SAJAK UNTUK MEI

Sajak untuk Mei

TUBUHKU MENCAIR-GETIR

: 12 Mei 1998
ada yang menembus di kulitku
dingin dan cukup buatku membeku

penglihatanku mulai samar-samar
aku melihat tatap ibu

dan malaikat yang iba menatapku
penciumanku mulai mengendus keringat bapak

yang menunggu antara aku pulang
atau tersungkur menuju palung

tubuhku tiba mencair-getir
pendengaranku bercak-bercak

aku mendengar teriak kawanku yang menggulung
pula malaikat yang mengajakku ke palung

Cirebon, 2025

DI JALAN PANGERAN DIPONEGORO

: Wiji Thukul
Lekuk tubuhnya tak lagi berirama
seperti biasanya
Ia mulai membuat puisi dengan sari ganja
dan dilintingnya
di keriuhan miskin kota

Ia pun nyalakan sumbu puisinya dari huruf vokal
lalu dihisapnya perlahan-lahan supaya tak melukai puisinya
Dan kepulan-kepulan disemburkan sebelum ada yang menahan di dadanya

Orang-orang yang mendengarkannya mabuk semua
Orang-orang yang mendengarkannya sudah jadi tersangka
Orang-orang yang mendengarkannya tidak takut mati semua

Cirebon, 2025

SAJAK UNTUK MEI

Derap langkah dari pemuda berjas
mengecup dermaga dingin
Merebahkan suaranya pada dinding baja
Dan ditinggalnya hanya kata ingin

Darah diciptakan seperti angin

Jalanan memuntahkan para kaki yang kerap dicaci
Senja tenggelamkan matanya
pada segelas kopi yang tak dirindukannya lagi

Cirebon, 2025


Editor: Farhan Azizi

Penulis

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *