Sepeda ontel itu kembali lagi, muncul pagi hari, bersandar di bawah pohon randu di samping rumah. Tidak ada jejak ban di tanah yang basah, tidak pula terdengar suara pagar dibuka, tetapi tiba-tiba saja sepeda itu sudah berada di bawah pohon randu seperti tumbuh dari tanah.
Padahal, pekan lalu Kemal sudah menjualnya pada tukang loak keliling yang kebetulan lewat di lingkungan tempat tinggalnya. Sepeda itu dihargai dua puluh ribu rupiah.
Minggu berikutnya, Kemal mengangkut sepeda ontel tua yang kembali itu dengan mobil ke sebuah pabrik tekstil terbengkalai. Di sana ia meninggalkan sepeda itu dalam bangunan yang plafonnya runtuh, kaca-kaca jendelanya pecah, dan separuh dindingnya jebol. Kiranya sepeda itu akan suka pada hal-hal yang telah ditinggalkan zaman seperti dirinya.
Lantas entah bagaimana, saat bangun pagi, lagi-lagi Kemal menemukan sepeda ontel itu tersandar di bawah pohon randu. Seolah-olah sepeda yang sudah berusia tua itu tidak ingin pergi dari sana. Apakah pohon randu yang rindu? Atau sepeda ontel tua itu yang butuh pohon randu?
Karena harus bekerja, Kemal terpaksa menunda. Ia berencana akan menyingkirkan sepeda ontel tua itu saat libur pekan depan. Ia telah memikirkan sebuah cara yang menurutnya akan membuat sepeda itu tidak akan menemukan jalan pulang.
Sepeda ontel tua itu milik Salim, kakak Kemal, yang meninggal dua puluh tahun lalu. Sepeda itu dahulu dipakai Salim setiap hari untuk berkuliah.
Suatu hari, bel sepeda itu tidak bisa berbunyi di pintu pagar untuk mengabarkan kedatangan Salim saat pulang ke rumah. Belnya rusak dihantam sepatu lars saat demonstrasi mahasiswa di depan istana.
Salim seorang mahasiswa yang hilang. Kabarnya ia diculik oleh sekelompok orang yang tidak dikenal.Berbulan-bulan kemudian, jenazah Salim ditemukan tinggal kerangka di pinggir sebuah danau yang jauh di luar kota, terselip di antara batu-batu besar. Tidak ada penyebab kematian yang pasti dari pihak berwenang.Kasus kematian Salim ditutup karena dianggap tidak ada petunjuk.
Orang yang pernah bersaksi bahwa Salim terakhir kali terlihat bersama sekelompok lelaki, ketika ia didorong masuk ke dalam sebuah minibus berwarna hitam, kemudian hari mengaku tidak tahu apa-apa atau salah mengenali orang.
Setelah kematian Salim, orang tua Kemal hidup dalam kesedihan yang berlarut-larut. Di sisi mereka, waktu seolah terlalu payah untuk mengganti tanggal dan tahun pada kalender. Tetapi, mereka akhirnya belajar untuk tidak menyebut nama Salim keras-keras setelah dua puluh tahun berlalu. Mereka memutuskan untuk membelakangi masa kelam itu dan bersiap melanjutkan hidup karena tidak tahu lagi harus berbuat apa dengan kesedihan yang tidak mendatangkan keadilan.
***
Pagi-pagi sekali, pada sebuah hari Minggu yang sudah ditunggu Kemal, sepeda ontel tua karatan itu telah terikat di bak mobil. Tukang loak yang pernah membeli sepeda itu secara kebetulan melintas dan melihat Kemal yang tergopoh-gopoh hendak berangkat.
“Sepedanya pulang ke rumah, ya? Saya beli lagi.”
Kemal menoleh sebentar.
“Tidak dijual. Dia harus pergi ke tempat baru,” jawab Kemal.
Menyetir dengan buru-buru, Kemal menuju danau di mana dahulu Salim ditemukan. Ia memilih danau itu karena jauh dari kotanya, meskipun mendatangi danau itu sama seperti mengelupas keropeng pada luka yang nyaris kering. Perih.
Menyewa sebuah perahu ketinting, Kemal berangkat sendirian ke tengah danau. Matahari begitu terik.Memandang dari kejauhan, permukaan danau yang sedikit menggeliat karena sapuan angin memantulkan cahaya keperakan.
Kemal mendekatkan wajahnya ke permukaan air danau. Gelap. Cahaya matahari sulit menembus dasar danau itu. Ia hanya melihat pantulan wajahnya sendiri yang bergelombang.
Lamat-lamat bayangan Salim muncul menimpa pantulan wajahnya. Wajah muda dua puluh tahun silam yang segar dan bersemangat.
Setelah termenung lama di atas perahu, Kemal menurunkan sepeda itu perlahan-lahan. Danau menelan sepeda ontel itu yang sedikit demi sedikit hilang dari permukaan.
“Tenggelamlah bersama kenangan yang menyakitkan,” gumam Kemal mengkhianati perasaannya.
Di rumah Kemal tidak menceritakan ke mana ia membuang sepeda itu. Kepada orang tuanya, ia meyakinkan bahwa sepeda itu tidak akan kembali ke rumah dan mustahil bisa kembali.
Wajah kedua orang tuanya menjadi tenang, walaupun beberapa saat kemudian ibunya berkata, “Padahal itu milik Salim satu-satunya yang bisa terus kita lihat, ya. Tapi kalau ada di sini, ibu juga tidak sanggup lihat setiap hari.”
Tidak ada lagi hal-hal tentang sepeda ontel dan Salim yang mereka bicarakan setelah itu. Mereka terdiam, seakan-akan telah menyepakati suatu hal yang tidak perlu dijelaskan. Tarikan napas yang dalam terdengar nyaris bersamaan.
Menyingkap tirai jendela kamarnya saat pagi, Kemal menggeleng kepala. Sepeda tua milik Salim sedang bersandar di bawah pohon randu dalam keadaan basah kuyup dan masih meneteskan air dari tubuhnya.Sepeda itu datang diam-diam, menyelinap di gelap malam seperti mimpi yang mencuri tidur seseorang.
Rupanya sepeda itu selalu menemukan jalan pulang. Seakan-akan angin atau sesuatu yang tidak diketahui begitu setia menuntunnya kembali.
“Kalau kau hendak dikubur bersama Salim, baiklah.” Kemal menggumam putus asa.
Tidak menunggu sampai esok atau minggu berikutnya, hari itu ketika malam belum tua, Kemal mengendap-endap memasukkan sepeda itu ke mobil dan tanpa pamit membawanya ke pemakaman. Ia memastikan bahwa ayah dan ibunya tidak sempat mengetahui kepulangan sepeda ontel itu.
Menunggu sampai larut malam, diam-diam di pemakaman yang sunyi, Kemal merobek makam Salim. Ia memendam sepeda ontel itu di liang yang mengubur kerangka Salim. Kali ini ia yakin bahwa sepeda itu akan betah bersama tuannya.
Malam itu Kemal tidak bisa tidur. Sesekali ia menyingkap tirai jendela dan memandang ke arah pohon randu.Setiap kali melihat tidak ada sepeda di sana, ia mengembus napas lega.
Mencoba tidur dalam posisi duduk dan merebahkan kepala di meja kerja, tepat di samping jendela, Kemal menghadapkan wajahnya pada pohon randu. Dari situ, sesekali ia membuka mata. Dan malam berlalu begitu lama bagi Kemal, seakan-akan pagi enggan datang.
Ketika embun belum juga beranjak dari permukaan daun, suara jeritan tiba-tiba terdengar dari arah samping rumah mendahului kicau burung-burung prenjak yang biasa bertengger di dahan-dahan mangga. Kemal membuka mata secara mendadak, dibangunkan paksa oleh suara itu. Di bawah pohon randu, ibunya berdiri dalam keadaan menangis sembari menatap sepeda ontel yang berlumuran tanah merah lengket dan rantainya dililit akar-akar halus.
“Sepeda ini keras kepala. Seperti keras kepalanya Salim,” keluh Kemal.
Sebelum kematiannya, Salim pernah menulis kesaksian tentang kematian tujuh mahasiswa saat demonstrasi terjadi di depan istana negara. Ia menulis bahwa tujuh kawannya itu bukan mati karena kelelahan, tetapi karena dipukuli aparat keamanan. Keluarga para korban dibungkam dengan ancaman dan teror. Saat itu Kemal meminta Salim untuk berpikir ulang. Ia mengingatkan, apabila orang-orang itu sanggup melenyapkan tujuh nyawa tanpa proses peradilan, maka mereka juga sanggup menghilangkan satu nyawa diam-diam.
Setelah ucapan Kemal, suasana menjadi hening beberapa saat. Mereka hanya mengelilingi sepeda ontel tua itu. Ayah dan ibunya menatap kosong.
“Barangkali dia masih ingin di sini bersama kita,” kata ibunya terisak-isak. Kerinduan pada Salim yang selama ini dipendamnya, tampak terlalu sulit untuk ditahan lagi.
Ayahnya mendekati sepeda itu lalu menggenggam setir erat-erat. “Tidak. Dia hanya ingin kita menghadapi kenyataan. Bukan lari,” ucapnya pelan.
Kemal menduga bahwa sepeda itu mengajaknya menyoal kembali kematian Salim. Memikirkan kepulangan sepeda itu ke rumah, Kemal semakin yakin.
Ia berlari masuk ke kamar, meninggalkan orang tuanya yang terpaku di bawah pohon randu. Mengambil koran bekas yang menerbitkan tulisan Salim yang ia sembunyikan di bawah tumpukan buku-buku lama, Kemal membacanya kembali.
Malam itu wajah Salim muncul bersama kata-kata yang pernah ia tuliskan di surat kabar. Bayangan itu menetap, kata-kata itu menggema, bahkan semakin jelas saat ia mencoba memejamkan mata.
Menatap sepeda itu dari balik jendela kamarnya, Kemal melewati malam panjang bersama kenangan saat-saat terakhir sebelum kematian Salim. Ketika malam semakin malam, ia menemukan sebuah tempat yang datang begitu saja dalam pikirannya. Sebuah tempat yang pernah didatangi Salim dengan semangat menggelora.
Bersejingkat seperti gerimis, Kemal menuntun sepeda tua itu meninggalkan pohon randu. Ia mencoba mengayuh sebagaimana dahulu Salim mengayuh. Tetapi tampaknya sepeda itu telah memiliki kehendaknya sendiri. Sepeda itu melaju dengan sendirinya di jalan yang masih lengang, ketika aroma pagi masih murni, menuju tempat yang hendak didatangi Kemal.
Sepeda itu akhirnya berhenti di depan sebuah pagar tinggi dan kokoh yang mengelilingi gedung megah berwarna putih. Ada bendera berkibar gagah di puncak tiang, di halaman gedung itu. Sebuah gedung yang tampaknya mustahil untuk dimasuki sembarang orang.
Kemal menghela napas, kemudian turun dengan mantap dari sadel. Tepat di depan pagar, Kemal memarkir sepeda ontel tua itu. Lampunya menyala, seperti mata yang memandang tajam tepat ke pintu besar gedung itu. Belnya berdering seperti sebuah seruan yang menuntut untuk didengar.
Tidak ada kata-kata dari mulut Kemal. Kata-kata tidak diperlukan lagi ketika maksud telah dipahami, entah bagaimana ia bisa merasakannya.
Ia meninggalkan sepeda itu sendirian di sana, tetapi sebelum itu, ia menyadari sesuatu.
Bercak-bercak darah segar muncul di setang sepeda seperti getah dari batang pohon yang luka, merembes perlahan, dan menetes jatuh bagaikan rinai hujan.
Sejak hari itu, sepeda ontel tua Salim tidak pernah kembali dan bersandar di bawah pohon randu di samping rumah.
Ketika orang tuanya bertanya, Kemal berkata bahwa sepeda itu telah berada di sebuah tempat di mana seharusnya ia berdiri tegak.
Makassar, 2026.
Editor: Farhan Azizi






Tinggalkan Balasan