Khazanah Perkaderan Insan Cita: Manifestasi Mandat Kekhalifahan dan Doktrin NDP HMI

Perkaderan Insan Cita HMI

Ketika bentang alam hancur dan manusia tersungkur dalam kehinaan, runtuhnya peradaban modern sesungguhnya bermula dari kegagalan manusia dalam mengeja hakikat dirinya sebagai hamba dan khalifah di bumi.

Kenapa Tuhan menciptakan manusia, memilih manusia menjadi khalifahNya di muka bumi? Lalu, kenapa kebanyakan manusia gagal memahami tujuan substansial penciptaannya sebagai hamba dan sebagai pemegang mandat untuk menjadi khalifah? Jawabannya, karena manusia tidak mengetahui alasan mendasar (rationalizing), kenapa Tuhan memilih manusia menjadi representasi Tuhan (khalifah). Bahkan, cara menunaikan tugas-tugas kekhalifahan dan kehambaan yang dimandatkan Tuhan pun manusia tidak tahu. Oleh karena itu, begitu banyak kontradiksi, anomali, ambiguitas, distorsi, ambivalensi, dan bahkan kehancuran yang dihadapi. Manusia tidak tahu cara mengelola peradaban sesama manusia. Manusia tidak tahu cara membaca hukum kosmologis, bahkan karena itu manusia pun tidak tahu cara mengurus alam untuk kepentingan dan kemanfaatan kemanusiaan serta kelangsungan alam itu sendiri.

Kesalahan yang disengaja, atau ketidaktahuan manusia dalam menunaikan fungsi dan peran kekhalifahan dan kehambaannya, telah menimbulkan kerusakan pada poros sistem budaya kemanusiaan dan sistem kealaman. Ini menunjukkan potret kelaliman, kezaliman, dan kebodohan manusia itu sendiri. Manusia jatuh miskin, lapar, melarat, dan tersungkur dalam kubangan kehinaan. Seharusnya hal demikian tidak patut terjadi pada makhluk manusia yang berpikir dan berdimensi kreatif, atau manusia yang berakal budi. Hanya manusia berdimensi akal budi sanggup mengurus tata kelola alam dan segala kekayaannya sesuai kehendak dan tujuan penciptaannya. Tetapi sebaliknya, ketika sumber daya alam diurus dengan tidak sepatutnya, maka sumber daya alam hanya dinikmati oleh segelintir orang yang rakus (kaum oligharc). Hal yang demikian ini secara analisis menggambarkan betapa negeri ini tidak sedang baik-baik saja. Negeri ini sedang disandera, dieksploitasi oleh manusia yang tidak berakal budi. 

Alam Sejatinya Tidak Berpikir untuk Menganiaya Manusia

Kita juga memotret kerusakan alam di berbagai belahan bumi yang menimpa dan menindas manusia dengan ganas. Manusia terhanyut dan terkubur di balik limbah dan bongkahan reruntuhan. Manusia tak ubahnya seperti limbah. Alam menindas manusia, memusnahkan manusia, seakan alam menunjukkan kekejaman dan kebengisan pada manusia. Padahal, alam tentu saja tidak pernah berpikir untuk menganiaya manusia yang memiliki berbagai kemampuan dan keunggulan. 

Alam semesta raya adalah hamparan objek bagi manusia yang berakal budy untuk dideteksi, dideskripsikan, dan diabstraksi atau diidealisasi guna memaknai hakikat tujuan kehadiran manusia, baik dalam kapasitasnya sebagai hamba maupun khalifah. Bila manusia melakukan ketiga tugas intelectual tersebut, maka manusia penghuni jagat raya ini menjadi mulia, artinya manusia berintegrity, berdignity dan berlegacy di hadapan Allah SWT. Kenapa kemudian alam yang sesungguhnya menjadi objek bagi manusia itu, bisa merobohkan manusia dengan angkuh dan sombong tanpa ampun? Dan manusia yang punya segala-galanya namun tidak bisa membebaskan dirinya sendiri dari kepungan keganasan alam yang pongah. Apa yang salah dari semua rangkaian peristiwa ini?

Sumber Daya Alam Diurus Negara, tetapi Rakyat tetap Terhimpit dalam Lilitan Kemiskinan

Negeri ini begitu indah dan kaya akan lapisan susunan sumber daya alam yang berserakan. Tidak ada sudut negeri ini tanpa tersimpan kekayaan sumber daya alam. Di laut, di darat, bahkan di udara tersusun sumber energi yang berlimpah. Semua kekayaan sumber daya alam, walkhusus tambang, diurus oleh negara; tetapi kenapa rakyat tetap terhimpit dalam lilitan kemiskinan, hidup melarat, dan tak berdaya? Rakyat hanya punya KTP sebagai tanda identitas kewarganegaraan Indonesia. Namun, tidak punya rasa kebanggaan dan kehormatan sebagai warga negara. Untuk apa semua kekayaan sumber daya alam jika tidak sanggup mengangkat marwah, martabat, dan derajat manusia dari keterpurukan? Padahal manusia makhluk tersempurna, manusia paripurna yang diberi mandat untuk merepresentasikan posisi Tuhan di muka bumi. Manusia dihadirkan dengan sebuah tugas khusus untuk mengambil peran ketuhanan di muka bumi, mengurus dan melakukan tata kelola alam dengan akal mulia dan ilmu yang diajarkan Tuhan dalam berbagai firman-Nya.

Kenapa manusia yang berotak waras dan berakal cemerlang, berlogika terstruktur, tetapi tidak bisa membaca pesan-pesan Tuhan dalam Al-Kitab? Sementara pesan-pesan Ilahi yang tertulis dalam Al-Kitab ribuan tahun lampau itu ditulis menggunakan bahasa manusia yang lugas dipahami untuk dipedomani. Apakah manusia begitu zalim dan lalim sehingga abai dengan mandat Ilahi yang disandangkan pada manusia? Apakah manusia tidak melakukan transendentalisasi, jalan pendakian spiritual untuk bertanya dan meminta petunjuk agar ia mendapatkan cahaya kebenaran, bimbingan Ilahi agar selalu dalam jalan kebenaran? Ataukah Tuhan sudah terlalu marah pada pengkhianatan dan pengingkaran manusia? Atau mungkin watak iblis begitu kuat mengendalikan dan menghegemoni manusia, watak iblis telah menginstitusi menjadi watak manusia, sehingga iman dan kecerdasan manusia gagal berfungsi akibat sudah diinvasi oleh kelicikan iblis? Sehingga manusia pun terjerumus dalam jebakan langkah provokasi dan manipulasi iblis, manusia pun tertipu, dan akhirnya melakukan tindakan terhina yang menghilangkan dimensi hakiki kemanusiaan.

Memutus Rantai Kezaliman Lewat Gerakan Kesadaran

Krisis multidimensional mulai dari kehancuran ekologis hingga kemiskinan struktural pada hakikatnya merupakan hulu dari patahnya kesadaran transendental manusia. Ketika manusia modern mengunggulkan rasionalisme tanpa etik, kehilangan kompas keseimbangan antara spiritual dan intelektual untuk membaca ayat-ayat Tuhan yang terhampar di alam semesta, maka bumi kehilangan peran “pengelola-pengurusnya” yang sejati. Bumi menjadi objek eksploitasi, perampokan, perusakan oleh watak kebinatangan manusia yang dikendalikan iblis. Watak iblis yang rakus, perusak, penjahat, biadab telah mempersonifikasi menjadi watak manusia. Maka di mana mana kerusakan itu terjadi, dari kantor negara ke hutan rakyat. 

Di tengah kepungan kegelapan peradaban inilah, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) hadir bukan sekadar sebagai organisasi kemahasiswaan, melainkan sebagai sebuah jawaban historis dan kesadaran bergerak. HMI memikul tanggung jawab profetik untuk memutus rantai kebodohan dan kezaliman tersebut, dengan merekonstruksi kembali watak asal manusia sebagai hamba sekaligus khalifah yang paripurna. 

Dengan pemikiran itu, manusia dapat menafsirkan setiap fenomena kosmologis, juga bisa mengurai setiap kerumitan realitas sosial, dengan berbagai perspektif argumentasi kebenaran rasional-empiris yang akan memuliakan manusia sebagai hamba dan khalifah. Sebaliknya, ketika manusia gagal mengurai kebenaran, maka manusia gagal mewujudkan tujuan kehadirannya. Alur pikiran manusia yang benar itulah yang akan menghantarkannya untuk mencapai tujuan mulia.

Tidak sedikit kader HMI yang sukses menggapai tujuan karena konsistensi pada alur logika dan narasi yang benar. Sebaliknya, tidak sedikit juga kader HMI yang tergelincir dari proses yang benar, yakni mereka menggapai kehidupan yang gemilang, tetapi dengan bangunan kerangka berpikir yang salah.

NDP Seyogianya Diinternalisasikan Secara Sistematis melalui Ruang Perkaderan

Sebagai organisasi yang berkomunitas mahasiswa Islam, HMI menjadikan Islam sebagai pedoman dan pandangan hidup. Generasi HMI terdahulu setelah melewati berbagai dinamika sosial politik, pasang surut, jatuh bangun, melewati rintangan ideologis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, maka para senior pendahulu merancang dan merumuskan NDP. Kehadiran NDP, atau Nilai-Nilai Dasar Perjuangan merupakan rumusan ideologis yang mengontekstualisasikan ajaran Islam universal ke dalam realitas sosial, kemanusiaan, dan kebangsaan Indonesia secara rasional dan transformatif. NDP sebagai jalan rasionalisasi dan kontekstualisasi, Islam sebagai agama, dan Indonesia sebagai bangsa dalam tatanan bernegara. 

Kitab ini berisi tujuh poin dasar yang terdiri dari:
1) Dasar-Dasar Kepercayaan,
2) Pengertian-Pengertian Dasar tentang Kemanusiaan,
3) Kemerdekaan Manusia dan Keharusan Universal atau Ikhtiar dan Taqdir,
4) Ketuhanan Yang Maha Esa dan Kemanusiaan,
5) Individu dan Masyarakat,
6) Keadilan Sosial dan Keadilan Ekonomi,
7) Ilmu Pengetahuan dan Kemanusiaan.

Ketujuh Nilai Dasar itu dijadikan doktrin ideologis untuk membentuk kerangka berpikir dan sikap ideologis, bila dipahami secara imparsial dari ketujuh bab tersebut. NDP tidak akan bisa membentuk pola pikir dan pola gerakan ideologis jika tidak uraikan pemahamannya secara sistemik dan komprehensif. Proses ini menghasilkan struktur pemahaman yang integratif dan konstruktif yang tertanam kuat menjadi etos dan etitude kader HMI. Dengan begitu, kader-kader HMI sanggup melintasi jalan berliku, mendaki, terjal, dan berduri untuk mencapai arah dan tujuan organisasi. Agar rumusan nilai-nilai dasar tersebut tidak sekadar menjadi menara gading teoretis, maka institusionalisasi gagasan itu diinternalisasikan secara sistematis melalui ruang perkaderan. 

Training HMI pada intinya berperan layaknya mesin pencetak untuk mengembalikan posisi manusia pada tempatnya yang tepat, yakni mencetak manusia menjadi kader yang berperan sebagai ideologi dan aktor gerakan perubahan. Sedangkan NDP sebagai bangunan kerangka berpikir dan doktrin ideologis, berfungsi memandu jalan seorang kader menjadi penggerak perubahan peradaban yang diridhai Allah SWT. Sebaliknya, kekeliruan membangun kerangka pemahaman NDP tidak hanya melahirkan sikap yang kontraproduktif, tetapi juga ambivalensi dan ambiguitas yang tidak hanya merugikan HMI, tetapi lebih dari itu bisa mendekonstruksi eksistensi bangsa dan negara. Oleh sebab itu, proses pembentukan kualitas dan karakter kader menjadi agenda urgen dan signifikan.

Kader, ialah segelintir orang terseleksi, terpelajar, terdidik dan memiliki komitmen yang kuat pada visi dan misi organisasi, serta memiliki loyalitas, dan militansi mengawal organisasi mencapai tujuan. Tujuan HMI “terwujudnya insan akademik, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT.” Arah gerak seorang kader itu menyuarakan suara kaum ideologis, meneriakkan kebenaran dan pemihakan pada jutaan kaum tertindas. Jalan seorang kader ideologis adalah konsistensi pada arah juangnya bukan berkompromi pada kepentingan pragmatisme dan hedonisme sesaat. 

Secara empiris, perjalanan perkaderan melewati dimensi ruang dan waktu yang panjang. Proses perkaderan dari LK1–LK3 dan dari level Pengurus Komisariat–level Pengurus Besar telah banyak melahirkan kader yang cukup teruji. Namun, tidak semua alumnus HMI bertahan pada komitmen kekaderan. Banyak di antaranya bergeser dan menyimpang, tidak sanggup mengusung nilai-nilai kekaderan menjadi identitas dalam pergumulan di ruang publik. Tidak semua alumni HMI lolos melewati berbagai tantangan, karena gagal mempertahankan nilai-nilai esensial kekaderan dalam menjalani peran eksistensialnya sebagai alumni HMI. 

Olehnya dalam konteks modernisasi pembangunan, maupun dalam konteks persaingan global, alumunus HMI tetaplah konsisten, istiqamah merawat nilai kekaderan, berpegang teguh pada nilai profetik dan ilahi, sehingga tetap dipandang sebagai kader HMI. Tetaplah menjadi kader berintelegensia, memotret semua perilaku anomali kekuasaan, maupun berbagai disorientasi proyek pembangunan. Proses ini merupakan tahapan terpenting untuk membentuk karakter, integrity dan dignity sebagai seorang kader HMI yang pada waktunya masuk dalam orbit kepimpinan Indonesia, menjadi pemimpin masa depan.  

Maros Sulsel, 22 Mei 2026
(Dari arena Intermediate Training LK2 HMI Cabang Maros)


Editor: Farhan Azizi

Penulis

Avatar MHR Shikka Songge

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *