Tan Malaka di Era Media Sosial: Andai Ia Masih Hidup

Tan Malaka di Era Digital: Sang Content Creator Ideologis

Tan Malaka dikenal sebagai salah satu pemikir politik paling gigih dan tanpa kompromi di masa pergerakan kemerdekaan Indonesia. Lahir pada 2 Juni 1897 di Sumatra Barat, ia hidup menentang kolonialisme Belanda hingga mematangkan gagasan proklamasi kemerdekaan. Semasa hidupnya, Tan Malaka menulis banyak buku dan artikel tentang sosialisme, nasionalisme, serta perjuangan rakyat kecil. Ia sering bergerak di garis keras, menekankan pentingnya ideologi dan teori dalam berpolitik.

Seandainya ia masih hidup di era digital kini, rasanya ia tidak akan menyia-nyiakan platform media sosial untuk menyebarkan pemikirannya. Baginya, media sosial—dari blog hingga video singkat di YouTube atau TikTok—bisa menjadi ‘kuburan’ ideologis atau justru ladang subur gagasan, tergantung bagaimana cara menggunakannya. Tan Malaka pasti akan menjelma menjadi content creator yang produktif dan kritis, meskipun bentuk karyanya akan sangat jauh berbeda dengan konten komersial dangkal yang sering kita lihat sekarang.

Strategi Multi-Platform: Menjangkau Berbagai Generasi

Apabila kita tengok lanskap media sosial modern, semua orang bisa menjadi content creator, termasuk aktivis politik. Saya membayangkan Tan Malaka tidak akan membatasi diri hanya pada satu platform. Ia akan sangat agresif dan strategis menjangkau audiens lintas generasi, terutama milenial dan Gen Z:

  1. YouTube & Podcast: Menjadi ruang untuk diskusi intelektual, debat, kuliah daring tentang sejarah pemikiran, hingga membedah teori politik Karl Marx secara mendalam.
  2. Twitter/X: Menjadi medium untuk melontarkan komentar tajam, sindiran kritis terhadap politisi pragmatis, dan menyebar kutipan-kutipan inspirasional.
  3. Instagram: Dimanfaatkan untuk membagikan infografis sejarah dan menyiarkan sesi Live interaktif.
  4. TikTok: Menguji kemampuannya merangkum isu berat ke dalam video berdurasi satu menit dengan bahasa yang populer, lugas, namun tetap memegang kaidah bahasa yang baik agar mudah dicerna anak muda.

Kritik Tajam terhadap Pragmatisme Politik

Sebagai pemikir yang paham betul perpotongan antara ekonomi dan politik, Tan Malaka pastinya akan menjadikan platformnya sebagai corong kritik terhadap pragmatisme yang kini merajalela. Sejarah mencatat bahwa ia sering mengkritik kelompok nasionalis yang ia anggap “terlalu lembek” dan mudah menyerah.

Melihat situasi politik Indonesia saat ini, di mana partai-partai kerap berganti koalisi demi mengejar kursi dan mengaburkan ideologi, Tan Malaka pasti akan mencibir “politik dagang sapi” semacam ini. Melalui vlog atau tulisannya, ia akan mendesak partai agar kembali memperkuat dasar ideologi, bukan sekadar memikirkan strategi kemenangan jangka pendek. Ia akan mengkritik elit yang hanya berani bicara isu hangat di media sosial namun abai pada nasib petani dan buruh. Dalam menyoroti hilangnya prinsip politik ini, ia mungkin akan berkata sambil tersenyum sinis, “Politik tanpa prinsip itu seperti kapal tanpa kompas.”

Sejarah, Madilog, dan Realitas Akar Rumput

Tan Malaka adalah sosok yang sangat menaruh perhatian pada konteks sejarah dan sosial. Dalam Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) yang ditulisnya tahun 1943, ia berupaya menggabungkan filsafat Barat dengan kearifan lokal Nusantara untuk membentuk cara berpikir revolusioner. Di era sekarang, kesadaran ini akan ia tuangkan ke dalam konten edukatif.

Ia mungkin akan memproduksi video dokumenter pendek yang membandingkan kondisi era 1940-an dengan realitas masa kini, mengajak generasi muda mengingat akar perjuangan bangsanya. Lebih dari itu, Tan Malaka yang lahir dari pendidikan tinggi namun selalu lekat dengan rakyat biasa, kemungkinan besar akan mendokumentasikan kunjungannya ke pedesaan. Ia akan berbincang dengan petani, melakukan eksperimen sosial kecil tentang keadilan distributif, dan memperlihatkan realitas pembangunan daerah secara langsung.

  • Substansi di Atas Popularitas

    Apakah Tan Malaka akan menjadi selebritas online? Mungkin beberapa kontennya akan viral, tapi itu bukanlah tujuan utamanya. Ia tidak akan terjebak menjadi viral tanpa makna. Ia mungkin tidak peduli dengan jumlah subscriber atau likes, melainkan pada seberapa efektif pesannya mengedukasi dan menggugah kesadaran masyarakat luas. Ia bahkan tidak akan ragu menantang kontroversi dengan analisis-analisisnya, meski itu membuatnya menjadi sorotan pihak berkuasa.

    Di tengah dunia yang kini penuh dengan disinformasi dan hoaks, sosok content creator seperti Tan Malaka bisa mengarahkan kembali percakapan politik ke ranah substansi. Ia tak sekadar membuat konten demi views, melainkan untuk menggerakkan. Jika kreator seperti beliau hadir, masyarakat kita bisa belajar mengaitkan teori dan praktik, serta sejarah dan masa kini, agar bangsa ini tetap berpegang teguh pada semangat ideologis perjuangannya.**

    Penulis

    Avatar Redaksi

    Komentar

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *