Iklan - Scroll ke bawah
Balai Pikir

Bangku

Seorang perempuan sedang duduk di bangku taman ketika aku tiba. Dia melirik sebentar lalu seperti biasa menggeser tubuhnya sedikit untuk memberiku ruang. Aku tersenyum, tetapi dia hanya menatap lurus ke depan sembari menabur remah-remah roti. Burung-burung merpati berdatangan, hinggap di atas rerumputan dan mematuk remah-remah roti di sekitar kami.

“Sofia,” aku menggumamkan nama istriku itu. “Maaf, aku terlambat.”

“Bahkan burung-burung ini lebih setia,” balasnya. Ada dengkus kecil di balik kata-katanya yang nyaris dibawa angin.

Aku tertawa. “Tapi aku tetap datang, kan?”

Dia menatapku. Rambut ikalnya yang hitam meliuk dikibas angin yang lewat. Merapatkan bibir dan membesarkan kedua bola matanya yang jernih, dia mengatakan sesuatu, dan menurutku itu sebuah kebiasaan unik.

“Aku hampir habis dimakan semut di sini,” ujarnya.

Tawa kecilku berderak lagi. Menggeser tubuh, aku memendekkan jarak antara kami. Setelah ekspresi di wajahnya dan sebuah kalimat aneh, aku tahu harus berbuat apa.

Merogoh saku celana, aku mengambil permen kopi kegemaran Sofia yang aku beli di toko dalam perjalanan menemuinya. Akan tetapi, permen yang sempat kugenggam itu jatuh ke rumput. Seseorang telah menepuk bahuku dari belakang.

Dadaku gemuruh, aku menoleh dan meneriaki pemuda yang mengenakan seragam keamanan itu. Berdiri dengan tubuh membungkuk ke arahku, dia menegaskan suaranya.

“Pak Sam memarahi pengunjung lagi, ya.” Pemuda yang kulitnya kemerah-merahan itu menatapku lalu menarik napas dalam.

Kutolehkan pandangan ke arah istriku, tetapi perempuan berambut ikal itu sudah tidak duduk lagi di sebelahku. Dia tidak ada di sana seakan-akan gerombolan semut benar-benar telah habis memakannya tanpa sepengetahuanku.

Di samping bangku berdiri seorang gadis yang meletakkan kedua tangan ke dada. Berbicara dengan suara tipis dan tinggi, si gadis mengadukanku pada petugas taman itu.

Petugas taman dan si gadis sedang membicarakan sesuatu yang tidak kuingat, katanya aku baru saja mendorong gadis itu hanya karena dia duduk di bangku taman.

Orang macam apa yang mendorong seorang perempuan hanya karena sebuah bangku taman? Aku tidak pernah membayangkan bahwa diriku telah melakukan hal yang keji.

Bagaimanapun aku menjelaskan diri, petugas taman tidak peduli. Tampaknya aku tidak begitu meyakinkan dibanding si gadis yang masih memegangi dadanya.

Petugas membawaku menjauh dari bangku taman dan gadis itu, tepatnya aku merasa sedang diseret pergi.

***

Seorang perempuan muda duduk di bangku ketika aku baru tiba di taman. Matahari sudah hampir pulang ke sarangnya, dan angin berembus lebih kencang dari sore-sore sebelumnya. Berlari kecil, aku menuju bangku itu sembari menggumamkan namanya, Sofia.

Baca Juga
Amin yang Sunyi

Dia menatapku yang sedang terengah-engah. Mata bulat yang bening menodongku sehingga aku gelagapan mencari alasan.

“Maaf, ya, aku terlambat lagi. Perjalanan pulang macet dan—”

“Dan aku hampir saja dibawa angin pergi mengembara.” Dia memotong ucapanku.

Aku terkekeh sembari duduk di sebelahnya. Aku mencari kata-kata untuk membujuk, tetapi tampaknya kata-kata telah berlari jauh dari kepalaku.

Sofia menabur remah roti dan merpati bersegera mematuk di permukaan rumput. Kami memandangi burung-burung yang sibuk, sesibuk hatiku yang mencari cara agar dimaafkan olehnya. Sayang sekali, tentang perasaannya aku tidak mengerti. Dia tidak mengumpat, tidak menjambak, tidak juga pergi meninggalkanku, kecuali tatapan yang selalu sama dan kata-kata yang tidak pernah lumrah untuk percakapan sepasang suami istri.

Tetapi aku selalu tahu apa yang membuat suasana menjadi cair kembali, dan setelah itu kami akan duduk bersisian di bangku taman, saling berpegangan tangan.

Merogoh saku celana, aku menggenggam permen kopi yang selalu kusiapkan. Aku tidak menawarkan permen itu dengan membuka telapak tangan, tetapi menyuapkan sekeping ke mulutnya. Sofia akan mengulum permen lantas tersenyum.

Menggenggam tangannya, aku mengajak dia berkeliling. Sore itu cerah, meskipun angin sedikit nakal memainkan rambut Sofia sehingga terlihat seperti gelombang di permukaan laut.

Saat kutarik tangannya, sebuah telapak tangan mendarat di pipiku. Pipiku seperti disetrum atau disengat ribuan lebah, tubuhku limbung sehingga aku tersungkur di rerumputan. Pemilik telapak tangan itu seorang laki-laki muda bertubuh kekar.

“Tua bangka mesum!”

Mengangkat telapak tangan hendak menamparku lagi, orang itu memaki dengan kata-kata kotor yang bahkan belum pernah kudengar diungkapkan oleh orang lain.

Aku tidak suka istriku melihat pemandangan memalukan ini, jadi aku segera bangkit dan mengarahkan tinju. Tetapi si Tangan Besar terlalu cepat, dia menangkis dan tulangku seperti membentur dinding beton.

Baca Juga
19.03

Dari arah samping, ketika aku ingin memulai serangan baru, pemuda berseragam yang kulitnya kemerah-merahan datang dan segera menghalau si Tangan Besar yang hendak menarik kerah kemejaku.

“Lagi-lagi Pak Sam berulah.” Tarikan napas pemuda itu teramat dalam. Memijit keningnya, pemuda itu mengeluarkan banyak kata-kata, tetapi di mataku mulutnya hanya seperti daun jendela yang ditampar angin berkali-kali. Aku tidak berminat pada kata-kata itu.

Mengganggu? Aku memandangi istriku yang ternyata sudah tidak duduk di bangku itu lagi, tetapi seorang perempuan muda bermata sipit dan berambut lurus yang separuh badannya bersembunyi di balik punggung si Tangan Besar.

Pemuda berkulit kemerahan dan si Tangan Besar berbicara, kudengar si Tangan Besar marah-marah karena aku telah menyentuh mulut dan memegang tangan istrinya.

Aku diajak pergi oleh si Pemuda, tepatnya aku diusir dari taman. Kemudian dia menelepon seseorang untuk menjemputku. “Cepat, sekarang!” begitu katanya.

Orang yang menjemputku dua laki-laki memakai seragam putih dengan sebuah minibus. Mereka membujukku dengan permen kopi.

“Kita pulang, ya.”

“Bagaimana dengan Sofia?” kataku.

Aku takut Sofia mengira aku meninggalkannya di taman. Selama ini aku jarang punya waktu untuknya, aku sibuk bekerja sepanjang hari. Pada setiap janji pertemuan, aku selalu terlambat bahkan kadang kala tidak sempat datang.

Sofia yang kesepian memang suka menghibur diri di sebuah bangku taman dan menabur remah roti untuk merpati. Dia tidak pernah berada di sudut lain, kecuali bangku itu, seolah-olah bangku taman itu telah mematrinya.

Sofia kesepian karena sepanjang pernikahan kami tidak dikaruniai keturunan. Sofia sering memintaku mencari perempuan lain. Katanya, perempuan yang tak mampu memberi anak hanyalah separuh istri. Aku tak pernah mengerti mengapa ia berpikir begitu. Bagiku, akulah yang tidak utuh tanpa Sofia.

“Ibu Sofia sudah pulang,” jawab salah seorang dari mereka.

“Dia tidak mungkin pulang ke rumah sekarang,” kataku yakin. “Sofia hanya pergi sebentar, barangkali ke minimarket di seberang taman.”

Sembari menggenggam tanganku, laki-laki berbaju putih itu melanjutkan dengan sesuatu yang tidak pernah kuketahui pernah terjadi. Dia berkata dengan hati-hati, seolah-olah itu sebuah berita yang akan mengguncang seluruh hidupku.

“Ibu Sofia sudah berpulang pada Tuhan, 30 tahun yang lalu.”

Aku tertawa kecil.

“Bagaimana mungkin? Besok Sofia menungguku lagi di bangku taman seperti biasa.”

“Pak Sam…” ucapan petugas itu lemah, lalu buyar di udara, dan tenggelam oleh deru jalanan bersama desah napasnya yang panjang.

Di luar jendela mobil, bangku taman itu semakin jauh. Aku takut Sofia kembali ke sana sementara aku tak ada, dan dia menungguku sendirian.

Makassar, 2026.


Editor: Farhan Azizi

Penulis

Avatar Diana Rustam

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *