Di dada Sarinai, bahasa adalah gemuruh air terjun yang terjun bebas dari celah bebatuan Lembah Anai─dingin, murni, dan purba. Namun, di telinga Arkana, bahasa itu tak lebih dari derit pintu tua yang minta diminyaki; berisik, aneh, dan memalukan.
Sarinai adalah sebentuk masa lalu yang dipaksa menetap di sebuah apartemen lantai dua belas di jantung kota yang bising. Raga tuanya kian merapuh, setipis bayang-bayang yang nyaris pudar di bawah pendar lampu neon. Kulitnya melipat-lipat serupa peta perjalanan yang tak lagi dibaca orang. Ia hanya punya satu cara untuk menyapa dunia: dengan bahasa Minangkabau yang kental, yang keluar dari mulutnya seperti aroma rendang yang dimasak berjam-jam─peka, tajam, dan penuh rempah.
“Arkana, lah masiak nasi tu nak. Makanlah, beko sakik paruik kau,” ucap Sarinai suatu sore, suaranya parau tapi penuh penekanan.
Arkana, yang sedang terpaku pada layar gawai dengan jempol yang menari lincah, hanya berdecak. Ia tidak menoleh. Baginya, vokal-vokal yang meliuk dan konsonan yang tertekuk dari mulut neneknya adalah gangguan bagi algoritma dunianya yang serba digital─sebuah anomali di tengah bahasa Indonesia baku dan jargon Inggris urban yang ia agungkan.
“Nenek, Arkana sudah bilang berkali-kali. Pakai bahasa Indonesia saja. Nanti kalau teman-teman Arkana dengar lewat voice note atau saat mereka main ke sini, Arkana malu. Dikira kita ini keluarga dari hutan yang tersesat di rimba beton,” sahut Arkana tanpa mengalihkan pandangan.
Sarinai terdiam. Ia menatap punggung cucunya yang kaku, yang dibalut kemeja oversized ala gadis-gadis kota. Di kepala Sarinai, kata-kata adalah jembatan. Namun, jembatan itu kini terasa rapuh, seolah-olah kayu-kayunya telah dimakan rayap modernitas. Ia ingin bercerita tentang pohon sirsak di belakang rumah mereka di kampung, tentang bagaimana ayahnya─buyut Arkana─mengajarkan cara membaca rasi bintang untuk menentukan musim tanam. Tapi semua itu tersimpan dalam kosakata yang tak punya tempat di ruangan berpendingin udara ini.
“Baso kito tu marwah, Arkana. Kok ilang baso, ilanglah kito,” bisik Sarinai lirih, nyaris menyerupai desis angin di sela jendela kaca.
Arkana hanya memutar bola mata. Baginya, marwah adalah jumlah pengikut di media sosial, dan “hilang bahasa” hanyalah konsekuensi logis dari sebuah kemajuan. Ia adalah generasi yang percaya bahwa identitas bisa dibeli di gerai kopi ternama atau diunduh lewat aplikasi.
***
Bulan-bulan berlalu dalam ketegangan yang sunyi. Apartemen itu menjadi saksi bisu dua dunia yang bertabrakan tanpa pernah benar-benar bersentuhan. Sarinai semakin sering duduk di balkon, menatap hutan beton yang tak pernah tidur. Ia seperti burung yang lupa cara berkicau karena tak ada lagi langit yang menyahut.
Suatu malam, Arkana pulang membawa beberapa teman kuliahnya. Mereka adalah anak-anak kota dengan gaya hidup serba instan dan tawa yang memekakkan. Di tengah keriuhan itu, Sarinai keluar dari kamar dengan daster batiknya yang pudar, membawa nampan berisi pisang goreng yang masih mengepul.
“Makanlah, kawan-kawan Arkana. Angek-angek ko, rancak bana untuak camilan,” kata Sarinai dengan senyum tulus yang memamerkan deretan giginya yang mulai jarang.
Ruangan itu mendadak hening. Salah satu teman Arkana, seorang gadis berambut pirang balayage bernama Clarissa, tertawa kecil. “Arkana, nenek lo ngomong apa, sih? Lucu banget logatnya, kayak dubbing film silat zaman dulu!”
Wajah Arkana memerah seketika. Panas menjalar hingga ke ujung telinganya. Ada rasa sesak yang menghimpit dadanya─perpaduan antara kasih sayang yang terpendam dan rasa malu yang meluap karena merasa terbongkar asal-usulnya yang dianggap tidak estetik.
“Nenek, masuk kamar saja! Sudah malam!” sentak Arkana, suaranya lebih tajam dari yang ia maksudkan.
Sarinai tersentak. Nampan di tangannya goyah. Ia menatap Arkana, bukan dengan kemarahan, melainkan dengan sepasang mata yang tiba-tiba kehilangan cahaya─seperti pelita yang kehabisan minyak. Ia mengangguk pelan, meletakkan nampan itu di meja dengan tangan gemetar, lalu berbalik menuju kamarnya tanpa sepatah kata pun. Langkah kakinya yang menyeret di lantai granit terdengar seperti rintihan panjang yang tak berujung.
***
Sejak malam itu, Sarinai berhenti bicara. Benar-benar berhenti. Kesunyian di apartemen itu kini bukan lagi sebuah ketegangan, melainkan sebuah duka yang mendahului takdir.
Seminggu kemudian, diagnosis dokter jatuh serupa palu yang dingin: stroke iskemik. Sarinai selamat, namun sebagian tubuhnya lumpuh, dan yang paling fatal, pusat bicaranya terserang. Ia mengalami afasia.
Di ruang perawatan yang didominasi warna putih pucat dan bau antiseptik, Arkana duduk di samping ranjang. Sarinai terbangun, matanya bergerak-gerak gelisah.
Mulutnya terbuka, mencoba membentuk kata-kata, namun yang keluar hanyalah suara erangan yang pecah. Lidahnya, yang dulu begitu lincah menenun pepatah-petitih, kini kelu dan kaku seperti dahan mati.
“Nenek mau apa? Air?” tanya Arkana cemas.
Sarinai menggeleng. Matanya menatap langit-langit, lalu beralih ke Arkana. Ada kesedihan yang begitu dalam di sana, seolah-olah ada sebuah perpustakaan besar yang terbakar dan ia tak bisa menyelamatkan satu lembar halaman pun.
Arkana mencoba mengajaknya bicara dalam bahasa Indonesia yang paling halus. “Nenek harus kuat. Nanti kita pulang ke apartemen, Arkana janji akan sering ajak Nenek jalan-jalan ke taman.”
Namun, Sarinai hanya menatapnya dengan pandangan kosong. Arkana mulai menyadari sesuatu yang mengerikan: ia tidak hanya kehilangan suara neneknya, ia kehilangan akses menuju sebuah peradaban. Ia kehilangan kamus hidup yang selama ini ia abaikan.
Di hari ketiga, saat senja mulai membasuh jendela rumah sakit dengan warna jingga yang getir, Arkana teringat sesuatu. Ia mengambil ponselnya, mencari rekaman suara lama yang pernah ia rekam secara tidak sengaja saat neneknya sedang mengomel di dapur atau sedang melantunkan bait-bait tua saat menjahit baju Arkana yang robek.
Ia menemukan sebuah rekaman singkat berdurasi tiga menit. Suara Sarinai sedang bersenandung sebuah indang tua.
“Lintuah lah hati dek nan lamo…kok ilang nan nampak, nan batin janlah lupo…” (Luluhlah hati oleh yang lama… jika hilang yang tampak, yang batin janganlah lupa).
Mendengar suara itu, air mata Arkana luruh tanpa bisa dicegah. Ia baru menyadari bahwa selama ini ia telah membuang permata demi mendapatkan kerikil yang berkilau. Ia telah menganggap bahasa daerahnya sebagai beban, padahal itulah akar yang menahannya agar tidak limbung diterjang badai kota.
Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Sarinai. Dengan lidah yang kelu, ia mencoba mengingat kembali kata-kata yang dulu selalu ia bentak agar tidak diucapkan.
“Amak…” bisik Arkana. Ia memanggil neneknya dengan sebutan yang biasa dipakai di kampung, yang juga merupakan panggilan kesayangan ibunya dulu. “Amak, maafkan Arkana. Jan diam se Amak… Arkana nio danga carito Amak.” ( Nek, maafkan Arkana. Jangan diam saja, Nek. Arkana ingin dengar cerita Nenek).
Mata Sarinai bergetar hebat. Sebutir air mata jatuh dari sudut matanya yang keriput, membasahi bantal putih yang kaku. Ia mencoba menggerakan jarinya, menyentuh punggung tangan Arkana yang selama ini terasa begitu jauh meski berada di satu ruangan.
Arkana tersedu di pelukan tangan ringkih itu. Ia menyadari bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa adalah rumah tempat jiwa bernaung. Bahasa adalah cara seseorang melihat Tuhan, mencintai sesama, dan memaknai kematian. Saat ia membiarkan bahasa Minang itu memudar dari hidupnya, ia sebenarnya sedang merobohkan rumah tempat jiwanya seharusnya pulang.
***
Minggu-minggu berikutnya adalah proses belajar yang menyakitkan sekaligus indah bagi Arkana. Ia mulai membeli kamus bahasa Minangkabau. Ia menelepon kerabatnya di Pariaman, bertanya tentang arti kata-kata yang samar ia ingat. Ia membacakan puisi-puisi yang diterjemahkan secara bebas ke dalam dialek neneknya di samping ranjang.
Sarinai memang tidak lagi bisa bicara banyak. Namun, ada komunikasi baru yang terjalin. Komunikasi melalui getaran, melalui tatapan, dan melalui sisa-sisa kosakata yang kini dijaga Arkana seperti menjaga api terakhir di tengah salju.
Suatu sore, saat Arkana sedang menyuapi neneknya bubur, Sarinai menunjuk ke arah jendela yang menampilkan siluet pegunungan di kejauhan, jauh di luar batas cakrawala kota.
“P-p-pulang…” suara itu sangat tipis, keluar dari bibir Sarinai yang bergetar. Itu adalah kata pertama yang ia ucapkan sejak sakit. Dan ia mengucapkannya dalam bahasa Indonesia, seolah-olah ingin memastikan cucunya mengerti maksud hatinya.
Arkana menggeleng perlahan, matanya berkaca-kaca. Ia memegang tangan neneknya erat-erat. “Kito pulang, Mak. Kito pulang ka kampuang. Arkana ka manjago baso kito di sinan.” (Kita pulang, Nek. Kita pulang ke kampung. Arkana akan menjaga bahasa kita di sana).
Sarinai tersenyum. Senyum itu tidak sempurna karena tarikan otot wajah yang lumpuh, namun di mata Akana, itulah senyum paling puitis yang pernah ia saksikan.
Arkana akhirnya benar-benar membawa Sarinai kembali ke sebuah rumah panggung di tepian danau. Jakarta ditinggalkannya, bersama dengan rasa malu, kesombongan masa muda, dan segala label modernitas yang ternyata hampa.
Di sana, di bawah naungan pohon sawo yang rimbun, Arkana duduk di beranda. Ia tidak lagi sibuk dengan gawai yang menyita nyawanya. Ia mendengarkan desau angin yang bertiup dari arah perbukitan, dan baginya, angin itu kini punya nama. Angin itu bicara dalam bahasa yang dulu ia anggap kampungan─bahasa yang kini menjadi satu-satunya cara baginya untuk tetap merasa utuh sebagai manusia.
Sarinai duduk di kursi roda di sampingnya. Ia tidak lagi bisa bercerita tentang rasi bintang secara lisan, tapi Arkana sudah belajar membacanya sendiri melalui buku-buku tua dan bimbingan tetua di kampung.
Suatu malam, Arkana menulis di sebuah catatan kecil:
“Aku pernah mengira bahwa menjadi modern adalah dengan cara membunuh masa lalu. Ternyata, tanpa masa lalu, masa depan hanyalah sebuah ruangan kosong tanpa pintu. Bahasa ibu adalah kunci pintu itu. Jika kunci itu hilang, kita akan selamanya terperangkap di luar, kedinginan dalam identitas yang pinjaman dan gersang.”
Arkana menatap neneknya yang sudah tertidur lelap dengan wajah yang kini tampak lebih damai. Di keheningan malam yang hanya diisi suara jangkrik, ia membisikkan sebuah janji. Ia akan menulis, ia akan bicara, ia akan menghidupkan kembali setiap suku kata yang hampir mati itu. Sebab ia tahu, di dalam lidah Sarinai yang kini lebih banyak diam, terkubur sebuah peradaban yang tak boleh dibiarkan menjadi abu.
Ia adalah Arkana, seorang perempuan yang akhirnya menemukan bahwa dunia yang paling luas bukan berada di dalam layar ponselnya atau gedung-gedung pencakar langit, melainkan di dalam satu kata sederhana yang diucapkan dengan logat ibunya: Pulang.
Dan pulang itu, dalam bahasa mana pun, rasanya tetaplah sama─sebuah kesadaran untuk memeluk kembali diri sendiri.






Tinggalkan Balasan