Berubah Tanpa Kehilangan Arah

Sekolah

Bagi keluarga Muslim di Australia, memilih sekolah menyangkut dua harapan yang sama pentingnya. Keyakinan anak tetap terawat, sementara kemampuannya hidup dalam masyarakat yang beragam terus tumbuh. Sekolah harus memberi tempat bagi keduanya.

Harapan tersebut hadir dalam pembahasan Muhammadiyah Australia College (MAC) dalam buku Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si., “Muhammadiyah dan Gerakan Berkemajuan: Etos ‘Dinamis Berprinsip’ di Era Digital”. Pengalaman sekolah ini memberi jalan masuk untuk memahami persoalan utama buku, yakni menjaga tujuan sambil menyesuaikan cara kerja dengan perubahan masyarakat.

Arifin menjelaskan penggunaan Kurikulum Victoria yang diperkaya Studi Islam dan pendidikan Al-Qur’an. Pengawasan otoritas pendidikan serta laporan tahunan menunjukkan kewajiban sekolah mempertanggungjawabkan layanannya (hlm. 226). Identitas keagamaan berjalan bersama tuntutan mutu dan kepercayaan publik.

Uraian MAC bertumpu pada pengamatan, wawancara, dan dokumen sekolah, sebagaimana diterangkan dalam catatan halaman 222. Pilihan sumber ini membantu pembaca mengikuti cara gagasan diterjemahkan dalam penyelenggaraan pendidikan. Ada kebutuhan keluarga yang hendak dijawab, standar yang harus dipenuhi, dan tanggung jawab yang menyertai kehadiran sekolah.

Dari pengalaman tersebut, “Dinamis Berprinsip” memperoleh bentuk yang mudah dikenali. Tujuan pendidikan tetap dijaga melalui cara yang mempertimbangkan keadaan setempat. Memelihara keyakinan anak membutuhkan kecakapan mengelola sekolah, memahami lingkungan sosial, dan membangun hubungan dengan masyarakat.

Pijakan gagasan itu dijelaskan dalam bagian “Dinamis Berprinsip: Sintesis Teoritik” pada halaman 404–408. Arifin mempertemukan Muqaddimah Anggaran Dasar, Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah, Rumusan Masalah Lima, serta Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah.

Keempat dokumen tersebut dibaca dalam hubungan yang saling melengkapi. Dasar keyakinan memberi arah gerakan, pemahaman tentang urusan dunia membuka tempat bagi akal dan pengalaman, sedangkan pedoman perilaku menghubungkan nilai dengan tindakan sehari-hari. Pembaruan memiliki pijakan sekaligus tujuan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Bagian ini membantu membedakan prinsip dari kebiasaan organisasi. Cara mengajar, mengelola sekolah, dan membangun kerja sama dapat ditinjau ulang. Usia sebuah kebiasaan tidak dengan sendirinya menentukan kedudukannya sebagai prinsip. Kesetiaan pada tujuan kadang justru menuntut keberanian mengubah cara.

Sumbangan Arifin terletak pada usaha menyusun hubungan tersebut dan membacanya melalui persoalan pendidikan. Bobot rumusannya dapat dinilai dari kemampuan menjelaskan pilihan yang dihadapi pengelola lembaga. Pengalaman MAC memberi contoh tentang identitas yang dipelihara melalui penyesuaian kurikulum dan tanggung jawab kepada publik.

Di Australia, keluarga Muslim memerlukan sekolah yang memberi ruang bagi pendidikan agama anaknya. Di Indonesia, lembaga Muhammadiyah berhadapan dengan kebutuhan peserta didik yang berbeda agama. Persandingan ini menjadi salah satu sisi paling kuat dalam pembacaan buku. 

Identitas Islam sebuah lembaga membawa tanggung jawab terhadap keragaman orang yang belajar di dalamnya. Hak yang diharapkan bagi kelompok sendiri perlu dihormati pula ketika dibutuhkan orang lain. Penghormatan terhadap keyakinan menghadapi ujian justru ketika lembaga melayani orang yang berbeda. 

Arifin juga mencatat keterbatasan guru, anggaran, dan resistensi administratif dalam pemenuhan pendidikan agama (hlm. 291). Catatan tersebut membawa pembahasan ke persoalan yang dihadapi pengelola. Pengakuan terhadap hak memerlukan pengajar, jadwal pelajaran, pembiayaan, dan kesediaan menyesuaikan kebijakan.

Pada bagian ini, hubungan antara prinsip dan perubahan terlihat lebih jelas. Penghormatan terhadap peserta didik memerlukan keputusan yang mungkin menambah pekerjaan dan biaya. Keterbukaan memperoleh arti melalui kesediaan lembaga menyediakan kebutuhan mereka.

Meski demikian, dalam uraian MAC yang dibahas, rancangan kurikulum dan tata kelola lebih menonjol daripada pengalaman siswa. Pembaca memperoleh gambaran tentang penyelenggaraan sekolah, tetapi belum mendapat gambaran yang sama kuat mengenai cara siswa merasakan pendidikan tersebut. Kesaksian siswa dan keluarga akan membantu menilai keberhasilan sekolah dalam merawat keyakinan sekaligus menumbuhkan pergaulan di tengah keragaman.

Pada bagian sintesis yang dirujuk, proses mengambil keputusan ketika prinsip dan strategi diperselisihkan juga belum tampak terurai secara terperinci. Pembedaan keduanya membantu sebagai pegangan awal. Penelusuran atas satu keputusan, beserta pertimbangan, keberatan, dan akibatnya, akan memperkuat penjelasan Arifin.

Kritik ini berkaitan dengan kegunaan gagasan yang ditawarkan. Pengelola lembaga kerap menghadapi keadaan ketika kebiasaan lama dianggap bagian dari identitas, sementara pilihan baru menjanjikan efisiensi. Penjelasan mengenai cara menimbang keduanya akan membantu pembaca menggunakan “Dinamis Berprinsip” dalam keputusan sehari-hari.

Buku Arifin membantu pendidik dan pengelola amal usaha membedakan tujuan yang perlu dijaga dari cara kerja yang dapat diubah. Pembahasan pendidikannya memberi bentuk pada gagasan tersebut, meski pengalaman siswa dan proses pengambilan keputusan masih memerlukan uraian lebih mendalam. Sumbangan utamanya ialah menyediakan pijakan untuk menilai perubahan melalui akibatnya bagi orang yang dilayani.

Identitas Buku

Judul: Muhammadiyah dan Gerakan Berkemajuan: Etos “Dinamis Berprinsip” di Era Digital.
Penulis: Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si.
Penerbit: Pustaka Al-Kautsar
Cetakan: Pertama, September 2026
Tebal: xvi+432 halaman
ISBN: 978-623-1731-08-1
Peresensi: Ahmad Fatoni, Kepala Bagian Pendidikan dan Pengajaran MKWK UMM


Editor: Muhammad Farhan Azizi

Penulis

Avatar Ahmad Fatoni

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *