19.03

Ilustrasi 19.03

Setiap akhir pekan, entah kenapa, Takumi Saito yang berumur tiga puluh sembilan tahun itu selalu menemukan seekor kucing sabi betina di Stasiun Choshi, berdiri dengan khidmatnya di garis kuning peron dua atau tiga tepat pukul 19.03. Tidak pernah satu detik lebih cepat dan tidak pula satu detik lebih lambat, seolah-olah waktu di dunia ini memang diciptakan hanya untuk mengabdi pada ritual kecil seekor kucing yang telinga kanannya sedikit sobek. Pemandangan itu, entah bagaimana, selalu saja tampak mengagumkan di mata Takumi. Mengagumkan seperti hal-hal yang tidak berguna namun justru karena ketidakbergunaannya itu menjadi satu-satunya yang membuat manusia ingin tetap hidup.

Kucing itu dipanggil Kou-chan oleh seluruh stasiun, dan memang tampaknya seluruh stasiun telah bersepakat secara diam-diam untuk memelihara Kou-chan bersama-sama. Ia bebas tidur di kolong bangku, di atas mesin penjual minuman otomatis yang sudah tidak terlalu dingin, atau di dekat pot bunga plastik yang debunya tidak pernah lolos dari mata petugas kebersihan. Tanpa seorang pun yang berani mengusik tidurnya, seolah-olah mengganggu Kou-chan sama saja dengan mengganggu ketertiban dunia yang sudah rapuh ini.

Kou-chan kerap menyapa Takumi dengan cara yang paling tidak sentimental: menggesekkan tubuhnya yang berbau garam dan ikan—yang selalu diberikan nelayan di mercusuar—ke kaki celana bahan Takumi yang sudah kehilangan kerapihannya, atau melompat dengan ringan yang tidak pantas bagi seekor kucing tua ke bangku peron untuk duduk bersebelahan. Mereka menatap rel yang kosong seolah-olah sedang menunggu kereta yang sama, padahal yang ditunggu Takumi bukanlah kereta, tetapi keberanian untuk tidak menaikinya.

Takumi adalah seorang salaryman di Tokyo, editor di sebuah perusahaan penerbitan yang namanya sendiri tidak penting untuk disebut karena nama perusahaan, seperti nama manusia, akan segera dilupakan begitu ia berhenti membayar gaji.

Setiap Sabtu pagi, dengan jadwal yang juga tidak pernah bergeser seperti Kou-chan, Takumi menaiki Shiosai pukul 07.37 dari Tokyo, tiba di Choshi pukul 09.32, lalu berjalan kaki delapan menit ke Choshi Shiritsu Byoin untuk menjenguk ibunya, Miyako Saito. Ibunya terkena stroke dan kini lebih sering menatap langit-langit daripada menatap anaknya. Lalu, setiap Sabtu pukul 19.00 ia sudah harus kembali berada di Stasiun Choshi, karena kereta terakhir ke Tokyo berangkat 19.45. Apabila ia ketinggalan kereta itu, ia akan terdampar semalaman di kota yang ongkos penginapannya tidak sanggup ia bayar, yang dengan sendirinya akan menambah satu lapis malu lagi di atas malu yang sudah menggunung.

***

Namun hari ini Kou-chan tidak ada.

Pukul 19.00, Takumi sudah berdiri di tepi rel peron dua dan tiga. Stasiun sedang sepi seperti yang ia sukai, kesepian yang ditemani nyala lampu neon dan bau kecap dari pabrik Yamasa atau Higeta di selatan.

Ia tidak datang ke sana untuk menumpang kereta pulang ke Tokyo. Ia datang ke sana untuk menumpang kematian, sebab pagi tadi ia menerima amplop dari kacho yang berisi perintah jitaku taiki, sebuah frasa yang diciptakan oleh orang-orang dewasa untuk mengatakan “mengundurkan dirilah dengan sukarela sebelum kami memecatmu”.

Tentu saja ia harus menerima karena ia telah membuat kesalahan cetak yang fatal pada novel seorang penulis besar. Tuntutan ganti rugi pun muncul, sebuah kecerobohan yang membuat wajahnya terasa panas setiap kali ia mengingatnya. Padahal, selama ini ia selalu bekerja dengan mencurahkan tenaga, pikiran, waktu, dan hatinya. Hanya saja hatinya belakangan ini memang tidak sepenuhnya ada pada naskah itu; hatinya tersangkut di ranjang rumah sakit ibunya. Tetapi tentu saja alasan seperti itu tidak laku di dunia profesional. Di dunia profesional, manusia harus bisa membelah dirinya seperti roti tawar: satu lembar untuk ibu yang sekarat, satu lembar untuk penulis yang marah. Apabila ia tidak bisa, maka ia dianggap tidak layak makan.

Jika ia tidak bekerja, lalu dengan apa ia membayar biaya rumah sakit Miyako yang setiap bulannya mencapai 183.000 yen? Pesangon yang akan ia terima, apabila ia beruntung, dibayarkan tiga bulan gaji setelah dipotong 60 persen, tersisa 121.120 yen. Total yang bisa ia peroleh 363.360 yen, bahkan tak cukup untuk membayar dua bulan tagihan rumah sakit ibunya, apalagi untuk biaya hidup. Setelah itu ia akan menjadi manusia yang secara aritmetika tidak mungkin. Menjadi manusia minus, manusia yang keberadaannya justru mengurangi.

Choshi wa ii ne mengalun dari pengeras suara, eki-melo ceria yang entah dikarang oleh siapa—dan tentu saja orang itu tidak pernah berniat mati di stasiun. Entah mengapa melodi yang riang itu justru mengingatkannya pada Kou-chan, dan begitu teringat kucing itu, dadanya menjadi sesak oleh sebuah kekhawatiran yang tidak pada tempatnya: Apakah Kou-chan sakit? Apakah ia tertabrak mobil di jalan raya yang menuju pelabuhan? Apakah ia terjebak di gudang yang pintunya dikunci pada hari Sabtu? Apakah ia mati kedinginan di suatu tempat sementara tidak ada siapa pun yang tahu?

Baca Juga
Tekukur Ayah

Kekhawatiran itu, yang seharusnya tidak penting dibandingkan dengan rencana besarnya untuk mati, justru menjadi begitu penting sehingga ia membuka matanya yang tadi dipejamkan rapat-rapat. Ia mengurungkan niat untuk melompat, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru stasiun kecil itu, ke kolong bangku yang berbau shoyu, ke loket yang kayunya sudah mengelupas, ke pot bunga plastik yang di dalamnya ada puntung rokok dari pelancong, dan ke mesin minuman yang menjual hojicha yang tidak pernah ia beli.

Akan tetapi, Kou-chan tidak ada di mana-mana, dan ketidakadaan itu tiba-tiba terasa lebih berat daripada keberadaan utangnya.

Dorongan untuk mencari Kou-chan menjadi lebih kuat daripada dorongan untuk mati. Karena itu, dengan perasaan kesal kepada dirinya sendiri yang tidak bisa konsisten bahkan dalam hal membunuh diri, ia meninggalkan garis kuning yang sudah ia pilih sebagai garis akhir, lalu berkeliling stasiun sambil menyebut, “Kou-chan… Kou-chan…” dengan suara pelan karena ia takut mengganggu ketertiban.

Seorang petugas kebersihan yang sudah tua, yang mukanya seperti kertas dengan sisa lipatan-lipatan origami, menyadari gelagat Takumi. Ia bertanya dengan suara yang tidak berniat tahu benar, “Mencari Kou-chan?”

Takumi mengangguk, merasa malu karena ketahuan lebih peduli pada kucing daripada nyawanya sendiri. Padahal sebetulnya petugas itu tidak tahu-menahu tentang apa yang sudah ia rencanakan di garis kuning tadi.

“Kou-chan tinggal sama Watanabe-san di Nakanocho,” kata perempuan tua itu.

“Bukan di sini?”

“Kou-chan suka berkeliling. Dia dipelihara seluruh kota. Hari dingin begini biasanya dia di kotatsu Watanabe-san.”

“Ah, begitu, ya.”

“Kou-chan senang kalau Aniki main ke Nakanocho.”

“Terima kasih,” kata Takumi, lalu membungkuk sedalam-dalamnya. Bukan karena sopan, tetapi karena punggungnya memang sudah ingin melengkung.

***

Ia buru-buru keluar dari stasiun, berjalan lurus ke arah timur, melewati jalur pemukiman.

Nakanocho hanya dua menit dengan Choshi Dentetsu, atau kurang lebih enam menit berjalan kaki. Sebuah stasiun kayu satu lantai dari tahun 1913, berfungsi sebagai kantor sekaligus depo. Stasiun ini terlampau sepi, angin malam yang datang mengentalkan bau karat dari bangkai gerbong tua.

Takumi sampai di sana dengan napas tersengal karena berlari. Entah bagaimana, kakinya bergerak sendiri memaksanya lekas sampai. Dengan hati-hati ia berseru, “Kou-chan! Kou-chan!”

Dari balik pintu geser loket yang kayunya sudah menghitam oleh waktu, muncul seorang lelaki tua. Rambutnya putih tipis, wajahnya lebar dan dilekati jerawat-jerawat tua yang sudah bertahan lama, meski begitu, senyumnya yang lebar menyeimbangi wajahnya.

“Mencari Kou-chan?” tanyanya.

Takumi hanya bisa mengangguk untuk kedua kalinya malam itu, karena kata-kata sudah terasa seperti barang mewah yang tidak sanggup ia beli.

“Ha-ha-ha, Kou-chan sedang menghangatkan tubuh di kotatsu,” ungkap lelaki tua yang rupanya bernama Hiroshi Watanabe itu. “Aniki, hari ini dingin ya. Masuklah, makan ramen dulu, ada nure-senbei juga.”

Dan benar saja, di bawah kotatsu yang kainnya berbau shoyu dan usia, Kou-chan menggulung tubuhnya seperti angka nol. Ia mendengkur dengan suara yang teratur seperti detak jam dinding, dan di atas kotatsu ada piring kaleng berisi tiga buah nure-senbei yang masih utuh.

Watanabe berkata sambil menuang bancha ke cangkir yang retak, “Tadi siang perawat dari rumah sakit mampir, katanya titipan Miyako-san kamar 203, ‘Buat ekiin-san yang merawat kucing.’” Watanabe tertawa. “Aku sudah tua, gak kuat asin. Aniki saja yang makan.”

Takumi menatap senbei itu. Bungkusnya sama persis dengan yang ia beli di konbini di Stasiun Tokyo untuk ibunya. Tiba-tiba ia sadar bahwa ibunya—yang tidak bisa berjalan, yang bicaranya sudah tidak jelas—telah menyuruh seorang perawat. Perawat menyampaikannya pada ekiin-san, dan ekiin-san memberikannya pada dirinya.

Nure-senbei dari rumah sakit yang berjarak belasan menit dari Stasiun Nakanocho itu telah menempuh perjalanan melingkar selama belasan jam untuk kembali padanya berkat Kou-chan.

“Syukurlah dia tidak sakit,” kata Takumi, dan suaranya terdengar seperti suara orang lain.

“Ah, Kou-chan sudah tua, nggak kuat dingin, he-he-he,” kata Watanabe, lalu terbatuk. Dari batuknya, Takumi tahu bahwa lelaki tua ini mungkin sedang demam, mungkin pula besok mati, tetapi malam ini ia masih menyalakan kotatsu untuk seekor kucing.

Dan tiba-tiba, di tengah-tengah uap ramen yang murah, kepala Takumi menjadi jernih dengan cara yang mengerikan. Jernih seperti lampu mercusuar Inubosaki yang menyapu depo setiap sepuluh detik.

Dalam kejernihan itu ia berpikir, dengan rentetan kalimat yang panjang, bahwa apabila tadi ia jadi melompat di peron Choshi dan besok pagi Shiosai pertama menemukan tubuhnya, maka berita akan menulis: “Pria 39 tahun bunuh diri di Choshi”. Japan Railway akan mengirim tagihan baishokin yang besarannya bisa mencapai 20.000.000 yen kepada wali. Dan walinya adalah Miyako Saito, pasien stroke kamar 203 Choshi Shiritsu Byoin, yang tagihan bulanannya saja sebesar 183.000 yen sudah tidak sanggup ia bayar, lalu bagaimana dengan 20.000.000 yen? Rumah sakit tentu akan menahan ibunya karena menunggak, lalu ibunya akan diusir, lalu ibunya akan mati di jalan.

Semua itu terjadi hanya karena ia, Takumi Saito, editor gagal, memutuskan bahwa mati lebih murah daripada hidup. Padahal mati, jika dilakukan di atas rel, adalah barang paling mahal yang bisa ia beli, dan pembelinya bukan dia, melainkan ibunya. Dengan demikian ia hampir saja melakukan oyafuko yang paling sempurna; durhaka dengan tanda tangan Japan Railway di atas materai.

Untung ia teringat Kou-chan, pikirnya. Untung ia khawatir pada seekor kucing tua yang tidak bisa berkata terima kasih. Untung ia kelewatan kereta terakhir karena sibuk mencari sesuatu yang tidak penting, sebab ketidakpentingan itulah yang baru saja menyelamatkan sesuatu yang penting. Dan untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, Takumi merasa malu bukan karena dipecat, tetapi karena hampir saja membuat ibunya membayar kematian yang bahkan tidak ia nikmati.

Ia menaruh sumpit. Kou-chan membuka satu mata, seolah-olah ingin memastikan bahwa manusia di depannya sudah mengerti.

Watanabe menepuk zabuton, “Besok Shiosai pertama 05.10. Tidur di sini saja. Kotatsu muat bertiga, he-he-he.”

Takumi akhirnya merasa semakin akrab dengan Watanabe tua yang gemar tertawa, sehingga ia tidak merasa sungkan untuk menginap setelah menyantap ramen dan meneguk bancha.

Di luar, lampu mercusuar menyapu lagi. Sepuluh detik terang, sepuluh detik gelap. Takumi berhitung di dalam kepalanya.

Terang: 360.363 yen di amplop. Gelap: 183.000 yen di tagihan.

Terang: Kou-chan mendengkur. Gelap: Ibu sendirian di ranjang rumah sakit.

Terang: Watanabe demam tapi masih menuang bancha. Gelap: Rel yang tadi hampir ia peluk.

Takumi memilih terang. Bukan karena terang itu menjanjikan apa-apa, akan tetapi karena gelap itu harganya 20.000.000 yen, dan ia—yang bahkan tidak sanggup membeli nure-senbei tanpa remuk—jelas tidak mampu membayar gelap.

Takumi tidak bilang terima kasih. Ia hanya menyorongkan slip gaji yang bolong ke atas kotatsu, “Buat beli bancha baru. Yang ini sudah retak.”

Watanabe tertawa, dan jerawat tua di pipinya terombang-ambing, “Ngerepotin, ya.”

Otagai-sama da,” jawab Takumi.

Untuk pertama kalinya ia merasa bahwa kata “sama-sama” itu bukan basa-basi, tetapi sebuah aritmetika kehidupan: aku merepotkanmu, kau merepotkanku, impas. Dan selama impas, kita boleh tetap hidup.

(Makassar, 2026)

Glosarium:

  1. Sabi: Warna bulu kucing “karatan” oranye-hitam-putih. Di Jepang dianggap pembawa keberuntungan.
  2. Shiosai: Nama kereta ekspres terbatas milik JR East di Jepang.
  3. Jitaku taiki: Perintah tunggu di rumah dari perusahaan. Gaji dipotong 60%, hanya menerima 40%. Ungkapan halus untuk “mengundurkan diri saja dalam 3 bulan”.
  4. Kacho: Kepala seksi. Atasan langsung yang menyerahkan surat jitaku taiki.
  5. Eki-melo: Jingle pendek 5-7 detik yang diputar saat kereta datang/berangkat. “Choshi wa ii ne” dalam cerita ini adalah eki-melo fiktif.
  6. Baishokin: Uang ganti rugi kepada pihak JR jika melakukan bunuh diri di rel kereta.
  7. Oyafuko: Durhaka kepada orang tua.
  8. Choshi Dentetsu: Kereta lokal 6,4 km dari Choshi ke Tokawa.
  9. Nure-senbei: Senbei basah khas Choshi.
  10. Ekiin-san: Panggilan “Pak petugas stasiun”.
  11. Zabuton: Bantal duduk tipis untuk tamu.
  12. Bancha: Teh hijau murah untuk sehari-hari.
  13. Otagai-sama da: “Sama-sama merepotkan, jadi impas”.
  14. Aniki: Panggilan “abang”.

Editor: Farhan Azizi

Penulis

Avatar Diana Rustam

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *