Medali Palsu dan Status Sosial Baru Masyarakat

Medali Palsu dan Status Sosial Baru Masyarakat

Medali itu ibarat buah di pohon. Manisnya baru benar-benar terasa ketika prosesnya dibiarkan matang secara alami, bukan hasil karbitan apalagi paksaan. Demikian pula pencapaian. Jika pencapaian yang kita dapatkan tanpa melalui proses yang matang dan terukur, maka pencapaian itu sebenarnya hanya ‘medali’ palsu.

Tengok saja pemandangan di media sosial. Estetika secangkir kopi menemani layar laptop yang menyala di jam tiga pagi seakan sudah jadi rutinitas wajib untuk dipamerkan. Bagi banyak anak muda, khususnya Generasi Z atau Gen Z, unggahan semacam ini dianggap sebagai bukti sahih untuk meraih medali palsu tersebut. 

Kalau mau ditarik mundur, tren ini mendapat panggung berkat cuitan Elon Musk pada 2018. Lewat akun X miliknya, bos Tesla ini melempar narasi bahwa untuk menciptakan perubahan besar, seseorang harus sanggup bekerja 80 hingga melampaui 100 jam per minggu. Ia bahkan terang-terangan menyebut bahwa ambang batas rasa sakit baru akan terasa berlipat ganda setelah melewati angka 80 jam.

Gara-gara pernyataan dari figur sekelas Musk, isi kepala generasi muda yang hidupnya beririsan antara dunia nyata dan digital perlahan mulai tercuci. Mereka semakin yakin bahwa bekerja layaknya mesin tanpa kenal lelah adalah harga mati untuk sebuah kesuksesan. 

Meskipun istilah ‘hustle’ adalah bahasa gaul modern, akar pemikirannya sebetulnya sudah ada sejak ratusan tahu lalu. Sosiolog Jerman Max Weber (1905) melalui bukunya The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism mengidentifikasi bahwa kerja keras tanpa henti dan menumpuk kekayaan mulai dilihat bukan sekadar sebagai cara bertahan hidup, melainkan sebagai panggilan moral dan kewajiban spiritual.

Mari gunakan sedikit logika sederhana. Musk adalah pemilik perusahaan raksasa. Sangat wajar jika ia rela bekerja sampai lupa waktu, mengingat setiap jam yang ia korbankan akan berbanding lurus dengan pertambahan aset dan pundi-pundi kekayaannya. Lantas, bagaimana dengan pekerja biasa? Jam lembur yang menggunung bukannya menambah aset kepemilikan, melainkan murni hanya menambah beban tugas dari atasan.

Jauh dari keriuhan narasi Musk, riset John Pencavel pada 2014 bertajuk The Penalty of Overwork sebenarnya sudah membantah mitos gila kerja ini. Pencavel membuktikan bahwa produktivitas manusia itu punya batas maksimal. Begitu melewati ambang batas kelelahan, memaksakan diri untuk terus bekerja nyaris tidak membawa manfaat apa-apa. Bukannya pekerjaan cepat selesai, yang terjadi malah energi terkuras habis dan risiko melakukan kesalahan melonjak drastis.

Skala bahayanya makin mengerikan jika kita membaca rilis gabungan dari WHO dan ILO. Mereka mencatat, pada 2016 ada sekitar 745 ribu kematian akibat stroke dan penyakit jantung iskemik yang dipicu langsung oleh jam kerja yang terlampau panjang. Angka kematian ini melompat 29 persen dibandingkan awal tahun 2000-an. Bayangkan saja, orang yang bekerja 55 jam atau lebih dalam seminggu menanggung risiko terkena stroke 35 persen lebih tinggi, sekaligus risiko kematian akibat jantung 17 persen lebih besar ketimbang mereka yang jam kerjanya normal di angka 35–40 jam.

Ironisnya, Musk sendiri pada akhirnya sempat melontarkan curhatan di The New York Times. Ia mengakui bahwa ritme kerja brutal yang ia jalani sebenarnya membawa dampak yang sangat buruk, bahkan sampai membuat orang-orang terdekatnya diselimuti kekhawatiran. Pesannya jelas: mendedikasikan hidup murni untuk pekerjaan mungkin bisa melahirkan korporasi bernilai triliunan, namun itu sama sekali tidak menjamin hadirnya kehidupan yang sehat secara fisik maupun mental.

Sayangnya, realita di lapangan tetap saja berjalan seolah tidak terjadi apa-apa. Data BPS periode 2022–2025 memotret fakta bahwa sekitar 25,5 persen atau 37,3 juta pekerja beroperasi lebih dari 49 jam seminggu. Jika disandingkan dengan standar undang-undang ketenagakerjaan, jutaan manusia ini jelas-jelas terjebak dalam pusaran overwork. Kondisi memprihatinkan ini menumpuk di sektor-sektor krusial seperti transportasi, perdagangan, hingga teknologi informasi. Ini menjadi bukti telak bahwa persoalannya sudah menggurita secara sistemik dan struktural, bukan sekadar urusan segelintir orang yang kelewat rajin.

Gejala ini sejatinya sudah tercium tajam sejak lama. Pada 2015, hasil survei Jakpat terhadap 260 pekerja kantoran di kota-kota besar mengungkap sebuah fakta yang bikin miris: 85 persen responden mengaku rutin bekerja lembur. Hampir separuh dari mereka menambah jam kerja satu hingga tiga jam, dan sebagian lainnya bahkan tembus lebih dari lima jam ekstra per harinya.

Mirisnya, banyak dari mereka melakukan lembur bukan karena diancam atau dipaksa secara fisik oleh perusahaan, melainkan akibat beban kerja yang menumpuk di luar nalar serta kejaran tenggat waktu yang mencekik. Sekalipun sadar betul bahwa lembur membakar habis energi dan mengacaukan fokus, lebih dari separuh pekerja ini masih saja menganggap gaya kerja tersebut efektif.

Pada titik inilah, budaya hustle tak lagi sekadar tekanan dari luar. Ia telah bermetamorfosis, mendarah daging menjadi keyakinan personal. Generasi muda rela membakar habis masa mudanya dengan jam kerja panjang karena terlanjur menelan mentah-mentah sebuah ilusi: bahwa itulah satu-satunya jalan untuk meraih medali palsu.

Kelelahan, Status Sosial Baru Masyarakat

Jika dibedah menggunakan pisau analisis pemikir modern, akar dari fenomena gila kerja ini rupanya jauh lebih kelam. Situasi ganjil di mana seseorang secara sukarela mengeksploitasi dirinya sendiri sangat presisi untuk dijelaskan lewat kacamata filsuf Byung-Chul Han, melalui konsepnya tentang burnout society (masyarakat kelelahan).

Menurut Han, peradaban kita hari ini telah bergeser dari “masyarakat disiplin” menuju “masyarakat prestasi”. Di masa lalu, orang bekerja keras karena dipaksa oleh sistem eksternal. Ibarat buruh pabrik yang diawasi ketat oleh mandor. Mantranya adalah “kamu harus”. Namun saat ini, cambuk itu telah berpindah ke tangan kita sendiri. Mantranya dimodifikasi menjadi “kamu bisa”: sebuah bentuk kepositifan yang toksik. Kita dicekoki motivasi tanpa henti untuk melampaui batas, berkreasi, dan menjadi versi terbaik dari diri sendiri. Ilusinya kita merasa merdeka, padahal kenyataannya kita sedang memeras keringat kita sendiri sampai tumbang. Kita secara tragis telah merangkap peran sebagai majikan sekaligus budak bagi diri sendiri.

Lantas, mengapa sistem ini mampu membuat orang rela menjadi “budak” atas inisiatif pribadi? Jawabannya tersembunyi di balik jerat neoliberalisme, atau yang oleh teoretikus Mark Fisher dijuluki sebagai realisme kapitalis (capitalist realism). Sistem ekonomi modern berhasil merangsek masuk ke alam bawah sadar, mencuci otak kita hingga tiba pada titik di mana rasanya mustahil membayangkan ada alternatif cara hidup di luar produktivitas tanpa henti.

Sistem ini menancapkan dogma kuat: jika kamu miskin atau gagal, itu sepenuhnya salahmu sendiri karena kurang gigih berupaya. Imbasnya, muncul rasa bersalah yang menggerogoti pikiran tiap kali kita kepergok sedang bersantai. Waktu luang akhirnya dikutuk sebagai sebuah dosa dan wujud kemalasan.

Kian tragis karena realitas yang melelahkan ini diperparah oleh apa yang disebut sosiolog Jean Baudrillard sebagai simulacra dan hyperreality (realitas semu). Di mata generasi muda saat ini, ‘terlihat sibuk’ telah beralih wujud menjadi komoditas baru sekaligus simbol status sosial yang elite. 

Kembali pada tren foto kopi puku tiga pagi; dalam pusaran hiper-realitas ini, entah pekerjaannya benar-benar selesai atau sekadar menggulir layar gawai, itu tidak lagi relevan. Yang jauh lebih krusial adalah citra dan estetikanya. Mereka tak lagi memuja hasil karya, melainkan memuja simbol kesibukan itu sendiri. Rasa lelah dan kurang tidur lantas diklaim sebagai lencana kehormatan demi memvalidasi harga diri mereka di mata publik.


Editor: Andi Surianto

Penulis

Avatar Farhan Azizi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *