Warga nahdliyin tak ada yang tak bergempita menyambut Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) pada akhir Agustus 2026 nanti. “Gawen gedhen” untuk memilih para nakhoda baru bakal menjadi momentum penting untuk masa depan organisasi kemasyarakatan Islam terbesar berlogo tali jagat itu.
Ketimbang kasak-kusuk gerah membahas soal siapa saja kandidat potensial yang bakal mengemban amanah muktamirin nantinya, akan lebih substansial jika warga nahdliyin mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk memikirkan pengembangan kualitas sumber daya warga NU, utamanya di bidang wirausaha (entrepreneur).
Selama ini, masalah “duit” seringkali menjadi jerat yang menghambat kemajuan NU. Saking “butuh duitnya”, Gus Yahya pernah bilang, NU harus menerima konsesi tambang dari pemerintah.
Langkah itu sempat menjadi awal gonjang-ganjing yang menerpa NU dalam setahun terakhir ini. Kalangan internal maupun eksternal NU ramai-ramai meledek keputusan “mata duitan” itu. Sindiran sarkastik serupa pemelesetan singkatan NU, dari Nahdlatul Ulama menjadi “Ulama Nambang” (UN) pun menjadi salah satu temuan yang bergentayangan di jagat media sosial.
NU kehilangan reputasinya, malahan dicap negatif atas sikap yang tidak berpihak terhadap kelestarian alam itu. Boleh jadi, jikalau mau mengembangkan sumber dayanya secara maksimal, NU tak harus ikut-ikutan nambang. Cukup dengan menghasilkan santri-santri yang lihai di bidang wirausaha, NU bisa dengan mudahnya memenuhi Kotak Infak Nahdlatul Ulama (Koin NU).
NU punya jumlah sumber daya siap berdaya yang besar. Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) mencatat bahwa pada 2020 jumlah santri di seluruh penjuru tanah air mencapai angka 18 juta orang. Jumlah sebanyak itu tersebar di 28.194 pondok pesantren. Angka ini kemungkinan baru sekadar pesantren yang mendaftarkan Izin Operasional Pesantren (IOP), belum termasuk pesantren-pesantren NU yang kiainya masih malas mengurus masalah administratif.
Berkat melimpahnya sumber daya santri ini, program pengembangan kewirausahaan bagi para santri (santripreneur) semestinya terus digalakkan. Melalui penumbuhan semangat berwirausaha ini, para santri diharapkan mampu menjawab tantangan yang ada dalam menjembatani proses industrialisasi kepada masyarakat luas.
Menurut data Kementerian Perindustrian (Kemenperin), semenjak tahun 2013 hingga awal tahun 2020, setidaknya program santripreneur telah menyasar 8.128 santri dari 46 pesantren di 7 provinsi, yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Yogyakarta, Kalimantan Timur, serta Lampung dan Banten (kemenperin.go.id, 21 Januari 2020). Dalam pelaksanaannya, program Santripreneur memberikan pembekalan kepada para santri dalam hal motivasi usaha, penyusunan business plan, pelatihan rapid rural appraisal (RRA), penyusunan feasibility study (FS), strategi marketing, hingga urusan tetek bengek seputar teknis dan finansial seperti muamalah bisnis dan perbankan syariah.
Selain itu, pemerintah juga memberikan bantuan berupa mesin dan peralatan produksi kepada pesantren-pesantren sesuai bidang usaha masing-masing, guna mempercepat proses terciptanya pesantren wirausaha secara mandiri. Dengan begitu, pesantren-pesantren dapat mengembangan dan memperluas kegiatan usahanya. Hal ini sekaligus memberikan kesempatan kepada para santri dalam mengasah jiwa entrepreneurship-nya dengan terjun langsung dalam pengelolaan usaha.
Melalui pelibatan langsung dalam manajemen dan aktivitas usaha, para santri nantinya diharapkan mampu menjadi wirausahawan muda yang kompetitif dan mawas teknologi. Selepas lulus dari pesantren dan kemudian terjun ke dalam masyarakat, para santri tidak hanya dikenal dengan penguasaan ilmu keagamaannya saja. Para santri juga harus dapat menjadi pionir pengembangan industri yang kreatif dan inovatif sesuai dengan potensi dan sumber daya yang ada di lingkungan masing-masing.
Selain sebagai wahana pengabdian diri bagi santri pribadi, pengembangan industri akan memberikan efek karambol positif bagi masyarakat sekitar. Melalui kegiatan berwirausaha, santri berarti turut serta dalam membuka dan menyediakan lapangan pekerjaan sehingga dapat mengurangi tingginya angka pengangguran.
Sebagaimana kita ketahui, salah satu masalah klasik bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia adalah tingginya angka pengangguran yang merembet pada tingginya angka ketergantungan (dependency ratio) dan kriminalitas. Dengan adanya pengembangan industri kreatif dan inovatif berbasis pemberdayaan masyarakat, utamanya pada daerah pedesaan yang masih cenderung tertinggal, juga diharapkan akan mampu mengurangi tingginya intensitas laju urbanisasi.
Sebagaimana kita ketahui pula, persepsi “pengen kaya, ya pergilah ke kota” memang terasa masih begitu tertanam kuat pada pikiran masyarakat pedesaan. Hal ini dapat diamati ketika memasuki musim arus balik lebaran, di mana jumlah pendatang baru bisa mencapai tiga kali lipat dari jumlah pemudik awal. Dampaknya jelas, potensi desa menjadi tidak termanfaatkan secara optimal sebab kehilangan sumber daya manusia yang berkualitas, serta peningkatan kepadatan di kota yang berimbas pada suburnya masalah-masalah sosial dan lingkungan. Oleh karena itu, melalui masifikasi penumbuhan semangat entrepreneurship, santri diajak untuk turut terlibat aktif dalam usaha memecahkan masalah multidimensional yang mendera bangsa ini.
Geliat semangat penumbuhan jiwa entrepreneurship di kalangan santri tersebut cukup memberi angin segar bagi masa depan perjalanan industri di Indonesia. Saat ini, persentase jumlah wirausahawan kita masih tertinggal dari negara-negara tetangga seperti Filipina dan Vietnam. Hal ini beralaskan pada mindset generasi muda yang cenderung berorientasi pada upaya “mencari kerja” guna dapat mencukupi kebutuhan. Kebanyakan di antara mereka cenderung enggan untuk menggeluti dunia wirausaha dengan berbagai alasan seperti masalah modal dan risiko kerugian. Dengan adanya upaya pengembangan dan penumbuhan kewirausahaan dengan santri sebagai aktor utamanya ini, stigma buruk itu bukan lagi menjadi masalah serius.
Bila angka persentase santri yang hampir menyentuh kisaran tujuh persen dari total seluruh populasi nasional tadi mampu diberdayakan menjadi para wirausahawan muda, dalam sepuluh tahun kedepan, NU bisa tampil lebih kemlinthi. NU tak lagi harus ikut-ikutan nambang dan memasang kiainya di hadapan media guna melancarkan berbagai silat dan dalil pembelaan. Setidak-tidaknya, dalam hal yang lebih mendasar, pesantren-pesantren NU dapat lebih “layak” dalam menunjang aktivitas belajar-mengajar santrinya. Sehingga, tak lagi terdengar cerita gudiken sebagai tanda masuknya ilmu, karena pesantrennya telah punya klinik kesehatan, sanitasi yang baik, serta kebersihan yang terjaga. Sungguh asyik bukan jika anak cucu kita kelak nyantri di pesantren seperti itu?
Editor: Ihya Ulumuddin






Tinggalkan Balasan