Iklan - Scroll ke bawah
Balai Pikir

Tradisi yang Ramah Perempuan, Pekerjaan Rumah yang Belum Usai

Tradisi yang Ramah Perempuan, Pekerjaan Rumah yang Belum Usai

Di sekitar kita, banyak pihak menyembunyikan realitas yang tidak patut dibenarkan. Mereka melakukannya dengan sengaja, bahkan menganggapnya sebagai tradisi.

Novel ini menyinggung tradisi Yappa Mawine atau ‘kawin tangkap’—berasal dan berkembang cukup lama di daerah Sumba, Nusa Tenggara Timur. Pada hari Yappa Mawine, seorang perempuan ditangkap, diculik lantas dirudapaksa oleh laki-laki yang biasanya sudah lama mengincarnya. Kondisi tersebut dialami oleh Magi Diela, perempuan yang belum lama menyandang gelar sarjana pertanian dan bercita-cita ingin memajukan sektor pertanian di kampung halamannya. 

Siapa sangka kemerdekaannya sebagai perempuan direnggut paksa. Ia tak ubahnya properti kaum lelaki—hanya sebagai pemuas hasrat belaka. Lelaki yang menjadi dalang kawin tangkap di sini bernama Leba Ali; kabarnya memang benar menyukai Magi Diela bahkan sejak usia Magi masih kanak-kanak. Malangnya lagi, keluarga—sebagai orang-orang yang paling diharapkan mampu menolong Magi saat itu—malah tidak peduli dengan keadaannya dan memerintahkan supaya Magi melanjutkan saja adat Yappa Mawine yang sudah dilestarikan turun temurun di daerah tersebut.

Magi Diela adalah perempuan merdeka yang berulang kali mencoba melawan segala ketidakadilan yang dialaminya saat tragedi itu terjadi. Setidaknya ada tiga kondisi di mana Magi melakukan perlawanan kepada lelaki mata keranjang yang sudah menindas habis-habisan harga dirinya, juga kepada adat istiadat yang sudah menyesatkan pemikiran orang-orang di tanah kelahiran yang amat dicintainya. 

Mulanya, ketika Leba Ali menculiknya untuk dibawa ke rumah, ia mengerahkan segala upaya untuk kabur. Namun, upaya itu tidak ada hasilnya. Ia digiring paksa menuju bilik Leba Ali, lantas dibius agar tidak memberontak. Saat itulah, Leba Ali melancarkan aksinya untuk menyetubuhi Magi Diela yang sedang dalam ketidaksadaran.

Esoknya, Magi mengirimkan sebuah surat untuk keluarganya—mengabarkan segala kondisi menyakitkan yang dialaminya di rumah Leba Ali. Namun, tidak ada respon apapun yang ia terima. Ternyata, sang ayah ada hubungannya dengan tragedi Yappa Mawine yang menerpa dirinya. Mengetahui hal itu, perasaannya tambah hancur hingga ia bernyali untuk bunuh diri dengan menggigit sekuat tenaga pergelangan tangannya. Tindakan itu membuatnya dilarikan ke rumah sakit. Menurutnya, lebih baik mati daripada menyerahkan seluruh hidupnya kepada lelaki terkutuk seperti Leba Ali. 

Setelah keadaannya cukup membaik, ia dibawa pulang ke rumah oleh keluarganya dan kembali bekerja seperti sebelum tradisi kawin tangkap itu terjadi. Kendati demikian, cibiran orang-orang di lingkungan tempat tinggalnya seketika mencuat. Umumnya, perempuan-perempuan yang sudah menjadi korban ‘kawin tangkap’ akan segera dinikahkan dengan belis atau mahar seadanya, sebab mereka sudah tidak perawan lagi dan tidak ada pula yang mau menikahinya selain pelaku yang menculiknya. Tidak terkecuali ayahnya, juga terus mendesak agar ia segera menerima pinangan Leba Ali supaya tidak disebut-sebut sebagai pembawa sial di kampungnya.

Stigma negatif tersebut terus-menerus dilayangkan kepada Magi. Tidak saja di lingkungan, di dalam rumah yang seharusnya menjadi tempat paling meneduhkan malah menjadi seperti neraka baginya. Hingga sampai pada suatu ketika, Magi pergi dari kampung halamannya ke tempat di mana ia mendapatkan perlindungan dan kekuatan untuk menjalani sisa hidupnya. Tempat tersebut adalah lembaga perlindungan hak asasi manusia atau lembaga swadaya masyarakat bernama Gema Perempuan yang memiliki peran untuk memperjuangkan dan melindungi perempuan korban kekerasan.

Demi apapun, sejujurnya Magi sama sekali tidak rela jika harus menikah dengan Leba Ali; bertatap wajah pun tak sudi rasanya. Sekalipun dikatakan sudah tidak perawan dan pembawa sial perkara tradisi Yappa Mawine yang dialaminya, lebih baik mati daripada bersuamikan seorang Leba Ali yang betul-betul jahanam. Namun, tidak lama setelah ia pergi untuk bernaung di Gema Perempuan, ayahnya jatuh sakit. Pinta lelaki yang telah menghidupinya sejak kecil itu hanya satu, ia menikah dengan Leba Ali dan memutus cibiran orang-orang di kampung yang menganggapnya sebagai pembawa sial.

Dengan berbekal kekuatan juga edukasi yang telah didapatkan dari Gema Perempuan, Magi akhirnya berani mengambil keputusan terpahit yakni, menikah dengan Leba Ali. Akan tetapi, pada kehidupan kedua yang ia jalani bersama Leba Ali ada beberapa strategi yang sudah ia persiapkan dengan matang. Tidak ada beda dengan keadaan saat ‘kawin tangkap’ terjadi, Magi masih mengalami peristiwa rudapaksa yang tidak senonoh juga kekerasan secara fisik di sekujur tubuhnya. Dengan segala kekuasaan yang dimiliki, Leba Ali senang saja menjadikan Magi Diela sebagai samsak hidup. Lantas pada hari yang sudah ditetapkan, Magi—dengan kondisinya yang masih sempoyongan—berusaha untuk kabur lagi dari rumah Leba Ali dengan membawa segala luka dan tubuh yang lebam akibat siksaan dari sang suami.

Kali ini tidak mengadu ke rumah orang tuanya, Magi Diela segera menuju kantor kepolisian dan melaporkan kekerasan seksual yang dilakukan oleh Leba Ali sekaligus menjalani visum guna memperkuat bukti untuk menjerat suaminya tersebut. Keluarga Magi yang tadinya tunduk kepada adat istiadat pun menjadi tersadarkan dan mengecam pihak Leba Ali yang telah berbuat sewenang-wenang kepada putrinya.

Baca Juga
Tekukur Ayah

Tradisi seyogianya dijaga sebagai identitas daerah agar tidak punah. Namun yang penting untuk menjadi bahan refleksi: bagaimana rupa dan bentuk dari tradisi tersebut? Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam karya Dian Purnomo mengingatkan bahwa jika dalam pelaksanaan tradisi itu terdapat penyimpangan nilai moral dan kemanusiaan yang merugikan banyak pihak, sewajarnya harus dikaji kembali mengenai tradisi itu layak atau tidak untuk dilestarikan.

Identitas Buku:

Penulis

Avatar Merita Dewi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *