Tak Ada Judul yang Tepat untuk Cinta di Jakarta
Jakarta terjaga
sebelum matahari tiba
angin subuh mengibarkan bunyi kendaraan
seperti doa yang kehilangan arah
aku masuk ke mulut kereta
yang menelan tubuhku
di antara cicilan yang
tak pernah selesai
sempat aku cari tanganmu
tapi kecemasan lebih dulu
memelukku
waktu memburu
layaknya anjing lapar
mengejar-ngejar
sampai ke meja kerja
di dalam gedung
jam dinding mengunyah
sisa-sisa usia
di sini
rindu mesti disimpan
di bawah laci
karena tak ada nilai produksi
matahari terbenam
Jakarta menolak padam
ia terus mencari
apa yang masih bisa
dicuri dari diri
kebisingan
keterasingan
janji kegemilangan
terus memaksaku
berkhianat pada sinar rembulan
Bogor, 2025
Tahun Lepas
Desember hampir habis
langit menabur serbuk-serbuk gerimis
ia intip perjalanan
serasa ada yang belum lepas
kupu-kupu bertengger di atas pagar
seolah-olah menghitung waktu
seorang pejalan tertahan
di persimpangan ”ke mana tahun akan membawa selain pada usia?, ucapnya
kembang api bermekaran udara
terompet berbunyi
memenuhi setiap ruang
dan orang-orang
bergembira sembari mereguk anggur
membakar sosis dan jagung
desember
hampir habis
kali ini tanpa cinta
ia menengok jejaknya sendiri
mungkinkah sesuatu ditemui
di antara sisa-sisa
ia tak pernah paham:
di mana menjumpai diri
di sela-sela puisi
atau di setiap inci
hati seorang kekasih
Bogor, 2025
Lelaki yang Merawat Kesedihannya
setiap pagi ia rajin bercermin
memastikan kesedihan
terlipat rapi
di balik wajah
pernah ia melanglang buana
mencari kitab bahagia
di antara usapan layar
di antara siaran
podcast yang menjadi teman
menghadapi kemacetan
bila malam tiba
dalam sepetak kamar
ia menemukan rindu
kepada hal-hal yang hidup di masa lalu:
genjrengan gitar
kopi+rokok
kartu remi
sahutan tawa
yang dibubarkan adzan subuh
di hadapan kota
ia tersenyum
menata kesedihannya
ia tak lagi mengembara
barangkali, sudah terlampau lelah
berharap pada hal yang tak juga menetap
meski saku celana menggemuk
ia tetap merasa remuk:
di sini ia tidak menghidupi hidup
hanya hidup menghidupi
Bogor, 2025
Sia-sia
aku kira beginilah nanti jadinya:
kisah terpanggang
rangka tak bersisa
kau mampus sia sia
Bogor, 2022
Peristiwa Menjelang Kantuk
kau tatap tubuh dinding itu digurati garis acak mimpi yang tak pernah keluar kamar. Sementara detak jam mengajakmu merantau ke masa dulu ketika kebahagiaan bisa didapat hanya dengan bermain kejar-kejaran di tengah-tengah hujan ketika kau hanya perlu memutar lagu India untuk bisa tertidur pulas sekarang kantuk tak akan tiba sebelum membenamkan dirimu ke berbagai peristiwa: menemukan amarah yang telah lama bersembunyi di balik kasur lantai hidungmu menghirup sesal yang dibawa angin dan dengan mata yang terus terjaga kau menyaksikan betapa apiknya malam memelihara kekacauan fajar tiba matamu masih juga terjaga kau pun kelelahan dan kehilangan gairah saat hari telah pagi.
Bogor, 2021
Kau, Cinta dan Laut
seusai dari timur
matahari hendak lengser di tepian barat
apakah itu bayangmu, cintaku?
di antara pesisir
memanjang di bawah pohon kelapa
mengantarkan buih-buih
yang seolah tahu hatiku yang rapuh
memang harus disentuh
laut bersuara tentang cinta
aku ingin tetap ada di sana
menyematkan bulan di bayangmu
tapi gelap membungkus rindu
langit menidurkan harapan
dan puisi-puisi itu
bisu disekap waktu
Bogor, 2023
Editor: Andi Surianto







Tinggalkan Balasan