Judul tulisan ini sebenarnya adalah pertanyaan saya kepada diri sendiri. Yang jawaban pertanyaannya, tidak akan terjawab walaupun saya menulis dengan alasan apapun. Menjaga kesehatan ingatan, melatih logika, menyebarluaskan pengetahuan, atau bahkan mendapatkan keuntungan ekonomi dan sebagainya dan seterusnya, misalnya, mustahil dapat menjawab pertanyaan “mengapa menulis?”
Dalam catatan yang masih ada sampai saat ini, lima tahun lalu saya menuliskan kalimat seperti ini “Wujudkan cita-cita menjadi penulis buku atau artikel-artikel di media massa mainstream di indonesia”. Tapi, apa yang melatari saya menulis kalimat itu saya tidak ingat lagi. Yang pasti, itu tulisan yang tersimpan di catatan, yang tidak sama sekali ingin saya ubah. Saya akan membiarkan catatan itu sampai kapanpun, bahkan sampai jawaban atas pertanyaan dalam judul tulisan ini, saya rasa sudah ditemukan.
Alasan di balik mengapa saya menuliskan kalimat itu memang benar-benar sudah musnah dari ingatan. Sekalipun membuka kembali memori foto-foto di tahun 2021, ingatan itu tetap tak bisa kembali. Nafsu ketika itu benar-benar besar, tak tertahan oleh apa pun. Semua buku, baik yang berhubungan atau tidak dengan minat saya, saya beli. Entah tujuannya memastikan pikiran agar jatuh tegak lurus dengan tindakan sehingga menjadi suatu kenyataan atau ada tujuan lain, sungguh saya tidak mengingatnya—hanyalah waktu yang tahu semuanya.
Mungkin seperti itulah sebuah tujuan: meninggalkan, atau kalaupun mungkin memusnahkan, pangkalnya. Padanya tertanam obsesi besar (baca: kepentingan). Sampai kita lupa, ketika kita sudah melewatinya.
Sekecil-kecilnya tujuan tak membawa kita pada apa yang di sini hendak saya sebut sebagai “rahim ingatan”. Ia adalah tempat awal manusia sebelum menjadi. Apa yang kita lakukan di tempat itu sehingga kita keluar membentuk atau menyetujui kesepakatan umum tentang suatu tujuan merupakan peristiwa yang betul-betul kita lupakan sama sekali.
Padahal di dalam dan pada rahim itu hidup atau tidaknya kita diperhitungkan. Seandainya rahim itu adalah tempat kita bermula, di manakah wujudnya setelah kita dewasa? Mungkin sebagian akan menjawab seorang Ibu karena dalam dirinyalah tersedia tempat itu. Namun, saya ingin berbeda, bentuknya setelah kita dewasa adalah tubuh kita sendiri. Tubuh inilah yang menjadi pangkal dari tujuan. Hanya saja tidak tubuh fisik belaka, tetapi jiwa maupun hati.
Kemerdekaan individu adalah yang paling asasi dari hidup manusia. Tetapi yang tak bisa dikorupsi oleh unsur lain di luar individu manusia hanyalah jiwa dan hati. Selain dari pada dua itu sangat mudah dikendalikan atau dirampas secara paksa oleh pihak lain. Misalnya, pikiran kita akan dengan mudahnya diarahkan untuk sepakat terhadap sebuah ideologi tertentu melalui beragam strategi, rekayasa, doktrin, atau cara tipu muslihat. Tindakan, juga sama: sama sekali mudah untuk diatur menggunakan kekuatan non fisik seperti norma, tata tertib, peraturan dan seterusnya, ataupun fisik seperti militer atau sejenisnya.
Pada intinya segala sesuatu, baik itu harta maupun tahta dapatlah musnah, atau dapatlah dirampas secara tidak paksa ataupun paksa. Untuk itu, tiada bermaknalah tujuan yang semu itu.
Adapun hati dan jiwa, betapapun pikiran dan tindakan terkekang, harta dan tahta, atau semuanya yang lain dari itu yang kita punya, keduanya akan tetap merdeka. Oleh karenya, “mengapa menulis?” merupakan pertanyaan yang tidak akan pernah terjawab sampai kapanpun selama tujuan yang menjadi titik akhir darinya. Namun ketika pertanyaan itu dikembalikan kepada pangkal, maka setidaknya adalah apa yang disebut dalam tulisan ini dengan rahim ingatan akan terawat dan terjaga seperti asalnya: cenderung pada kebenaran.
Editor: Andi Surianto






Tinggalkan Balasan