Suatu ketika saya bertanya kepada mahasiswa di kelas. Mengapa pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah sekarang banyak membahas teks? Ada yang menjawab sebab tuntutan kurikulum. Ada yang mengatakan sebab lebih mudah diukur. Ada yang berpendapat tuntutan zaman. Sebagian lagi menganggap teks hanyalah materi baru yang menggantikan pelajaran mengarang seperti pada masa lalu.
Jawaban-jawaban itu tidak sepenuhnya salah. Namun, sesungguhnya ada sejarah pemikiran yang panjang di balik perubahan tersebut. Salah satu tokoh yang berada di belakangnya adalah Michael Halliday [nama lengkapnya: Michael Alexander Kirkwood Halliday, lahir 1925 dan wafat 2018].
Bagi Halliday, bahasa bukan sekadar kumpulan kata dan aturan tata bahasa. Bahasa adalah alat untuk membangun makna dalam kehidupan sosial.
Pandangan ini membawa konsekuensi yang besar terhadap pembelajaran bahasa. Jika bahasa adalah alat membangun makna, maka yang seharusnya dipelajari bukan hanya kata, kalimat, atau aturan gramatikal secara terpisah. Yang perlu dipelajari adalah bagaimana bahasa digunakan dalam kehidupan nyata.
Di sinilah teks menjadi penting. Halliday tidak melihat teks sekadar sebagai bacaan yang terdiri atas beberapa paragraf. Teks adalah bahasa yang sedang bekerja dalam konteks tertentu. Ketika seseorang menulis berita, ia sedang menggunakan bahasa untuk menyampaikan informasi. Ketika menulis puisi, ia sedang menggunakan bahasa untuk mengekspresikan pengalaman dan perasaan. Ketika menulis prosedur membuat kopi, ia sedang menggunakan bahasa untuk memberi petunjuk.
Setiap teks memiliki tujuan sosial yang berbeda. Sebab itulah pembelajaran bahasa tidak cukup berhenti pada pertanyaan: Apa itu kalimat? Atau Apa itu kata benda? Pertanyaan yang lebih penting adalah: Untuk tujuan apa teks ini dibuat? Bagaimana teks ini bekerja? Bagaimana pilihan bahasa membantu mencapai tujuan tersebut? Inilah inti pendekatan berbasis teks.
Dalam perspektif Halliday, setiap teks selalu lahir dari konteks sosial tertentu. Sebuah berita berbeda dari cerpen sebab tujuan sosialnya berbeda. Artikel ilmiah berbeda dari puisi sebab fungsi sosialnya berbeda. Pidato berbeda dari iklan sebab hubungan antara penulis dan pembacanya berbeda. Oleh sebab itu, belajar bahasa berarti belajar memahami berbagai jenis teks yang digunakan masyarakat.
Ketika siswa mempelajari teks eksplanasi, mereka sesungguhnya sedang belajar bagaimana masyarakat menjelaskan fenomena. Ketika mempelajari teks argumentasi, mereka sedang belajar bagaimana masyarakat membangun pendapat dan meyakinkan orang lain. Ketika mempelajari teks cerpen, mereka sedang belajar bagaimana manusia menceritakan pengalaman hidup melalui narasi. Bahasa tidak lagi dipelajari sebagai aturan yang terpisah dari kehidupan. Bahasa dipelajari sebagai praktik sosial.
Di sinilah relevansi tiga metafungsi Halliday dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Metafungsi ideasional mengajarkan bahwa setiap teks merepresentasikan dunia. Misalnya teks berita tentang banjir. Siswa tidak hanya membaca informasi tentang banjir. Mereka juga belajar bagaimana suatu peristiwa direpresentasikan melalui pilihan kata, struktur kalimat, dan sudut pandang tertentu.
Metafungsi interpersonal mengajarkan bahwa setiap teks membangun hubungan antara penulis dan pembaca. Misalnya dalam teks pidato. Siswa belajar bagaimana bahasa digunakan untuk memengaruhi, mengajak, atau meyakinkan audiens. Metafungsi tekstual mengajarkan bahwa sebuah teks harus tersusun secara koheren.
Siswa belajar bagaimana paragraf saling terhubung, bagaimana ide berkembang, dan bagaimana sebuah teks dibangun agar mudah dipahami. Dengan demikian, pembelajaran bahasa tidak hanya menghasilkan siswa yang mampu membuat kalimat. Pembelajaran bahasa diharapkan menghasilkan siswa yang mampu menggunakan bahasa secara efektif dalam berbagai situasi kehidupan.
Sayangnya, dalam praktiknya pendekatan berbasis teks sering disalahpahami. Teks hanya dijadikan objek hafalan. Siswa diminta menghafal definisi teks eksposisi, teks prosedur, teks negosiasi, atau teks eksplanasi tanpa benar-benar memahami fungsi sosialnya. Akibatnya, pembelajaran kembali terjebak pada klasifikasi.
Padahal Halliday ingin membawa bahasa keluar dari ruang hafalan menuju ruang kehidupan. Yang penting bukan menghafal ciri-ciri teks argumentasi, melainkan memahami cara argumen dibangun untuk memengaruhi pembaca. Yang penting bukan menghafal struktur teks eksplanasi, melainkan memahami bagaimana bahasa digunakan untuk menjelaskan dunia.
Pada akhirnya, pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis teks sesungguhnya mengandung gagasan yang sangat humanis. Ia berangkat dari keyakinan bahwa bahasa bukan sekadar pelajaran sekolah. Bahasa adalah cara manusia hidup bersama sesamanya.
Melalui bahasa, seseorang belajar menjelaskan dunia, mengungkapkan perasaan, menyampaikan gagasan, menyelesaikan konflik, dan membangun pengetahuan.
Sebab itulah ketika siswa belajar teks, sesungguhnya mereka tidak hanya belajar bahasa. Mereka sedang belajar menjadi anggota masyarakat yang mampu berpikir, berkomunikasi, dan memberi makna pada kehidupannya. Di balik gagasan besar itu terdapat pemikiran Michael Halliday yang mengingatkan kita bahwa bahasa bukan sekadar aturan yang harus dihafal, melainkan sarana manusia untuk memahami dunia dan dirinya sendiri.
Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara.
Tinggalkan Balasan