Kertas Sebelum Menjadi Burung
Sebelum memiliki sayap,
ia hanya selembar kertas
yang terbaring di atas meja.
Tak tahu ke mana langit,
tak tahu bagaimana terbang.
Lalu tangan mulai melipatnya.
Satu sudut ditundukkan,
satu sisi dipertemukan,
sebagian dirinya disembunyikan
agar bentuk baru dapat lahir.
Ia sempat mengira
setiap lipatan adalah luka.
Hingga pada lipatan terakhir,
ia memiliki sepasang sayap.
Barangkali menjadi diri sendiri
memang kadang terasa seperti kehilangan bentuk lama.
Sebab tidak semua yang dilipat
sedang dihancurkan.
Sebagian sedang
dipersiapkan untuk terbang.
(Tangerang, 13 Juli 2026)
Kertas yang Menjadi Pesawat
Ia tidak dibuat untuk tinggal.
Setelah dilipat menjadi pesawat,
tangan melemparkannya
ke udara.
Untuk sesaat,
ia terbang tanpa tahu
di mana akan mendarat.
Angin membawanya
jauh dari meja
yang dahulu menjadi rumah.
Ia belajar sesuatu:
bahwa terbang
bukan perkara mengetahui tujuan,
melainkan berani meninggalkan
tempat yang sudah dikenal.
Dan ketika akhirnya jatuh,
sayap kertasnya mungkin kusut.
Namun ia pernah terbang.
Bukankah beberapa perjalanan
memang tidak diukur
dari seberapa jauh kita sampai,
melainkan dari keberanian
untuk pertama kali
melepaskan diri dari tangan
yang selama ini menahan?
(Tangerang, 13 Juli 2026)
Kertas yang Menjadi Bunga
Tak ada yang menyangka
selembar kertas putih
dapat mekar.
Ia dilipat berkali-kali,
ujungnya ditekuk,
bagian tengahnya ditekan
hingga hampir kehilangan
kelapangan.
Namun dari lipatan-lipatan itu
lahirlah kelopak.
Ia tidak tumbuh dari tanah.
Tidak disiram hujan.
Tidak mengenal musim.
Ia hanya tahu
bahwa sesuatu yang indah
kadang membutuhkan
kesediaan untuk dibentuk.
Maka jika hari ini
hidup terasa terlalu sering
melipatmu,
jangan buru-buru mengira
kau sedang dipatahkan.
Barangkali ada bunga
yang sedang dipersiapkan
di dalam dirimu.
(Tangerang, 13 Juli 2026)
Kertas yang Menjadi Perahu
Ia dibuat dari kertas
yang ringan sekali.
Lalu diletakkan
di atas air.
Air yang bahkan
tidak mengenal namanya.
Perahu itu mengapung
meski tahu dirinya
bukan terbuat dari kayu.
Gelombang kecil datang.
Ia bergoyang.
Angin datang.
Ia menjauh.
Tetapi ia tetap mengapung
selama belum menyerah
kepada air.
Barangkali bertahan
tidak selalu berarti
menjadi sesuatu yang kuat.
Kadang cukup
menjadi sesuatu yang tahu
bagaimana tetap terbuka
kepada arus
tanpa kehilangan
arah pulang.
(Tangerang, 13 Juli 2026)
Kertas yang Kembali Menjadi Kertas
Pada akhirnya
burung itu tak lagi terbang.
Pesawat itu tak lagi melaju.
Bunga itu kehilangan kelopaknya.
Perahu itu basah
dan perlahan tenggelam.
Seseorang membuka
semua lipatan mereka.
Kertas-kertas itu kembali
menjadi lembaran.
Nyaris seperti semula.
Namun garis-garis bekas lipatan
tetap tinggal.
Dan untuk pertama kalinya
ia mengerti:
menjadi bukan selalu
tentang mempertahankan bentuk.
Ada saatnya kita kembali
menjadi diri sendiri
setelah begitu lama
mencoba menjadi sesuatu
yang diharapkan dunia.
Kertas itu memang kembali
menjadi kertas.
Tetapi kini
ia tahu—
di dalam dirinya
pernah ada burung,
pesawat,
bunga,
dan perahu.
Ia pernah menjadi banyak hal.
Dan itu
tidak pernah sia-sia.
(Tangerang, 13 Juli 2026)







Tinggalkan Balasan