Kepala Bisa Berencana, tapi Perut Menentukan Segalanya

Kita semua tahu, kepala itu tempatnya cita-cita. Di sana, rencana disusun dengan rapi seperti barisan buku di perpustakaan. Kita merancang hidup yang ideal: bangun pagi, sarapan, meneguk kopi, lalu kerja keras demi masa depan gemilang. Intinya, kepala selalu punya argumen logis, atau bahkan visi yang melambung sampai langit ketujuh.
Namun, apakah semua yang di kepala itu sama sekali tidak berjarak dengan kenyataan? Seberapa sering rencana-rencana hebat itu mendadak rontok hanya karena lambung mulai terasa perih?
Dalam hidup yang serba tidak pasti ini, karena yang pasti hanyalah mati, perut kerap berubah menjadi penguasa. Ia seolah raja, tiran, diktator, dan sejenisnya, dan lain sebagainya yang memegang kendali kita. Kutipan motivasi dari buku-buku pengembangan diri, persetan baginya.
Secara logika, jika kondisi perut kita lapar maka kekuatan fisik kita melakukan sesuatu tentu berkurang. Jika kebutuhan perut itu tak terpenuhi, maka rencana-rencana di kepala kita akan abadi sebagai rencana, mustahil terjadi aksi. Dan, ide-ide brilian tentang keadilan sosial atau revolusi industri bisa langsung berganti menjadi bayang-bayang sepiring nasi uduk dengan sambal yang pedasnya pas.
Kita semua sering melihat orang-orang hebat, yang bicaranya tentang strategi besar, mendadak jadi sangat kompromis ketika urusannya adalah “mengisi piring”. Idealismenya mungkin setinggi gunung, tapi kalau dapur sudah tidak mengepul, gunung itu bisa rata dengan tanah dalam semalam.
Banyak orang menyangka bahwa yang menggerakkan dunia ini adalah ideologi atau teknologi. Padahal, kalau kita lihat ke bawah pusar, yang menggerakkan peradaban sebenarnya adalah rasa lapar. Perang meletus, kebijakan dibuat, dan orang-orang rela antre berdesakan, semua karena satu tuntutan yang sama: perut harus tenang.
Kita mungkin merasa sebagai makhluk yang rasional karena punya otak yang kompleks. Namun, pada akhirnya, kita hanyalah hamba dari sebuah kantung di perut yang kapasitasnya tidak seberapa, tapi tuntutannya tidak pernah selesai.
Jadi, sebelum anda menyusun rencana besar untuk mengubah dunia besok pagi, pastikan dulu urusan perut sudah selesai. Karena tidak ada yang lebih berbahaya daripada seorang idealis kelaparan; ia bisa menjadi sangat bijak di mulut, tapi sangat nekat dalam tindakan.
Rencana adalah milik kepala, tapi realita? Ah, itu milik perut yang minta diisi. Inilah mengapa, kepala bisa menyusun rencana, tapi perut yang menentukan segalanya.
Perut vs Kepala
Jika kepala punya logika, bahasa, dan sebagainya sebegitu berlimpah. Perut tidak. Ia tak kenal dengan logika Aristoteles atau dialektika materialisme. Perut hanya punya satu bahasa, “kruuuk…”, “krucuk-krucuk”, ya, bunyi keroncongan. Dan uniknya, bunyi yang sepele itu punya kekuatan destruktif yang lebih hebat daripada pidato politik manapun.
Bayangkan seorang aktivis yang sedang berorasi di bawah terik matahari tentang keadilan bagi rakyat kecil. Kepalanya dipenuhi oleh teori-teori perlawanan. Namun, ketika matahari tepat di atas kepala, dan tiba-tiba “kruuuk…” maka fokusnya perlahan bergeser. Orasinya mulai melambat. Kata-katanya mulai kehilangan taji. Di dalam pikirannya, kutipan Karl Marx mulai memudar, berganti menjadi bayang-bayang es teh manis dan sepiring nasi padang dengan kuah yang melimpah.
Perut tidak butuh logika untuk menang debat. Ia hanya perlu menunggu sampai kepala menyerah karena lemas.
Perut dan Integritas
Dalam dunia kerja, kita melihat drama ini dipentaskan setiap hari. Berapa banyak orang yang sebenarnya membenci pekerjaannya? Kepalanya setiap malam berteriak, “Resign! Kamu punya talenta, kamu punya harga diri!” Kepalanya menyusun rencana untuk membangun usaha sendiri, untuk mengejar passion yang sempat tertunda.
Tetapi, esok paginya, orang yang sama tetap duduk di depan komputer yang sama, mengerjakan laporan yang ia benci, dan menerima makian dari bos yang tidak ia hargai. Mengapa? Karena perutnya—dan mungkin perut anak istrinya di rumah.
Kepala mungkin bisa bilang, “kita harus menjaga integritas!” Tapi perut, dengan suara keroncongan, akan lebih bisa membalas, “Integritas tidak bisa ditukar dengan susu anak di rumah.”
Perut adalah alasan utama mengapa integritas sering kali menjadi barang mewah yang hanya bisa dibeli oleh mereka yang sudah kenyang. Bagi mereka yang masih harus berhitung berapa butir beras yang tersisa di karung, “integritas” sering kali harus diletakkan dulu di dalam laci, dikunci rapat-rapat, agar piring di meja tetap terisi. Apakah mereka jahat? Tidak. Mereka hanya sedang menjadi manusia yang realistis. Karena pahlawan yang mati kelaparan tidak akan bisa menceritakan kepahlawanannya pada siapa pun.
Perut dan Sejarah Peradaban
Jika kita membedah sejarah dunia, kita akan menemukan bahwa revolusi besar jarang sekali dimulai hanya karena ideologi. Gerakan revolusi yang kita kenal pada umumnya pecah ketika harga barang naik tak terkendali. Ketika rakyat sudah tidak bisa lagi mengisi perut mereka, mereka tidak lagi peduli pada siapa yang duduk di singgasana. Mereka akan turun ke jalan, membakar apa saja, bukan karena mereka paham teori kenegaraan, tapi karena rasa lapar telah mengubah manusia menjadi serigala.
Sejarah adalah catatan tentang bagaimana kepala mencoba mengatur perut banyak orang, dan bagaimana perut-perut itu akhirnya memberontak karena merasa tidak diperlakukan dengan adil.
Mari kita tengok Prancis tahun 1789. Buku-buku teks sejarah dengan gagah mencatat istilah Liberté, Égalité, Fraternité. Tapi di gang-gang sempit Paris, istilah-istilah mentereng itu tidak lebih berharga daripada kerak roti. Bastille tidak hancur oleh teori Montesquieu, melainkan oleh kemarahan para ibu yang melihat harga gandum melonjak 80 persen. Mereka tidak menyerbu istana untuk menuntut demokrasi; mereka menyerbu untuk menuntut roti. Bagi mereka, Raja bukan lagi wakil Tuhan jika ia tak mampu menjadi wakil urusan logistik.
Begitu pula di Petrograd tahun 1917. Lenin boleh saja berpidato sampai berbusa tentang komunisme, tapi yang benar-benar meruntuhkan Dinasti Romanov adalah barisan buruh perempuan yang muak mengantre roti di bawah suhu beku. Slogan “Peace, Land, and Bread” menang telak karena ia menyentuh urusan yang paling privat sekaligus paling tiran: lambung yang perih.
Di negeri kita sendiri, polanya tidak berbeda. Tahun 1966 atau 1998 adalah monumen dari kegagalan kepala dalam mengatur perut. Ketika harga beras dan minyak goreng merangkak naik melebihi batas kesabaran biologis, semua pidato tentang stabilitas nasional dan pembangunan mendadak terdengar seperti ejekan. Mahasiswa turun ke jalan mungkin membawa tuntutan politik, tapi massa yang bergerak di belakang mereka membawa tuntutan hidup.
Inilah bukti nyata bahwa peradaban manusia sebenarnya hanya berjarak sembilan kali waktu makan dari anarki.
Maka, setiap penguasa yang bijak seharusnya tahu bahwa menjaga singgasana bukan dimulai dengan memperkuat intelijen atau militer, melainkan dengan memastikan harga cabai dan beras tetap waras di pasar. Sebab, kepala bisa diatur dengan propaganda, ia bisa dicuci dengan ideologi, atau ditakuti dengan jeruji. Namun perut? Perut tidak bisa diajak kompromi.
Dengan begitu, sejarah akan terus berulang dalam rumus yang sama. Kepala boleh merasa ia yang menyusun naskah peradaban, tapi di baliknya ada perut yang memegang hak untuk mengakhiri pertunjukan. Hanya saja, bukan berarti pemerintah harus memberikan makan kepada semua warganya, melainkan sekali lagi yang perlu ditegaskan bahwa harus dipastikan harga cabai dan beras tetap waras di pasar. Harus dibedakan antara “disuap” dengan “daya beli”.
Perut dan Definisi Cinta yang Tersungkur
Dalam novel-novel romantis atau film yang kita tonton di bioskop, cinta digambarkan sebagai sesuatu yang surgawi. Cinta adalah tatapan mata, janji setia di bawah hujan, atau puisi-puisi yang ditulis dengan tinta emas. Kepala kita—yang sudah keracunan romantisme itu—selalu ingin menyusun rencana bahwa cinta cukup untuk memberi makan dua orang manusia. “Makan nasi garam pun asal bersamamu, aku rela,” kata seorang pemuda yang sedang mabuk asmara.
Nah, untuk soal ini, mari kita tanya pada realitas setelah resepsi pernikahan usai dan amplop sumbangan sudah dihitung. Cinta yang paling membara sekalipun akan mendingin ketika tagihan listrik datang bersamaan dengan habisnya stok susu bayi. Di titik ini, perut kembali mengambil alih kemudi. Romantisme akan tewas seketika di tangan harga cabai yang melonjak atau cicilan motor yang menunggak. Kepala boleh saja berencana membangun keluarga yang harmonis dan penuh diskusi intelektual, tapi kalau perut anggota keluarga itu keroncongan, diskusi intelektual akan berubah menjadi pertengkaran tentang siapa yang paling boros menggunakan uang belanja.
Maka, mencintai seseorang sebenarnya adalah komitmen untuk memastikan perut orang yang kita cintai tidak menderita. Seorang ayah yang bekerja lembur hingga punggungnya nyaris patah, bukan sedang kehilangan romantismenya; ia justru sedang mempraktikkan bentuk cinta yang sesungguhnya. Ia tahu, sebelum ia bisa mencium kening istrinya dengan tenang, ia harus memastikan ada sesuatu yang bisa dikunyah di meja makan.
Ketika Kepala Menyerah pada Takdir Perut
Dari semua itu, kita harus sampai pada sebuah kesadaran bahwa tidak semua rencana kepala bisa terwujud, tapi semua tuntutan perut harus dipenuhi.
Seorang penulis bisa saja berencana menulis mahakarya yang akan mengubah sejarah sastra dunia. Tapi jika tulisannya tidak laku, jika ia tidak punya uang untuk membeli beras, ia mungkin harus berhenti menulis dan mulai mencari kerja serabutan. Apakah ia gagal? Secara artistik mungkin iya, tapi secara manusiawi, ia sedang memenangkan pertarungan yang paling penting, pertarungan untuk bertahan hidup.
Kita mungkin terbiasa untuk terlalu keras menghakimi orang lain yang “menyerah” pada keadaan. Kita bilang mereka tidak punya daya juang, tidak punya visi. Kita lupa bahwa untuk punya visi, seseorang harus punya energi. Dan energi itu datangnya dari piring, bukan dari awang-awang.
Untuk terakhir kalinya, dalam tulisan ini, kepala memang tempatnya mimpi-mimpi, tapi perut adalah sauh yang mengikat kita pada bumi. Tanpa mimpi, kita kehilangan arah. Tapi tanpa makan, kita kehilangan nyawa.
Semoga bermanfaat.