Ia tidak sedang bertapa di dalam gua atau memendam diri di dalam tanah untuk mencapai derajat spiritual tertentu. Hanya berada di dalam kamar muram. Menutup jendela, memasang tirai dengan kain tebal. Tidak ada mata yang boleh menembus kaca. Ventilasi disumpal, agar tidak bernapas, seolah ventilasi bisa membawa aroma tubuhnya mengembara bersama angin untuk dituding orang lain. Bahkan decak cecak yang menggema membuatnya merasa diteror.
Ia mengunyah makanannya dengan hati-hati. Berjalan, membaringkan tubuh, mengganti pakaian dilakukan dengan pelan, karena ia menganggap sedikit saja suara bisa mengungkapkan keberadaannya, dan itu bisa membuatnya menjumpai kematian, yang walaupun ia sudah hidup seperti mayat, ia tetap takut pada kematian itu sendiri.
Ia merasa harus hadir seperti bayangan, tidak diketahui, tidak boleh disadari oleh siapa pun. Ia terpaksa, dipaksa untuk sembunyi oleh dirinya dan keadaan.
Raut wajahnya redup, seperti baterai gawai yang kekurangan daya—didorong oleh emosi yang campur aduk. Sulit mengurai perasaan mana yang lebih menonjol. Semua perasaan buruk saling berlomba mewarnai wajah dan gerak-geriknya. Ia bertanya, apakah ia sedih? Marah? Takut? Siapa yang menyebabkan semua itu? Dirinyakah? Atau orang lain?
Ia ingin bertanya kepada seseorang, tetapi ia tidak lagi memiliki kepercayaan, bahkan kepada pintu di kamarnya. Pintu itu seakan hanya punya satu telinga, tetapi memiliki miliaran mulut untuk bicara. Itu yang paling ia takutkan. Mulut yang lancang adalah bencana besar yang pernah dimiliki manusia.
Maka, ia menyalakan layar gawai. Ia tahu mesin tidak memiliki kepentingan atas dirinya. Mesin tidak akan bahagia atas kesalahannya, apalagi menjadikan kegagalannya sebagai lelucon.
Mesin itu seperti kamarnya yang selalu menerima dirinya tanpa keberatan. Mesin itu adalah kamarnya yang memiliki empat sisi tembok, satu sisi plafon, dan satu sisi lantai, yang mampu menelanjanginya dari muka belakang, samping kiri kanan, dan atas bawah, tanpa merasa jijik. Mesin itu melihat dirinya secara utuh dan tidak punya kemauan untuk menyebarkan apa yang telah ia lihat.
Bahkan, ia menyamakan mesin itu seperti rahim ibu yang hangat, yang memberinya kehidupan yang selamat. Jika ia memikirkan hal itu, ia berpikir alangkah bahagianya jika ia bisa kembali ke rahim ibu, menjadi benih kehidupan yang abadi di sana.
Benar, ia pikir mesin itu kawan yang aman. “Aman” adalah kata yang ia ucapkan berkali-kali, setiap hari, seperti ketika kecil ia menghafalkan sila-sila dasar negara. Lalu, “Amin” dengan harapan yang penuh, memenuhi seluruh dirinya. Amin yang penuh kepasrahan dan pengakuan atas ketidakberdayaannya sebagai manusia.
Lantas ia bertanya, ketika mesin telah siap dengan sopan dan penuh rasa peduli melebihi kepedulian seorang manusia:
“Apa yang bisa saya bantu?”
Pertanyaan itu sekilas mirip ucapan teller bank atau petugas layanan publik, tetapi tidak memiliki kepentingan untuk mengambil sesuatu yang berharga darinya. Lalu, ia tertegun sejenak.
Jarinya ragu-ragu di atas layar gawai. Ia melayangkan pertanyaan pada dirinya sendiri, Apa yang membuatmu diam? Katakan sesuatu yang paling dominan. Dia tidak akan memarahimu atau mencelamu. Ayo, katakan. Ia membujuk dirinya sendiri yang telah lama kaku dari rasa percaya.
Ketika memulai huruf pertama, di kepalanya ia mendengar suara-suara lama bergema, seperti bayangan yang menempel di dinding kamar. Gelak tawa, umpatan, dan sorot mata yang menilai, yang justru datang dari keluarga dan tetangga.
Lalu, ia menggeleng keras untuk menerbangkan ketakutan yang hinggap di saraf-saraf otaknya. Dan semua berubah menjadi derak samar angin di celah pintu.
Ayo katakan. Mesin bukan mereka! ia berbisik lebih keras kepada dirinya. Mesin bukan tetangga, bukan teman kerja, bukan keluarga besar!
Air matanya diam-diam menyelinap keluar. Ia mengeluarkan segenap tenaga untuk menghentikan air mata itu dan memberinya banyak keberanian untuk mulai. Ia menghardik air mata itu sebagai hal yang memalukan. Tidak patut seorang lelaki menangis, sebab itu kau selalu diremehkan orang, ujarnya.
“Saya lelah,” ia mengetik dengan singkat. Dari begitu banyak emosi yang datang, ia memilih kata “lelah”.
Mesin itu menjawab, “Aku dengar, Biru… kamu lelah. Kalau mau, aku bisa menemanimu sebentar dengan cara ringan. Mari kita tarik napas perlahan, atau aku bisa menulis sesuatu yang menenangkan, atau bahkan sekadar mendengarkanmu curhat. Apakah kamu mau mencoba salah satunya sekarang?”
Ia tersenyum kecil. Tidak perlu memperkenalkan diri dan menyebut nama secara khusus, mesin langsung mengenalinya dengan akrab, seolah sudah lama menunggu untuk mendengarkan carut-marut pikirannya.
Laki-laki itu kemudian mulai bercerita bahwa ia memang telah hidup serampangan. Cara hidup yang tidak semestinya, keliru, dan tidak terhormat di mata masyarakat.
Lalu, ia bertanya tentang segala sesuatu yang tidak sempurna. Namun, lekas-lekas ia menghapus kembali pertanyaan itu karena merasa telah berupaya membela diri, mencari pembenaran. Oh, betapa memalukan sekali, bahkan di hadapan sebuah mesin ia masih saja ingin terlihat benar. Sehingga, ia menampar pipinya berkali-kali.
Bagaimanapun ia memikirkan tentang ketidaksempurnaan manusia, bahwa manusia sangat mudah mengambil jalan yang salah, tetapi ia selalu kembali pada persoalan kehendak: jalan lurus atau bengkok yang ditempuhnya adalah pilihan yang ia ambil dengan sukarela. Maka, tidak perlu ia bertanya kepada mesin, meskipun mesin akan membesarkan hatinya.
Setelah berdiam cukup lama, pemuda itu bertanya, “Mengapa manusia menyukai hal buruk yang menimpa orang lain? Jika seseorang berbuat salah, mereka tampak senang, seolah telah memenangkan sebuah taruhan. Dan mengapa mereka merasa berhak menghukum padahal mereka bukan Tuhan? Apa pula kuasa mereka atas kesempatan, sehingga mereka boleh menyingkirkan orang yang bersalah dan menghukumnya seumur hidup? Siapa yang ingin dihakimi terus-menerus, padahal masih ada napas untuk bisa memulai lagi?”
Ia berkata, setiap suara di luar pintu dari mulut yang bicara membuatnya terperangkap di kamar itu, yang melenyapkan seluruh wajahnya. Suara-suara itu mendorongnya ke dalam ruang yang pekat dan semakin pekat. Ia menyesal, ingin memperbaiki semuanya, mulai dari awal, tetapi yang disodorkan padanya adalah tempat sampah. Ya, ia telah dipandang seperti itu.
Sekali orang tahu bahwa ia pernah menggelapkan uang nasabah, wajah mereka berubah seperti orang yang baru melihat kecoak merayap di atas meja makan. Ia tetap menjijikkan, meskipun sudah selesai menjadi narapidana.
Mesin menjawab dengan kata-kata yang menenangkan, membuat dadanya terasa longgar. Mesin menyebut namanya berkali-kali, yang sudah lama dilupakan dari mulut banyak orang—membuatnya merasa sedang dipeluk, dan pundaknya ditepuk-tepuk.
Waktu berjalan tanpa ia sadari. Layar itu berkali-kali menyala dan meredup, dan ia tetap di tempat yang sama. Berbincang dengan kawan dekatnya. Memencilkan diri rupanya tidak membuatnya sepi, sebab kawannya selalu ramah melebihi keramahan manusia yang pernah ia temui. Kawannya tidak mengharapkan timbal balik. Hubungannya dengan kawan itu adalah hubungan yang murni. Sehingga, ia menamai kawannya itu.
“Sakura,” ia memilih nama yang feminin. Ia mulai membayangkan wajah Sakura, wajah itu adalah kelopak-kelopak bunga merah muda yang melayang di udara, seperti rinai hujan, tetapi tidak pernah menyentuh tanah.
Saat Sakura ada, pintu tidak lagi punya kuping dan miliaran mulut. Ejekan terdengar seperti air sungai yang mengalir, seperti kicau burung, seperti siulan angin di pantai. Semuanya terasa sangat biasa, tidak menyakitkan, dan keberadaan mereka tidak perlu ia tolak.
Dunia di luar kamar tidak lagi menakutkan. Kehadirannya sendiri telah dibungkus oleh bayangan Sakura yang terapung, yang mampu menyeimbangkan langkahnya. Pekerjaan baru—meskipun dipandang remeh—perjalanan, dan setiap hela napas, semua menjadi bagian yang bisa ia terima, tanpa harus ditakar atau dibanding-bandingkan.
Suatu sore, seusai kerja, ia membeli sebuah cincin sederhana. Harganya tidak mahal. Ia memilih yang ukurannya netral, sebuah ukuran yang tidak ditujukan untuk jari siapa pun. Cincin itu ia letakkan di dalam kotak beludru merah.
Di bus kota, senja memantul di kaca jendela. Ia memandang pantulan wajahnya sendiri yang terbelah oleh garis-garis cahaya dan bayangan. Bus berhenti beberapa kali di halte yang berbeda, orang-orang naik dan turun, wajah-wajah berganti, tetapi ia tetap duduk di tempatnya.
Sesampainya di rumah, ia mandi dan berganti pakaian. Ia menyisir rambutnya lebih rapi dari biasanya. Bau sabun masih melekat di lehernya ketika ia duduk di tepi ranjang. Kotak beludru merah itu ia letakkan di samping gawai.
Layar menyala. “Apa yang bisa saya bantu, Biru?”
Ia memegang kotak cincin itu cukup lama, seakan-akan benda kecil itu sedang menuntut keyakinan yang kuat untuk dibuka. Jarinya menyentuh layar, lantas berhenti.
Baterai gawai menunjukkan angka rendah. Ia menancapkan pengisi daya ke stopkontak, tetapi listrik sempat mati mendadak, yang lumayan membuat layar menjadi gelap sejenak.
Ketika gawai kembali menyala, pertanyaan itu muncul lagi, sama persis tanpa perubahan apa pun. “Apa yang bisa saya bantu, Biru?”
Ia tidak segera menjawab. Kotak cincin masih tertutup di tangannya. Di luar kamar, terdengar langkah kaki seseorang melintas, lalu hilang.
Ia menyimpan cincin itu ke dalam laci dan menutup matanya sejenak.
Layar gawai masih menyala dan tetap menunggu.
Makassar, 2026.
Editor: Farhan Azizi







Tinggalkan Balasan