Puisi
Rubrik untuk suara segala jenis Puisi
-
Puisi-Puisi Farhan Azizi
Wisuda tinggal foto untuk diubah jadi lamaran kerja / kepala pecah lagi, tapi bukan karena ujian—karena hidup nyata.
-
Serakah
Dan ketika tubuhnya lemah dan ia memanggil nama Tuhan ia akan sadar bahwa Tuhan pun pergi karena ia terlalu sibuk menjadi tuhan bagi dirinya sendiri
-
Setan Merah di Senjakala
“Glory glory” jadi gema palsu/bertabrak rindu di dada fans yang tetap setia/meski tiap akhir pekan jadi luka baru.
-
Kitab yang Ditulis Tanpa Darah
Dan selama kitab itu dijadikan standar/kita tak akan pernah bebas/Karena yang tertulis bukan kebenaran/tapi kehendak penguasa.
-
Versi Beta yang Belum Selesai
Aku tak pernah ingin kamu sempurna/karena aku sendiri masih versi beta/penuh bug, kadang hang, dan suka tiba-tiba blank/kalau kamu tersenyum.
-
Ruang Tunggu
Aku tidak mengerti. Tapi aku diam. Dalam ruang tunggu, keheningan adalah mata uang yang paling berharga.
-
Menanti Nasi Sisa dan Puisi Lainnya
seorang lelaki tua duduk di trotoar kota/bukan untuk meminta-minta/melainkan menanti nasi sisa yang jatuh/dari tangan orang yang duduk manis/di dalam gedung-gedung tinggi
-
Bahasa yang Retak di Lidah Sendiri
Di ujung baris ini, kata-kata masih menggeliat. Bahasa Indonesia, katamu warisan, katamu perekat, katamu janji, tapi di sela hurufmu selalu ada jeda untuk membelot.
-
Peti Mati di Kolom Komentar dan Puisi Lain
Dan dalam satu klik, / kematian itu digeser ke bawah layar. / Orang-orang kembali ke cerita selebritas dan promo bulan ini. / Korban pun jadi…
-
Gamelan Hilang Nada
Maka dengarlah, dengarlah suara gamelan dari desa, yang nadanya tak kau akui, tapi nadanya—itulah irama negeri ini.















