Jika Tujuan Utama Pendidikan Hanyalah Efisiensi Serapan Kerja, untuk Apa Peradaban ini Dipertahankan?

Jika Tujuan Utama Pendidikan Hanyalah Efisiensi Serapan Kerja, Lalu Untuk Apa Peradaban Ini Dipertahankan?

Negara ini kadang terlalu cepat menyimpulkan, tapi terlalu lambat memahami.

Akhir April 2026 ini, pemerintah melempar wacana tentang penutupan program studi yang dianggap “tidak relevan” dengan kebutuhan zaman. Ukurannya sederhana: jika tak selaras dengan industri, jika tak menjanjikan serapan kerja instan, maka keberadaannya dipertanyakan. Kampus didorong menjadi pabrik tenaga kerja, bukan lagi ruang pembentukan akal dan nurani.

Pertanyaannya: sejak kapan relevansi ilmu diukur hanya dari permintaan pasar?

Menakar Ilmu Pengetahuan di Luar Logika Pasar

Kalau logikanya begitu, maka filsafat, sejarah, sastra, pendidikan kewarganegaraan, bahkan seni semuanya bisa dicoret dari peta masa depan. Sebab, ilmu-ilmu itu tidak selalu menghasilkan profit cepat. Mereka tidak menjual aplikasi, tidak membangun startup, tidak memproduksi angka-angka ekonomi dalam hitungan kuartal.

Namun, justru dari ilmu-ilmu itulah bangsa ini belajar berpikir, merawat identitas, membaca kekuasaan, dan mengkritik arah pembangunan.

Negara boleh saja mengejar efisiensi. Akan tetapi, bila efisiensi dijadikan alasan untuk menutup ruang-ruang intelektual, maka yang lahir bukan kemajuan melainkan generasi teknis tanpa kesadaran historis.

Kampus akhirnya berubah: bukan rumah ilmu, melainkan showroom industri.

Segregasi Ruang Publik: Memindahkan Masalah, Bukan Menyelesaikan

Ironisnya, ketika negara sibuk memilah prodi mana yang layak hidup, muncul pula suara lain dari pejabat publik yang mengatur tubuh dan ruang sosial dengan cara yang serupa. Pernyataan Menteri PPPA soal laki-laki sebaiknya pindah ke gerbong depan dan belakang demi kenyamanan perempuan di transportasi publik terdengar seperti solusi, tetapi sesungguhnya memperlihatkan pola pikir lama: memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya.

Ketika ada ketidaknyamanan, yang diubah adalah posisi laki-laki. Bukan sistem pengawasan. Bukan pendidikan etika publik. Bukan penindakan terhadap pelaku pelecehan. Seolah persoalan struktural cukup diselesaikan dengan pengaturan tempat berdiri.

Pragmatisme Kebijakan: Mengobati Gejala, Mengabaikan Akar

Dan bukankah itu mirip dengan isu penutupan prodi?

Alih-alih membenahi kualitas pendidikan, memperkuat kurikulum, atau membuka ruang adaptasi ke kebutuhan zaman, yang dipilih justru menutup, memotong, menghapus. Negara sedang jatuh cinta pada solusi praktis yang tampak tegas, tetapi miskin akar.

Gerbong dipindah, prodi ditutup, statistik diperbaiki, sementara substansi dibiarkan retak. Kita hidup di era ketika kebijakan lebih suka memindahkan gejala daripada membongkar sebab.

Jika ada prodi yang sepi peminat, tanyakan kenapa. Jika ada lulusan yang sulit terserap, periksa struktur ekonomi. Jika ada perempuan merasa tak aman di transportasi, benahi kultur publik dan penegakan hukum. Jangan buru-buru menghapus, memisahkan, atau menyingkirkan.

Ruang Berpikir sebagai Jantung Peradaban

Sebab, negara yang terlalu gemar menutup akan lupa cara membangun. Dan bangsa yang hanya menghargai yang “relevan” versi pasar akan kehilangan banyak hal yang tak bisa dihitung dengan spreadsheet: kebijaksanaan, keberanian moral, dan kemampuan untuk bertanya.

Padahal, justru dari pertanyaan-pertanyaan itulah peradaban tumbuh. Kalau semua harus tunduk pada efisiensi, maka suatu hari nanti kita akan punya ribuan ahli teknologi, tetapi kekurangan manusia yang mampu memikirkan untuk apa teknologi itu diciptakan.

Kalau semua masalah sosial diselesaikan dengan segregasi ruang, maka kita tak sedang menciptakan masyarakat aman, kita hanya memindahkan kecemasan dari satu titik ke titik lain.

Negara seharusnya hadir untuk memperluas kemungkinan, bukan mempersempit pilihan. Karena masa depan tidak dibangun dengan menutup pintu-pintu ilmu. Dan keadilan tidak lahir dari memindahkan orang ke ujung gerbong.

Masa depan membutuhkan keberanian untuk memperbaiki akar, bukan sekadar merapikan permukaan. Sebab, bangsa yang sibuk mengosongkan gerbong tertentu dan menutup jurusan tertentu, perlahan sedang mengosongkan ruang berpikirnya sendiri.

Dan ketika ruang berpikir itu hilang, yang tersisa hanyalah kepatuhan tanpa kesadaran. Padahal, sejarah selalu membuktikan: bangsa besar tidak lahir dari manusia yang hanya ditempatkan dengan rapi. Tetapi dari manusia yang diberi ruang untuk berpikir, bergerak, dan berbeda.


Editor: Farhan Azizi

Penulis

Avatar Anmuraf

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *