Ketika Kritikus Sastra Kehilangan Panggung

Kritik Sastra

Belakangan ini dunia sastra terlihat semakin ramai. Komunitas menulis tumbuh di banyak tempat. Buku baru terus bermunculan. Di media sosial, kutipan puisi dan kalimat-kalimat puitis mudah ditemukan setiap hari. Banyak orang mulai berani menulis dan membagikan karyanya kepada publik. Tentu ini kabar baik. Setidaknya, minat terhadap dunia literasi masih hidup.

Namun di tengah keramaian itu, ada satu hal yang perlahan mulai jarang terdengar: kritik sastra. Hari ini kita mudah menemukan promosi buku, tetapi lebih sulit menemukan pembahasan yang benar-benar mendalami isi sebuah karya. Banyak buku mendapat pujian, tetapi tidak banyak yang dibicarakan secara kritis. Dunia sastra tampak semakin ramai oleh dukungan, tetapi semakin sedikit ruang untuk evaluasi.

Padahal kritik sastra bukan sesuatu yang negatif. Kritik tidak selalu berarti menjatuhkan penulis atau mencari kesalahan karya orang lain. Dalam banyak hal, kritik justru membantu sebuah karya berkembang. Sama seperti siswa membutuhkan masukan dari guru, dunia sastra juga membutuhkan pembaca yang mampu memberi penilaian secara jujur dan argumentatif.

Kritikus sastra sesungguhnya memiliki tugas kebudayaan yang penting. Ia bukan sekadar mencari kelemahan karya, melainkan membantu pembaca memahami kedalaman teks. Kritik juga menjadi cermin bagi penulis agar karya sastra tidak berhenti pada popularitas semata. Tanpa kritik, sastra mudah terjebak menjadi hiburan sesaat.

Ironisnya, era digital mengubah banyak hal. Kini karya sastra sering kali bergerak mengikuti logika algoritma. Ukuran keberhasilan bukan lagi kualitas estetik atau kekuatan gagasan, melainkan seberapa viral karya itu di media sosial. Puisi yang paling banyak dibagikan dianggap paling berhasil. Novel yang ramai di TikTok dianggap paling penting. Sastra perlahan tunduk pada pasar perhatian.

Di sisi lain, kritik sastra kadang dianggap terlalu sensitif. Ketika seseorang memberi catatan terhadap sebuah karya, respons yang muncul tidak selalu berupa diskusi. Kritik sering dipahami sebagai serangan pribadi, bukan bagian dari percakapan intelektual. Situasi seperti ini membuat banyak orang memilih diam daripada terlibat dalam perdebatan yang panjang.

Padahal sastra yang sehat membutuhkan ruang dialog. Sebuah karya bisa diapresiasi sekaligus dikritisi. Penulis tetap dapat dihargai tanpa harus menutup kemungkinan adanya kekurangan dalam karya mereka. Dari proses itulah kualitas sastra biasanya berkembang.

Kritik yang baik senyatanya lahir dari kepedulian terhadap karya, bukan dari keinginan merendahkan penulisnya. Sebaliknya, kritik juga perlu disampaikan dengan bahasa yang proporsional dan argumentasi yang jelas. Dengan begitu, kritik dapat menjadi ruang belajar bersama, baik bagi penulis maupun pembaca.

Menjadi kritikus sastra tidak harus bergelar akademik tinggi, tetapi juga bukan perkara yang mudah. Tugas kritikus sastra, sebagaimana disinggung Budi Darma dalam buku Harmonium (1995), ialah menemukan makna tersembunyi yang kadang luput bahkan dari pengarangnya sendiri. Siapa pun dapat menjadi kritikus selama mampu berdialog secara mendalam dengan karya sastra dan menangkap rahasia di balik kata-kata.

Masih menurut Budi Darma, pembaca biasa umumnya hanya menangkap permukaan teks, bukan makna tersembunyi di baliknya. Kalaupun dipaksakan menafsir lebih jauh, yang terlihat sering kali hanya deretan kata. Itu sebabnya, memang tidak semua penikmat sastra perlu memaksakan diri menjadi kritikus sastra.

Dengan agak nyinyir, Budi Darma mengingatkan bahwa ketika pembaca biasa memaksakan diri menjadi kritikus, kritik sastra mudah terjebak pada hal-hal dangkal. Akibatnya, lahir “kritikus dadakan” yang gemar membesar-besarkan karya biasa demi popularitas, lalu tampil seolah-olah sebagai kritikus sungguhan.

Barangkali inilah ironi terbesar dalam dunia sastra hari ini. Karya terus bermunculan, namun pembacaan yang mendalam justru semakin menghilang. Sastra ramai oleh promosi, tetapi sepi oleh perdebatan gagasan. Di tengah budaya instan dan viralitas, kritikus sastra perlahan kehilangan panggung. Padahal tanpa kritik yang jujur dan bertanggung jawab, sastra hanya akan menjadi keramaian sesaat: riuh di permukaan, hampa di kedalaman.


Editor: Andi Surianto

Penulis

Avatar Ahmad Fatoni

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *