Malam itu, layar YouTube menyala seperti jendela kecil menuju dunia lain. Di luar, angin menggesek daun-daun pisang di samping rumah, sementara saya duduk sendirian dengan secangkir kopi yang mulai dingin. Dari layar itu muncul seorang lelaki berambut panjang dengan wajah yang tampak seperti menyimpan ribuan cerita. Orang-orang mengenalnya sebagai Emha Ainun Nadjib—biasa disapa Cak Nun.
Saya tidak mengenal Cak Nun dari bangku kuliah. Tidak pula dari kitab filsafat yang dijejali istilah rumit. Saya memahami sosoknya dari gelak tawa yang dikemas dalam Sinau Bareng. Dari aktivitas belajar bersama tersebut, Cak Nun mengubah forum ribuan orang menjadi seperti gardu ronda kampung: hangat, cair, namun penuh makna.
Pada forum bernama Maiyah, orang-orang duduk lesehan tanpa sekat. Sandal berserakan. Kopi berpindah dari tangan ke tangan. Asap rokok naik perlahan ke udara malam. Dalam komunitas ini, tidak ada yang menggurui; semua orang, termasuk pemateri, duduk setara untuk saling bertukar pikiran, merenung, dan mencari solusi atas persoalan hidup bersama.
Kelompok musik atau gamelan KiaiKanjeng yang mengiringi setiap acara Sinau Bareng mengalun lirih seperti suara angin yang tersesat di pematang sawah. Mereka membawakan musik lintas genre dari selawat, campursari, hingga musik modern yang lirik dan aransemennya sarat akan nilai-nilai filosofis, dakwah, dan kritik sosial. Tidak ada kemewahan panggung. Tidak ada jarak antara pembicara dan jemaah. Semua terasa seperti keluarga yang sedang berkumpul selepas panen.
Lalu, Cak Nun mulai berbicara. Aneh sekali. Lelaki itu tidak membuka acara dengan teori yang membuat dahi mengernyit. Ia tampil dengan cerita-cerita kecil yang terdengar seperti obrolan di warung kopi. Melalui cerita-cerita orang pinggiran, ia mengajak jemaah Maiyah masuk ke lorong perenungan.
Memang, Cak Nun kerap melontarkan analogi yang terkesan ngawur. Jemaah pun tertawa sebelum memahami maksudnya. Namun, di situlah letak daya sihirnya. Ia seperti penjual cilok yang diam-diam mengerti filsafat, atau seperti petani yang tahu rahasia hidup lebih baik daripada para profesor.
Saya masih ingat suatu malam ketika Cak Nun bercerita tentang orang Madura. Wajahnya begitu santai. Jemaah mulai menyimak secara saksama, seolah tahu akan ada ledakan tawa. “Orang Madura itu,” katanya pelan sambil tersenyum, “kalau marah bikin orang takut. Tetapi, kalau bercanda juga bisa bikin orang sakit perut.” Forum langsung berguncang oleh tawa.
Cak Nun lalu mengisahkan orang Madura yang naik motor tanpa spion, tanpa helm, melaju santai di jalan raya seolah dunia ini milik sendiri. “Bukan karena tidak takut jatuh,” katanya lagi sambil menahan senyum, “tapi takut jatuhnya tidak ada yang melihat.” Malam pun pecah. Orang-orang tertawa ger-geran. Sebagian menepuk bahu jemaah di sebelahnya karena tidak kuat menahan geli.
Jamak dimaklumi, Cak Nun tidak pernah berhenti pada kelucuan. Di balik candaan itu, ia sedang berbicara tentang watak manusia, yaitu keluguan orang Madura yang hidup apa adanya. Kerasnya kulit luar ternyata menyimpan ketulusan seperti tulusnya karang yang menjaga pantai dari amukan ombak. Di tangannya, stereotip berubah menjadi media untuk memahami manusia. Itulah mengapa humor Cak Nun terasa berbeda.
Dengan canda dan tawa, Cak Nun tidak ingin ada orang merasa jemawa. Ia menuntun semua orang merasa sama-sama manusia: duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Bagi Cak Nun, semua manusia sama-sama rapuh, sama-sama sering tersesat dalam hidup, dan sama-sama suka menertawakan diri sendiri.
Cak Nun pun tak jarang menertawakan bangsanya sendiri dengan seni obrolan yang amat sederhana. Pernah suatu malam beliau berkata, “Di Indonesia ini, bila ada masalah, kambing lebih sering dicari daripada solusi.” Orang-orang pun tertawa lepas. Beberapa detik kemudian, suasana mendadak sunyi. Tawa itu diam-diam berubah menjadi cermin. Semua orang seperti melihat dirinya sendiri di sana.
Begitulah cara Cak Nun membangun kesadaran. Ia tidak menohok kebebalan manusia dengan kemarahan. Bahkan, ia mengetuknya pelan-pelan dengan tawa. Sangat boleh jadi, itulah mengapa ribuan orang rela duduk dalam kegiatan Sinau Bareng hingga dini hari. Mereka datang bukan hanya mencari jawaban, melainkan mencari keteduhan. Di situ, orang kecil tidak merasa dikecilkan, dan orang pintar tidak merasa paling pintar.
Di kala orang mudah tersinggung hanya tersebab perbedaan pendapat, Cak Nun mampu membuat NU, Muhammadiyah, santri, abangan, termasuk mereka yang berbeda keyakinan, duduk bersama semalaman tanpa curiga satu sama lain. Candaannya melampaui sekat-sekat yang sering kali membuat manusia lupa caranya menjadi saudara.
Saya lantas berpikir, mungkin negeri ini terlalu lelah oleh amarah. Daratan dan lautan Indonesia begitu sesak oleh suara-suara yang ingin menang sendiri. Media sosial dipenuhi orang-orang yang gemar saling mencaci, seolah kebencian adalah cara instan untuk terlihat benar. Di sela-sela kebisingan itu, Cak Nun hadir seperti lampu teplok di gardu kampung: cahayanya kecil, tetapi cukup untuk membuat orang tetap bisa melihat wajah sesamanya.
Dengan menertawakan hidup ala Cak Nun, saya belajar satu hal penting bahwa manusia terkadang lebih mudah menerima kebenaran melalui tawa daripada lewat bentakan. Tawa yang lahir dari ketulusan tidak pernah melukai. Ia justru membuka pintu hati yang selama ini terkunci oleh kesombongan diri.
Editor: Farhan Azizi






Tinggalkan Balasan