Puisi
-
Aku yang Membeli Neraka dengan Tanda Tangan Sendiri
Aku duduk di sudut kamar yang bisu, dinding menatapku seperti hakim pemarah. Kepalaku penuh suara-suara lama, mengingat tiap janji yang kubikin dengan mulut sembarangan.
-
Bendera Bahagia Milik Kita Semua
Karena bendera paling indah, adalah yang membuat semua orang merasa diterima. Bendera yang membuat kita tersenyum saat melihatnya. Bendera yang bisa kita warnai bersama, tanpa…
-
Puisi-Puisi Farhan Azizi
Wisuda tinggal foto untuk diubah jadi lamaran kerja / kepala pecah lagi, tapi bukan karena ujian—karena hidup nyata.
-
Serakah
Dan ketika tubuhnya lemah dan ia memanggil nama Tuhan ia akan sadar bahwa Tuhan pun pergi karena ia terlalu sibuk menjadi tuhan bagi dirinya sendiri
-
Kitab yang Ditulis Tanpa Darah
Dan selama kitab itu dijadikan standar/kita tak akan pernah bebas/Karena yang tertulis bukan kebenaran/tapi kehendak penguasa.
-
Versi Beta yang Belum Selesai
Aku tak pernah ingin kamu sempurna/karena aku sendiri masih versi beta/penuh bug, kadang hang, dan suka tiba-tiba blank/kalau kamu tersenyum.
-
Bahasa yang Retak di Lidah Sendiri
Di ujung baris ini, kata-kata masih menggeliat. Bahasa Indonesia, katamu warisan, katamu perekat, katamu janji, tapi di sela hurufmu selalu ada jeda untuk membelot.
-
Peti Mati di Kolom Komentar dan Puisi Lain
Dan dalam satu klik, / kematian itu digeser ke bawah layar. / Orang-orang kembali ke cerita selebritas dan promo bulan ini. / Korban pun jadi…
-
Angin Timur Indonesia
ataukah itu sekadar angin/yang ditiupkan oleh para petinggi/agar mimpi anak timur terbang/melayang, dan tak pernah jatuh ke bumi.
-
Puisi Maulia Ulfa
keren adalah sorot lampu/panggung tinggi/suara gemuruh yang menampar sepi.















