Zig-Zag di Langit Nusantara: Catatan Perjalanan Seorang Instruktur NDP Menjelajahi Lima Kota Perkaderan HMI

MHR Shikka Songge pada Perkaderan HMI

Tujuh belas September hingga enam Oktober 2026. Lima kota, lima cabang, belasan forum perkaderan, dan ribuan kilometer udara yang ditempuh dengan rute berliku. Dari Balikpapan ke Fakfak, dari Gontor ke Manado, hingga berlabuh di Bandung, perjalanan ini bukan sekadar memenuhi undangan mengisi materi. Ia adalah ziarah ke ruang-ruang sejarah, ujian kesabaran di landasan yang diselimuti kabut, dan perjumpaan dengan wajah-wajah kader yang sedang menempa diri menjadi insan cita.

Penjelajah di Jalan Perkaderan

Perjalanan perkaderan HMI di lima kota, bagi saya, seperti halnya perjalanan sang penjelajah: menelusuri liku-liku, jejak para pelaku sejarah dan para pelukis karya peradaban, sekaligus membaca hukum-hukum berupa fenomena keagungan penciptaan Tuhan yang terbentang di sepanjang hamparan bumi Nusantara.

Di setiap sudut ruang ada jejak waktu yang tersisa; tumpukan peristiwa yang kusam oleh lapisan atmosfer waktu, yang kemudian dimitoskan dan disakralkan oleh anak-anak zaman yang terpisahkan oleh waktu.

Membongkar setiap mitos yang disakralkan itu dengan tafsir pengetahuan adalah upaya membebaskan manusia dari berbagai dilema irasional, agar manusia betul-betul merdeka sebagai manusia. Dengan modal kemerdekaan, manusia memiliki daya karsa, daya cipta, dan daya gerak untuk mengubah takdir transendentalisme menjadi takdir empirisme, atau dari absolutisme ke sejarah.

Oleh karena itu, sebagai instruktur NDP (Nilai Dasar Perjuangan), saya tidak hanya masuk ruang training untuk melembagakan pemikiran abstrak maupun pemikiran teoretik, tetapi juga mengunjungi tempat-tempat tertentu yang memiliki nilai ideologis, historis, dan kultural, yang juga dianggap sebagai wilayah mitos dan sakral.

Kali ini saya keluar dari rumah dengan maksud memenuhi undangan perkaderan yang dilayangkan oleh pengurus HMI dari berbagai cabang, antara lain Cabang Balikpapan, Cabang Fakfak, Cabang Ponorogo, Cabang Manado, dan Cabang Bandung. Untuk memenuhi undangan itu, sejak 17 September 2026 saya berangkat, dan baru kembali ke rumah pada 6 Oktober 2026.

Mewakafkan Waktu untuk Adik-Adik Kader

Memang perjalanan ini terasa panjang, karena di setiap cabang saya bisa mengisi dua sampai tiga forum: Latihan Kader II (LK II) atau Intermediate Training, Latihan Khusus Kohati (LKK), dan Senior Course (SC). Di sela-sela itu, saya masih meluangkan waktu untuk berdiskusi dengan pengurus cabang, pengurus komisariat, dan anggota HMI pada umumnya. Hal ini diperlukan untuk perluasan wawasan keilmuan dan khazanah keorganisasian HMI.

Tentu pula saya menyadari bahwa perjalanan training itu biayanya mahal. Karena itu, saya mewakafkan waktu untuk bertatap muka dengan adik-adik junior di setiap cabang yang saya hadiri. Pertimbangan biaya training yang mahal itulah yang membuat saya berpendirian: bila usai materi saya langsung terbang pulang, bagi saya itu merupakan suatu kesombongan dan ketidakadilan.

Rute Zig-Zag Melintasi Kepulauan

Saya mencoba mempersepsikan rute perjalanan berdasarkan peta undangan cabang-cabang HMI yang mengundang saya sebagai pemateri. HMI Cabang Balikpapan di Kalimantan Timur dengan agenda LK II dan Senior Course; lalu lanjut ke Fakfak di Papua Barat dengan agenda LK II; dari Fakfak bergeser ke Ponorogo di Jawa Timur dengan agenda LK II dan LKK; setelah dari Ponorogo lanjut ke Manado di Sulawesi Utara dengan agenda LK II, LKK, dan SC; dan dari Manado berlanjut ke Bandung, Jawa Barat, dengan agenda LK II, LKK, dan SC. Sekali perjalanan udara menempuh jarak yang jauh, beribu-ribu kilometer, melintasi ruang udara demi menghadiri undangan training.

Mencermati rute perkaderan kali ini, dari satu kota perkaderan ke kota perkaderan lain, melintasi pulau-pulau besar di negeri ini, tergambar bahwa perjalanan training kali ini melewati rute yang zig-zag, seperti kelipatan huruf Z. Dari Balikpapan di Kalimantan Timur ke Fakfak di Papua Barat; dari Fakfak ke Ponorogo di pedalaman Pulau Jawa; dari Ponorogo ke Manado di Sulawesi Utara; lalu ke Bandung di pedalaman Jawa Barat.

Rute penerbangan perkaderan HMI seperti ini kerap saya hadapi. Seperti yang pernah terjadi beberapa waktu lalu, saya terbang dari Jakarta ke Ternate, dari Ternate ke Batam, Kepulauan Riau, untuk mengisi diskusi Milad HMI, selanjutnya dari Batam ke Merauke untuk agenda LK II, dari Merauke ke Tanjung Pinang untuk agenda LK II, lalu kembali ke Jakarta.

Kali ini pun demikian. Terbang dari Jakarta ke Balikpapan, lalu dari Balikpapan ke Fakfak juga tidak langsung, melainkan harus transit di Makassar dan Sorong, lalu ke Fakfak dengan pesawat kecil seperti Wings Air. Dari Fakfak ke Ponorogo juga tidak langsung; harus transit di Sorong dan Ambon, lalu ke Surabaya, kemudian berlanjut dengan travel menuju Gontor, Ponorogo, karena kebetulan lokasi training HMI Cabang Ponorogo berada di Wisma IKPM Gontor.

Dari Ponorogo bergeser ke Manado, penerbangan dari Surabaya ke Manado harus transit di Makassar. Begitu pula dari Manado ke Bandung, transit di Jakarta lalu naik Kereta Cepat Whoosh ke Bandung. Perjalanan seperti inilah yang saya maksud dengan zig-zag.

Ujian di Landasan Fakfak

Memang tidak mudah terbang melintasi konstruksi bumi Indonesia yang berbentuk kepulauan. Tentu saja ada halangan dan berbagai kendala yang menghadang. Memang tidak ada garis perjuangan perkaderan yang terlewati dengan mulus. Ketika hendak terbang, panitia belum mendapat konfirmasi tiket; tentu saya harus sabar dan ikhlas menerima perubahan waktu serta konsekuensi bergesernya jadwal yang lain.

Ada lagi tantangan lainnya. Saat landing dan take off di Fakfak, penerbangan seringkali terhalang oleh faktor kondisi alam, angin, dan kabut asap, terutama pesawat kecil tipe Wings Air. Bahkan pesawat tipe ini juga sering mengalami kerusakan teknis tanpa ada teknisi di tempat, sehingga terpaksa harus menunggu berjam-jam kedatangan teknisi dalam tenggang waktu yang cukup lama. Itulah sebabnya saya harus menunggu dua hari dan bolak-balik antara bandara dan Kota Fakfak, yang butuh waktu kurang lebih empat jam pulang-pergi. Belum lagi kondisi jalan yang terhalang oleh hilir-mudik manusia dan hewan yang melintas di badan jalan. Tetapi semua itu merupakan gambaran realitas sosial dan panorama yang indah.

Di sinilah ujian paling nyata yang dihadapi. Di sini pula medan bagi seorang instruktur atau master of training membentuk kepribadian yang berintegritas, menghadirkan kualitas diri dalam bentuk keikhlasan dan kesabaran yang tak terhingga. Ujian demikian tak perlu dihindari atau disesali, melainkan harus diterima dengan kesadaran yang optimal, karena di situlah jalan yang Allah pilih untuk menyempurnakan kualitas kemanusiaan seseorang. Sebaliknya, dewasa ini banyak manusia yang berkuasa, berjabatan, dan beruang, tetapi kehilangan hakikat kemanusiaan karena kehilangan daya tahan dalam menghadapi berbagai benturan.

Training sebagai Jalan Menempa Insan

Training HMI merupakan suatu proses yang terencana secara kurikuler untuk melembagakan nilai-nilai universal guna membentuk kepribadian muslim, yaitu memiliki keyakinan yang kokoh teguh terhadap keesaan Allah, baik esensi maupun eksistensi-Nya; kader yang memiliki kerangka berpikir dan attitude, karakter dan integritas, sehingga kader memiliki keyakinan yang benar, pandangan yang benar, dan sikap yang benar.

Dari situlah tumbuh keteguhan atau istiqomah dalam menggumuli berbagai pergolakan hidup: tidak guncang dan tidak goyah, tidak putus asa apalagi menyerah, dalam menghadapi berbagai permasalahan saat menunaikan tugas kekholifahan kepada sesama manusia dan pengelolaan bumi beserta segala isinya, sebagai wujud dan bentuk kehambaan kepada Allah SWT.

Fakfak: Masjid Tua Patimburak, Satu Atap Dua Iman

Di sela-sela kegiatan training, saya juga melakukan beberapa aktivitas lain yang berkaitan dengan kepentingan saya, sekaligus untuk memperkaya pandangan sosial, setidaknya bagi saya sendiri. Misalnya di Fakfak, saya mengunjungi Pulau Patimburak. Di sini ada masjid tua yang merupakan pintu masuk islam di Papua. Masjid di Patimburak ini semula merupakan kantor pemerintahan Belanda, lalu berubah menjadi rumah ibadah bersama antara umat Muslim dan umat Nasrani setempat. Namun kini, bangunan itu telah sepenuhnya menjadi rumah ibadah umat Islam.

Dari Fakfak, kami naik mobil Hilux ke ibu kota Kecamatan atau Distrik Kokas dengan waktu tempuh kira-kira 3 jam, lalu menyeberang dengan sampan motor sekitar satu jam hingga tiba di Pulau Patimburak. Dalam perjalanan yang menguji nyali, karena medan yang yang berbukit ini, saya ditemani oleh Dinda MIP, salah seorang cucu Pahlawan Nasional A.M. Sangadji, dan Zubair, putra asli Fakfak yang beristrikan putri Flores.

Pengalaman lain di sini: para ibu punya kebiasaan memancing ikan dengan sampan bermotor 20 PK, tidak jauh dari pulau-pulau di sekitarnya. Selain memancing, para ibu juga memetik buah pala, mengupas kulitnya, lalu menjemurnya hingga kering untuk dijual kembali.

Sejarah keberadaan masjid ini menggambarkan bahwa meski berbeda iman, terbangun relasi kemanusiaan yang bersaudara dari dalam satu rumah ibadah. Plural dalam agama dan keyakinan, tetapi bersujud dan berdoa dari satu rumah ibadah. Tentu bagi orang Papua, persoalan perbedaan agama tidak menjadi masalah. Yang menjadi sumber kerawanan dan fragmentasi, yang sering memicu ketegangan, adalah ketidakadilan ekonomi yang melahirkan ketidakadilan sosial. Pada intinya, hal itu mengguncang fondasi sosial; relasi sosial yang rapuh berdampak pada kerapuhan integrasi sosial.

Ponorogo: Mengapa HMI Selalu Pulang ke Gontor

Training HMI Cab. Ponorogo
MHR Shikka Songge pada Training HMI Cabang Ponorogo (Sumber: Istimewa)

Di Ponorogo, kebetulan training LK II dan LKK berlokasi di Wisma IKPM (Keluarga Almuni Pondok Modern), sehingga saya punya cukup waktu di sela-sela training. Saya menziarahi makam keluarga Trimurti di Kompleks Satelit Gontor, sholat Maghrib dan Isya di Masjid Darussalam, lalu berkeliling melihat aktivitas santri: sholat, makan, muhadhoroh, dan olahraga.

Tidak luput dari konsentrasi saya, ialah saya menginjakkan kaki saya hilir mudik di dalam Gedung BPPM, gedung yang baru dibangun untuk peringatan tasyakuran 1 abad Gontor. Gedung ini menggoreskan banyak kenangan yang membentuk cara pandang dan sikap hidup kami sebagai santri KMI Pondok Modern Darussalam Gontor. Di tempat ini kami mendapat asupan ruhani, nasihat, fikiran peradaban dari Pak Syahal dan Pak Zar. Pandangan guru-guru yang mulia ini, dengan ikhlas mengasuh dan mengarahkan jalan fikiran kami kami agar kami selalu punya etos untuk terus belajar.

Saya sangat berterima kasih karena masih ada waktu untuk menghirup aroma peringatan tasyakuran satu abad Pondok Modern Darussalam Gontor. Di kesempatan ini saya dapat mengenang kembali saat saat saya masih nyantri di Gontor. Memang momentum tasyakuran peringatan 1 abad Gontor saya tidak hadir, karena di saat yang sama, pada 19 September 2026, saya berada di arena training HMI Cabang Balikpapan dan akan terbang ke Fakfak, Papua Barat.

Kalau tidak salah, sudah lima kali saya datang mengisi materi training di HMI Cabang Ponorogo. Satu kali forum Senior Course, berlokasi di Aula Insan Cita Ponorogo, sedangkan empat forum lainnya di Gontor: satu kali di Wisma UNIDA dan tiga kali di Wisma IKPM.

Padahal di Ponorogo banyak tempat yang layak untuk kegiatan perkaderan HMI, sebab di Ponorogo juga banyak pondok pesantren yang bisa menerima kehadiran HMI. Tetapi pertanyaannya: mengapa anak-anak HMI lebih intens memilih Gontor, dan mengapa Gontor terkesan lebih welcome pada perkaderan HMI?

Tentu tidak mudah menjawabnya. Namun setidaknya, bagi saya, ada enam skema jawaban atas pertanyaan tersebut.

  1. Gontor milik umat dan berdiri di atas dan untuk semua golongan umat. Sementara HMI adalah organisasi yang berwatak independen, tidak terikat pada sektarianisme, mazhab, atau golongan tertentu.
  2. Gontor pernah melukis sejarah jihad melawan komunisme pada peristiwa Madiun tahun 1948 dan Gestapu tahun 1965. Para kiyai, ustadz, dan santri bersatu padu melawan gempuran komunisme. Para kiyai, Pak Sahal dan Pak Zarkasyi, berebut untuk menjadi syahid melawan komunisme. Bahkan nyawa Pak Sahal sudah di ujung meriam untuk dieksekusi oleh regu tembak atas fitnah Partai Komunis Indonesia. HMI pun punya sejarah perlawanan terhadap gerakan komunisme di Indonesia. Tahun 1948, HMI yang baru berusia satu tahun sudah berada di medan tempur. Tahun 1965, HMI juga berada di garda terdepan menghadapi komunisme, bahkan diancam bubar oleh CGMI dan tokoh-tokoh pemberontak lainnya. Soekarno pun pernah meminta Menteri Agama RI, KH Saifuddin Zuhri, untuk membubarkan HMI, tetapi permintaan itu ditolak oleh KH Saifuddin Zuhri.
  3. Perumus materi NDP, Cak Nur, yang juga seorang lulusan terbaik Gontor. Olehnya pada sisi tertentu isi NDP tidak lebih dari doktrin dan pola hidup yang diajarkan di Gontor: konsep tentang keesaan Tuhan, konsep kemandirian dan persaudaraan sesama anak manusia, konsep independensi yang terbentuk melalui perpaduan antara iman dan ilmu, serta konsep keadilan untuk semua tanpa diskriminasi. Kalau di HMI kita masih berdebat soal Tuhan, soal keadilan, soal kesetaraan, dan soal kemerdekaan, di Gontor semua itu sudah diaplikasikan menjadi sikap hidup, karakter, dan attitude santri. Gontor mengajarkan doktrin tentang kesetaraan santri yang berkeadilan: tidak ada bedanya antara anak pejabat, jenderal, konglomerat, dengan anak petani dan nelayan; semua sama. Kami di Gontor makan di dapur yang sama, dengan juru masak yang sama, rasa yang sama, dan harga yang sama.
  4. Anak-anak Trimurti, ketika kuliah di universitas dan perguruan tinggi, juga berhimpun dan beraktivitas di HMI untuk memperluas cakrawala pengetahuan dan horizon sosial, membentuk kepribadian mereka sebagai muslim intelektual. Pak Syukri, misalnya, juga pernah menjadi pengurus HMI Cabang Jakarta sebelum berangkat ke Mesir. Ibu Rosyidah Zarkasyi adalah pengurus Kohati Cabang Yogyakarta dan pernah menjadi presidium Konferensi HMI Cabang Yogyakarta. Ibu Amina Sahal juga pernah menjadi Ketua Kohati Fakultas Ushuluddin UIN Yogyakarta dan pengurus Kohati Cabang Yogyakarta.
  5. Gontor tidak mengajarkan kepatuhan dan ketaatan pada sosok yang disakralkan, seperti halnya pak kiyai, tetapi santri Gontor diajarkan untuk taat dan patuh pada nilai-nilai universal, pada sistem yang membentuk watak dan karakter santri. Maka kehidupan selama 24 jam di Gontor, dari bangun subuh hingga bangun subuh lagi, dikendalikan oleh lonceng. Begitu lonceng berbunyi, di situlah santri bergerak. Begitu pula di HMI: tidak ada doktrin yang mengajarkan tunduk dan patuh pada ketua umum atau senior sekalipun, tetapi kita diajarkan untuk tunduk, patuh, serta menghormati nilai kebenaran universal. Senior kita hormati dan patuhi selama ia mengajarkan kebaikan, kebenaran, dan keindahan; maka ia patut ditiru.
  6. Santri Gontor datang dari berbagai penjuru Indonesia, melebur menjadi satu, membangun kesadaran baru melalui ruang belajar, kamar tidur, pramuka, masjid, dapur makan, semua tempat itu menjadi ruang internalisasi untuk menemukan kemanusiaan baru atas dasar sistem pendidikan yang berbasis pada iman, menumbuhkan ilmu dan melahirkan kemampuan amal sholeh. Dari proses yang deimikian ini sanggup meruntuhkan sekat yang menjadi penjara bagi msnusia. Begitu juga HMI sebagai organisasi kader, rekrutmen anggotanya melalui training, yang datang dari berbagai penjuruh negeri, berbagai asal usul, berbagai latar budaya, dan aliran keagamaan, juga beragam daerah. Di rumah perkaderan HMI, mereka ditempa melalui trining di LK1 – LK3, dari Komisariat – PB HMI dan berbagai rangkaian training yang lain, semua itu untuk meruntuhkan sekat premordiaslme dan berbagai kelakuan primitif, berorientasi pada pembentukan karakter muslim intelectual yang berintegrity.
  7. Titik simpul antara Gontor dan HMI terletak pada kesamaan cita-cita, yakni sama-sama berperan mendidik manusia berkarakter, mencetak pemimpin Islam yang berkarakter dan berintegritas untuk didedikasikan kepada umat dan bangsa.

Manado: Ziarah, Jalan Roda, dan Kegelisahan Para Aktivis

Begitu pula di Manado. Selain bermateri di ruang LK II, LKK, dan SC, saya juga berziarah ke makam Adinda Ozy, salah seorang kader HMI Cabang Manado yang wafat pada tahun 2025 lalu. Menjelang waktu maghrib saya diantar oleh dinda Ali Said Ketum HMI Cabang Manado. Ozy, selaku Koordinator OC Training Raya HMI Cabang Manado tahun 2025, juga pernah mengundang saya menjadi salah satu pembicara NDP pada training tahun lalu. Almarhum seringkali menyapa saya, berdiskusi dengan saya melalui WhatsApp, dan mengabarkan kepada saya perihal dinamika organisasi serta kabar teman-teman dan adik-adik kader HMI Cabang Manado.

Selain itu, beberapa kali saya diajak oleh Saudara Ami Husaen, Mantan Ketua Umum HMI Cabang Manado, ke Jalan Roda atau popular disebut Jarod untuk menikmati kuliner khas Manado. Jalan Roda adalah sebuah ruang sosial yang memperlihatkan sisi lain dari potret wajah aktivis yang gelisah terhadap kusamnya wajah pembangunan.

Tentang kesenjangan sosial, ketidakadilan ekonomi, penguasaan sumber daya alam oleh segelintir orang bermodal, dan pembangunan berwajah bopeng yang tidak memihak kepada rakyat mengemuka di sana. Rakyat tergusur dari habitat yang dimilikinya, lalu melarat, dan akhirnya mati terkapar karena kelaparan di atas petak-petak tanah tambang. Semua itu terjadi atas nama kebijakan otoritarianisme, kebijakan monolitik yang dilegalkan oleh negara melalui skema UU Omnibus Law.

Seraya meneguk kopi, saya menyimak pandangan mereka melalui diskusi lepas yang ringan dan guyub, tanpa terhalang oleh unsur apa pun dan oleh siapa pun. Di Roda ini kita bertemu dengan para aktivis dari berbagai strata sosial.

Di tempat ini pula berbagai isu bisa dibahas: dari politik tingkat RT sampai sidang Mahkamah Konstitusi yang belum menemukan ijazah Gibran, entah hilang di mana ijazah itu. Soal bisnis, dari pemulung sampah plastik sampai bisnis tambang nikel, batu bara, gas bumi, ikan, sawit, dan uranium; soal gender; dari pemulung sampah sampai pemulung ijazah palsu dan pemulung jabatan.
Yang tidak kalah menarik, pada acara Car Free Day, saya diajak Ami Husaen yang akrab disapa Naed untuk lari pagi dan jalan sehat di Boulevard Manado. Lalu kami sarapan di Jalan Roda, dan di sini saya berpisah dengan Naed. Beliau melanjutkan perjalanan ke Surabaya untuk menengok putra sulungnya yang sedang kuliah di Fakultas Ushuluddin, Jurusan Teologi dan Filsafat, UNIDA (Universitas Darussalam) Gontor, Ponorogo. Saya sendiri kembali ke arena training.

Bandung: Tahajud Bersama Para HMI-Wati

Di Bandung, selain bermateri di forum LK II atau Intermediate Training, LKK, dan SC, saya juga diminta oleh Master LKK, Dinda Arum dan Maryam Jamilah, untuk bersedia membersamai peserta LKK melaksanakan sholat sunnah tahajud. Inilah peristiwa pertama yang saya hadapi sepanjang saya mengisi materi di forum LKK se-Indonesia. Di forum Intermediate Training dan Senior Course, memang saya biasa bersama tim Master Of Training LK2 menginisiasi menyelenggarakan sholat sunnah tahajud, mengingat sholat tahajud adalah salah satu pendekatan trsnsendantal dalam proses spiritualisasi untuk memperkuat kesadaran kemanusiaan. Perpaduan antara gerakan intelektual dan spiritualitas, menughkan kualitas kemanusiaan di dalam menunaikan fungsi ikhtiar.

Bandung memang menciptakan terobosan dalam membangun relasi transendental antara hamba dan Kholiq. Dalam proses ini, manusia menyerap ide-ide Tuhan yang suci dan absolut menjadi ide manusia yang relatif; atau merelatifkan ide Tuhan yang absolut menjadi ide empiris yang digerakkan, lalu menyejarah. Khususnya HMI-Wati, sebagai hamba dan kholifah, memiliki tugas kodrati.
Kekholifahan HMI-Wati adalah menunaikan tugas kodratinya sebagai perempuan, yang merupakan representation of Good. HMI-Wati datang menempati bumi dan menunaikan tugas kekholifahannya dengan mewakafkan rahimnya untuk bisa hamil, melahirkan, dan menyusui. Itulah ikhtiar mempersiapkan para kholifah yang akan hadir menempati ruang bumi dan menunaikan tanggung jawab serta kewenangan untuk mengatur keteraturan dan mengelola kemanfaatan potensi potensi yang tersimpan di bumi, demi mewujudkan kemaslahatan segenap penghuni bumi.

Jadi, bagi HMI-Wati, tahajud adalah suatu prosess merealisasi peran ikhtiar yang dilakukan secara paralel antara gerakan intelektual dan gerakan spiritualitas. Dari sinilah lahir bobot integritas, kemuliaan, dan kehormatan sosok perempuan HMI-Wati.
Dari rahim perempuan yang terhormat, perempuan yang berintegritas, perempuan bisa berekspektasi tentang arah maupun konstruksi perubahan yang akan terjadi. Secara teologis, Tuhan memberikan mandat atau kuasa kepada kaum perempuan, kepada HMI-Wati, sesuai kodratnya untuk turut menentukan arah dan kualitas dunia di masa depan. Sebaliknya, tanpa perempuan yang sanggup mewakafkan rahimnya untuk rekayasa janin (nuthfatan fī qarārin makīn), dunia pun akan berakhir. Di situlah arti penting perempuan bagi kehidupan yang dinamis.

Pulang ke Ciputat

Alhamdulillah, setelah kurang lebih 20 hari melewati kota-kota tujuan perkaderan HMI, perjalanan ini berakhir. Saya kembali ke Ciputat dengan selamat dan penuh kedamaian.

Terima kasih atas doa dan dukungan para senior, sahabat, dan junior semua.


Editor: Ihya Ulumuddin

Penulis

Avatar MHR Shikka Songge

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *