengetahuan.
Barat telah melahirkan banyak pemikir besar yang patut dibaca dengan rasa hormat. Namun, hormat berbeda dengan takzim yang membutakan.
Membaca seharusnya melahirkan dialog, bukan penaklukan. Pertemuan antara peradaban semestinya menghasilkan persahabatan, bukan penghambaan.
Air tidak pernah sibuk bertanya siapa yang lebih dahulu turun dari langit. Semua air yang jernih akan bermuara ke lautan yang sama.
Begitu pula ilmu. Ia tidak memiliki paspor kebangsaan. Tetapi manusia memiliki martabat. Dan martabat itulah yang hilang ketika kita menganggap segala yang datang dari luar pasti lebih bercahaya daripada yang tumbuh dari dalam.
Kita sebenarnya sedang lelah menjadi bangsa yang malu kepada dirinya sendiri.
Betapa menggetarkan ketika Helvy menulis bahwa bahasa kita yang dahulu ikut berdarah di jalan kemerdekaan kini harus mengantre di loket terjemahan agar diakui sebagai pikiran.
Kalimat itu bukan sekadar kritik sastra. Ia adalah ratapan kebudayaan. Bahasa yang pernah menjadi senjata melawan penjajahan kini sering diperlakukan sebagai tamu di berandanya sendiri.
Padahal bahasa bukan hanya kumpulan kata. Ia adalah cara suatu bangsa memandang langit, memaknai hujan, menyebut cinta, menafsirkan penderitaan, dan menyusun harapan.
Persoalan terbesar kita bukan kekurangan ilmuwan, bukan kekurangan buku, bukan pula kekurangan universitas. Yang paling langka justru keberanian memandang cermin tanpa merasa wajah sendiri lebih buruk daripada wajah orang lain.
Kita terlalu lama diajari mengagumi jendela, hingga lupa menyuburkan tanah tempat kita bertumbuh. Kita terlalu sibuk membeli cahaya dari toko sebelah, sementara pelita yang menyala di ruang sendiri dibiarkan kehabisan minyak.
Selain menjelma doa, puisi ini juga menjadi percik api yang menyalakan kesadaran. Ia mengingatkan bahwa menjadi bangsa yang terbuka tidak berarti menjadi bangsa yang kehilangan dirinya.
Kita boleh belajar kepada siapa pun, tetapi jangan sampai lupa siapa diri kita. Sebab orang yang tercerabut dari akarnya mungkin masih dapat berjalan jauh, tetapi ia tidak akan pernah benar-benar merdeka.
Kemerdekaan yang paling mahal bukanlah ketika bendera berhasil ditegakkan di tiang tertinggi. Kemerdekaan yang paling sunyi justru ketika kepala berhenti berlutut, ketika hati berhenti merasa kecil, dan ketika kita mampu membaca dunia tanpa kehilangan kemampuan membaca diri sendiri.
Sebuah bangsa tidak menjadi besar ketika berhasil mengalahkan bangsa lain. Kita menjadi bangsa besar ketika mampu membaca dunia tanpa kehilangan kemampuan membaca diri sendiri.
Editor: Ihya Ulumuddin






Tinggalkan Balasan