Kamis Pon, 22 Oktober 2026, lalu, Redaksi Balai Pikir mengunggah cerita singkat di WhatsApp. Isinya bernas, lagi trengginas. Yakni, sebuah seruan untuk hidup wajar. Kata ‘wajar’ di sini jelas merupakan sebuah kata sifat (adjektiva) yang melekat setelah nomina ‘hidup’.
Secara teoretis, kata sifat yang berdiri demikian bekerja sebagai modifier alias penjelas dari nomina yang mendahului. Karenanya, di antara dua kata tersebut, bisa disisipkan kata ‘yang’ sebagai konjungsi penjelas. Alhasil, kita bisa mengira-ira bahwa frasa “hidup wajar” bermakna setara dengan “hidup yang wajar”.
Namun demikian, sebagaimana sering Goenawan Mohamad sebut dalam banyak esainya, makna tidaklah pernah sekalipun tunggal. GM mungkin ada betulnya. Hanya saja, dalam hal ini, “hidup yang wajar” jelas merupakan interpretasi paling mendekati secara sintaksis dari frasa “hidup wajar” tadi.
Lebih dari itu, setidak tunggal apapun makna itu, tetap saja orang tak bisa seenaknya memberi makna—Umberto Eco menyebutnya dengan boros makna (excessive meaning). Karena hal itulah, interpretasi tersebut yang akan menjadi bahasan tulisan ini. Meski sebetulnya, bukan pembahasan linguistik semacam itu persoalan utamanya.
Ihwal paling mengganggu dalam frasa “hidup wajar” terletak pada bagaimana manusia memahami “hidup yang wajar” itu. Balai Pikir memberi sekian teladan, salah satunya yaitu: “Tidak mengagungkan satu sosok, tidak pula mengagungkan satu kegiatan”.
Kedengarannya memang bijak; moderat, independen, sekaligus berpretensi positif pada kemauan untuk terus mengoreksi dan tentu saja: belajar. Lagi pula, hidup yang tidak mengagungkan apapun atau siapapun juga memang memberikan lebih banyak keleluasaan. Orang bisa bersikap A di hari ini, lalu bersikap B di pekan mendatang. Ia tidak mengagungkan sikap apapun, pilihan yang acap dicap dengan inkonsistensi.
Namun, meski sekali lagi mesti kita akui seruan “tidak mengagungkan…” sebagai salah satu indikator “hidup yang wajar”, indikator tersebut setarik pula memantik satu persoalan serius. Sebab, lewat pemahaman akan teladan tadi, orang pun sangsi: ‘Apakah jika orang mengagungkan seseorang atau suatu kegiatan berarti hidupnya tak wajar?’
Bilamana kita mengagungkan tesis “hidup yang wajar” ala “tidak mengagungkan…” tadi, maka kita berkewajiban untuk menjawab: ‘Ya, seseorang yang mengagungkan seseorang berarti hidupnya tidak wajar!’ Jawaban ini pastilah bakal menyulut pertanyaan lanjutan: ‘Apa itu hidup yang tidak wajar?’
Pendekatan negasi semacam itu agaknya terlampau ekstrem untuk diperlakukan dalam memahami hidup. Toh, kata “wajar” sebetulnya terlalu populis, amat menghamba pada penilaian orang banyak, dan juga tak plastis. Misalnya, seseorang dianggap wajar jika menyapa dengan riang orang lain saat mereka berpapasan. Sebaliknya, orang dianggap tidak wajar bila ia tidak tunduk pada kewajaran semacam itu. Namun, di negara-negara Nordik, apa yang kita sebut wajar pada abstraksi tadi justru suatu ketidakwajaran. Sebaliknya, apa yang kita sebut tak wajar malahan mereka sebut efficient. Wajar!
Lantas, apa itu hidup yang wajar? Pertanyaan definitif yang terasa amat falsafati sekaligus berat ini sebetulnya tak mengharuskan jawaban apapun. Hidup, terlepas dari bahwa ia akan dianggap wajar atau tidak, adalah hidup itu sendiri. Tak ada tuntutan asali apapun dalam hidup selain larangan untuk mengganggu hidup orang lain.
Orang mestinya tidak dilarang untuk fanatis atau apatis terhadap sesosok figur ataupun perkara materiil. Orang mesti bebas dengan sebebas-bebasnya. Satu-satunya batasan yang ia miliki hanyalah kebebasan orang lain, seperti sabda para libertarian klasik yang dimotori John Locke. Toh, bukankah 99 persen dari genom kita identik dengan simpanse yang tak berpakaian, berhubungan seksual di tempat terbuka, juga tak pandai tulis baca? Tidak wajarkah saudara dekat kita itu?
Editor: Andi Surianto






Tinggalkan Balasan