Opini
Rubrik untuk suara-suara subjektif namun reflektif dan tetap mengakar pada fakta
-
Sekolah Rakyat: Menjahit Ulang Pendidikan dari Pinggiran
Posisi Sekolah Rakyat di bawah Kemensos bisa mengesankan bahwa pendidikan dianggap sebatas bentuk bantuan sosial jangka pendek, bukan hak konstitusional warga negara dan investasi jangka…
-
Perubahan Partai Politik di Indonesia dari Pluralisme Awal ke Politik Personal
Pasca Reformasi, budaya partai bergeser menjadi lebih personal. Partai menjadi kendaraan politik untuk tokoh atau keluarga, dan kerap bergantung pada modal besar. Kaderisasi lemah membuat…
-
Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,12%: Antara Data Resmi dan Persepsi Lapangan
Pertumbuhan di atas lima persen sering dipandang sebagai tanda ekonomi yang sehat dan dinamis. Namun, tidak sedikit pula yang mengernyitkan dahi. Di media sosial, komentar…
-
Royalti Pemutaran Lagu, Menghargai Pencipta Bukan Menutup Pintu bagi Pendengar
Sistem distribusi royalti yang cenderung “yang kaya semakin kaya” memperkuat dominasi lagu populer dan meminggirkan musisi independen, padahal kafe dan ruang publik berfungsi sebagai kurator…
-
Tan Malaka di Era Media Sosial: Andai Ia Masih Hidup
Jika Tan Malaka masih hidup di era media sosial, ia kemungkinan besar akan menjadi content creator yang menggunakan berbagai platform digital.
-
Wakil Menteri jadi Komisaris BUMN: Sinergi atau Konflik Kepentingan?
Meskipun penempatan wakil menteri bertujuan memperkuat pengawasan, bukti internasional dan panduan tata kelola menyarankan sebaliknya. Penting bagi Indonesia untuk mengarah ke tata kelola BUMN berbasis…
-
Bendera One Piece dan Amarah Diam Anak Muda: Ketika Simbol Fiksi Menyalip Realitas Politik
Dalam dunia One Piece, mimpi adalah kompas. Dalam dunia kita, mimpi tampaknya sedang dibatasi oleh silsilah. Tapi anak muda selalu punya cara untuk melawan.












