Indeks
-
Tak Ada Judul yang Tepat untuk Cinta di Jakarta
matahari terbenam / Jakarta menolak padam / ia terus mencari / apa yang masih bisa / dicuri dari diri
-
Melawan Hegemoni Progres Linier untuk Membebaskan Kreativitas Jiwa
Tuntutan akan progres linier yang kaku merupakan bentuk pemasungan terhadap potensi manusia yang sangat luas dan beragam.
-
Refleksi Nobar Film “Pesta Babi”: Manusia Musnah oleh Ulah Manusia tapi Kemanusiaan Menyatukannya
Ada hajat tak tertahan, sesuai mendengar semua narasi serta melihat semua dokumentasi dalam Pesta Babi ini yakni menuliskan kalimat “Manusia telah musnah oleh karena ulah…
-
Manusia Diciptakan Tuhan untuk
MengelolaMerusak BumiKerusakan tidak selalu berbentuk hutan yang gundul atau sungai yang tercemar. Bentuk kerusakan juga dapat dilihat dalam struktur distribusi yang tidak adil setelah ada kerjasama…
-
Anggaran Rp 700 ribu untuk Sepatu Siswa Sekolah Rakyat itu Pemenuhan Administrasi atau Keadilan?
Riuh rendah lini masa dalam beberapa hari terakhir terfokus pada isu pengadaan sepatu bagi siswa Sekolah Rakyat. Tanggapan publik menyala ketika narasi dari Kementerian Sosial…
-
Tekukur Ayah
Seperti sebelum-sebelumnya, Tuhan selalu membantu. Biasanya, malam sebelumnya sudah ada gambaran tentang bantuan Tuhan. Jika bukan malam sebelum hari H…
-
Mohon untuk Tidak Menyudutkan Orang Tua Terlebih “Ibu” yang Memilih Bekerja dan Menitipkan Anak di Daycare
Pilihan menitipkan anak di daycare bukan kesalahan. Ibu yang memilih tetap bekerja jugalah bentuk tanggung jawab sebagai orang tua.
-
Adab di Atas Ilmu: Fondasi yang Sering Terlupakan di Dunia Kerja Modern
Karena pada akhirnya, dunia kerja bukan hanya tentang siapa yang paling tahu, melainkan siapa yang paling mampu menjaga keseimbangan—antara kecerdasan dan kerendahan hati, antara kebebasan…
-
Mokondo, Gengsi Kita, dan Matinya Nalar Kemanusiaan
Istilah Mokondo ini sejatinya adalah senjata patriarki yang dipinjam oleh masyarakat untuk memukul laki-laki. Kita menuntut laki-laki untuk menjadi “penyedia” (provider) sejati, tetapi di sisi lain, kita…
-
Jika Tujuan Utama Pendidikan Hanyalah Efisiensi Serapan Kerja, untuk Apa Peradaban ini Dipertahankan?
Alih-alih membenahi kualitas pendidikan, memperkuat kurikulum, atau membuka ruang adaptasi ke kebutuhan zaman, yang dipilih justru menutup, memotong, menghapus.















