Ketika panitia meminta suamiku memimpin doa pembuka, aku sedang menyingkirkan tiga botol minuman keras dari selokan depan rumah.
Botol-botol itu bening, tinggal separuh. Salah satunya masih digenggam seorang pemuda yang tertidur dengan kepala bersandar pada tiang listrik. Dari ujung jalan, enam belas pengeras suara disusun menjulang seperti dinding hitam. Orang-orang menyebutnya sound horeg.
“Aku tidak mau,” kata suamiku ketika dua panitia berdiri di teras.
“Cuma lima menit, Pak Arif,” bujuk Karman, ketua panitia. “Biar acaranya berkah.”
Aku tertawa pendek. Karman menoleh. “Maaf,” kataku. “Saya baru tahu berkah dapat dipesan lima menit, lalu disuruh pulang sebelum musik dimulai.”
Wajah Karman menegang. Ia mengusap tengkuk yang basah oleh keringat. Sejak pagi telepon genggamnya tidak berhenti berbunyi. Pemilik perangkat suara menagih pelunasan, sponsor minuman meminta spanduknya dipasang lebih tinggi, sedangkan penyanyi dari kota sudah dalam perjalanan.
“Saya juga pusing, Bu Mira,” katanya. “Uang muka sudah masuk. Kalau acara batal, panitia harus mengganti. Sebagian uangnya saya talangi.”
Suamiku memandangku, meminta agar persoalan tidak diperpanjang. Aku sudah dua kali meminta akses jalan dibuka karena ambulans desa biasa melewati sana. Jawaban panitia selalu sama: “Hanya sehari, Bu.” Seolah-olah orang sakit dapat diberi pengumuman agar menunda sekarat.
Setelah mereka pergi, suamiku menutup pintu pelan-pelan.
“Ini kampung kita, Mira. Semua orang ingin bergembira.”
“Aku tahu. Tapi tidak begini caranya.”
Ia hendak menjawab, lalu mengurungkannya. Aku mengambil sapu dan kembali ke halaman. Pecahan kaca berkeretak di bawah lidi, sementara cek suara mengirimkan gedebuk ke dada. Dari dalam rumah, suara lemari ditutup lebih keras dari biasanya.
Menjelang malam, kampung menyala. Lampu warna-warni berputar di panggung. Pedagang mainan, penjual gorengan, dan anak-anak memenuhi jalan. Di baris depan, bocah-bocah duduk bersila ketika tiga penyanyi naik. Beberapa ibu segera menyuruh anak perempuannya pulang, tetapi membiarkan anak laki-lakinya tetap menonton. Rupanya rasa malu pun memiliki jenis kelamin.
Suamiku akhirnya berdiri di panggung. Karman menyerahkan mikrofon kepadanya. “Mari kita tundukkan kepala,” kata suamiku.
Untuk beberapa detik, seluruh kampung hening. Para pemuda menyembunyikan botol di balik punggung. Seorang penyanyi menarik ujung roknya. Bahkan pengeras suara yang sejak pagi merasa paling berkuasa mendadak patuh.
Suamiku membaca doa dengan tenang. Ia memohon keselamatan, kerukunan, dan perlindungan bagi anak-anak kami. Sesudah amin terakhir, Karman menerima mikrofon. Ia melirik pemilik perangkat suara yang berdiri di samping panggung, kemudian menatap kerumunan.
“Terima kasih, Pak Arif. Acara kita mulai.” Musik menghantam. Doa yang baru saja naik ke langit seperti dilempar kembali ke tanah.
Aku menemukan Rafi, putra kami yang berumur sembilan tahun, berdiri dekat panggung. Tangannya memegang gelas plastik berisi cairan kecokelatan. Seorang pemuda tertawa sambil mengajarinya menggoyangkan bahu.
“Dapat dari mana?” Aku merampas gelas itu.
“Om itu bilang cuma coba sedikit.”
Baunya pahit dan menusuk. Jemariku mencengkeram gelas hingga bibir plastiknya penyok. Aku melihat Rafi, lalu pemuda yang telah menyelinap ke tengah kerumunan. Sebelum sempat berpikir, kakiku sudah menaiki panggung.
Aku melangkahi kabel dan merebut mikrofon dari pembawa acara. Musik meraung sebentar sebelum teknisi menurunkan volumenya.
“Siapa yang memberi minuman ini kepada anak saya?” Kerumunan mendadak diam. Rafi bersembunyi di belakang tumpukan pengeras suara.
Karman menghampiriku. Suaranya lebih rendah daripada sebelumnya. “Turun dulu, Bu. Kita bicarakan di belakang.”
“Tidak. Anak saya diberi minuman di depan orang banyak.”
“Belum tentu minuman keras.”
Aku menyodorkan gelas itu. “Kalau begitu, minumlah!”
Karman menepis tanganku. Cairan tumpah ke kemejanya. Beberapa orang tertawa. Ia memandangi noda yang melebar di dadanya, lalu menatap pemilik perangkat suara. Lelaki itu mengangkat bahu, seakan urusan panitia bukan urusannya.
“Ibu merasa paling suci?” Karman akhirnya membentak.
“Tidak. Saya hanya tidak menyewa enam belas pengeras suara untuk menyiarkan dosa saya.” Kerumunan bergemuruh. Ada yang bertepuk tangan, ada yang memaki. Suamiku naik dan memegang pergelangan tanganku.
“Cukup, Mira!”
Aku menoleh ke arah Rafi. Anak itu merapatkan tubuhnya ke dinding pengeras suara. Suamiku mengikuti pandanganku. Pegangannya mengendur.
Saat itulah klakson panjang terdengar dari ujung jalan. Sebuah mobil putih berusaha masuk, tetapi badan jalan tersumbat panggung, sepeda motor, dan penonton. Dari jendelanya, Ibu Ningsih melambai panik.
“Pak Wiryo sesak! Tolong buka jalan!”
Musik masih berdentum. Klakson mobil tenggelam di dalam bas. Beberapa pemuda menggeser sepeda motor. Yang lain menarik pagar pembatas, tetapi ruang yang tersisa terlalu sempit. Di kursi belakang, Pak Wiryo terkulai di pangkuan anaknya.
“Matikan suaranya!” teriakku.
Teknisi memandang Karman. Karman memandang pemilik perangkat suara. Sesaat ia seperti menghitung sesuatu—utang, uang muka, atau harga dirinya sendiri.
“Matikan!” Kali ini suamiku yang berteriak.
Karman mengangguk. Listrik diputus. Kampung seperti kehilangan napas. Dalam kesunyian yang mendadak itu, bunyi paling keras bukan klakson atau tangis Ibu Ningsih, melainkan tarikan napas Pak Wiryo yang patah-patah.
Panggung tidak mungkin dipindahkan. Mobil dipandu mundur, lalu memutar melalui jalan sawah yang berlubang. Lampu belakangnya berguncang sebelum lenyap di tikungan.
Tak seorang pun meminta musik dinyalakan kembali. Karman duduk di tepi panggung. Kemejanya masih basah. Pemilik perangkat suara berdiri di depannya sambil menunjuk-nunjuk daftar pembayaran. Karman tidak membalas. Di bawah mereka, anak-anak memunguti uang saweran yang berserakan. Seorang penyanyi menutup bahunya dengan selendang, lalu turun tanpa menatap siapa pun.
Suamiku mendekat. Bekas genggaman tangannya masih merah di pergelanganku. Ia tidak meminta maaf. Ia hanya mengambil gelas plastik dari tanganku dan membuang isinya ke selokan.
“Aku kira diam bisa menjaga kerukunan,” katanya.
“Diam hanya menjaga ketenangan orang yang berbuat salah.”
Dari musala terdengar azan Isya. Tidak ada gelegar sound horeg. Tidak ada tepuk tangan yang memotongnya. Suara itu melintasi jalan, selokan, botol-botol kosong, dan panggung yang kini tampak lebih kecil daripada sore tadi.
Suamiku menggenggam tanganku. “Pak Wiryo bagaimana?”
Aku menggeleng. Telepon Ibu Ningsih tidak dapat dihubungi. Di grup kampung hanya beredar pesan bahwa Pak Wiryo sedang ditangani. Tidak ada yang tahu apakah ia tiba tepat waktu.
“Aku sudah membaca doa tadi,” kata suamiku pelan.
“Itu doa pembuka. Barangkali yang belum dibuka hati kita.”
Ia menunduk. Di panggung, Karman masih duduk sambil memegang kepalanya. Malam itu aku tidak lagi melihatnya sebagai orang paling jahat di kampung. Ia hanya seseorang yang terlalu jauh berjalan bersama sebuah acara, lalu tidak tahu bagaimana menghentikannya.
Pagi berikutnya, kabar tentang Pak Wiryo belum juga jelas. Ada yang mengatakan kondisinya membaik. Ada pula yang mendengar ia dipindahkan ke rumah sakit kabupaten. Panitia mulai membongkar panggung, tetapi pemilik perangkat suara menolak menurunkan beberapa kotak sebelum pembayaran dilunasi. Orang-orang bekerja tanpa saling menatap.
Di selokan, aku menemukan selembar kertas susunan acara. Pada baris pertama tertulis “Pembukaan”. Baris kedua “Pembacaan Doa”. Setelah itu sesi saweran dan pesta hingga selesai. Aku melipat kertas tersebut dan menyelipkannya di bawah salah satu botol kosong yang belum dipungut.
Sejak malam itu aku mengerti, di kampung kami doa tidak pernah benar-benar dilarang. Ia selalu mendapat tempat terhormat—tepat di awal acara, sebelum semua orang sepakat untuk mempersetankannya.
Editor: Farhan Azizi






Tinggalkan Balasan