Balai Pikir – Hari Pendidikan Nasional akan diperingati tiga hari lagi. Pada setiap 2 Mei peringatan itu datang selalu dengan gema yang sama, tetapi rasa yang kerap berbeda. Seperti lonceng pagi yang dibunyikan berulang, tetapi maknanya akan berbeda tergantung siapa yang mendengarkan.
Pendidikan sejatinya adalah perjalanan panjang kehidupan setiap insan. Prosesnya mengalir tenang, yang menandakan kedalaman, tak beriak—berbunyi atau bergerak seperti air yang dangkal.
Namun, apa yang sejati dari pendidikan tampaknya kurang bersahabat dengan kehidupan masa kini—riuh-rendah berkelindan tak beraturan. Inilah yang kemudian membentuk angka, grafik, atau juga piala menjadi simbol suatu keberhasilan dalam proses pendidikan.
Oleh karenanya, pendidikan di masa kini tampak layaknya arena lomba. Prestasi diukur dengan angka. Pencapaian semata diukur dari nilai ujian, medali olimpiade, dan sertifikat kejuaraan.
Bukan Mempersiapkan Masa Depan
Memang tidak ada yang keliru dari itu. Kompetisi bukan musuh. Prestasi bukan kesalahan. Namun, ketika semuanya direduksi menjadi angka, kita mulai kehilangan makna.
Akibatnya, sekolah berlomba menunjukkan capaian. Brosur penuh dengan deretan juara. Nama-nama siswa dipajang seperti trofi. Dan, semua itu demi satu tujuan. yakni menarik lebih banyak peserta didik. PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) menjadi panggung besar, dan sekolah menjelma menjadi institusi yang harus “menjual diri”.
Namun, ketika jumlah siswa melampaui daya tampung, kualitas perlahan terkikis. Kelas menjadi padat. Relasi menjadi renggang. Guru kehilangan ruang untuk mengenal muridnya lebih dalam. Pendidikan berubah menjadi sistem produksi massal.
Kualitas sering disempitkan. Ia diartikan sebagai kepatuhan. Datang tepat waktu. Berseragam rapi. Tugas selesai. Hafalan lancar. Semua tampak tertib. Namun, di balik itu, kita jarang, atau bahkan sama sekali tak sempat untuk bertanya, apakah mereka benar-benar belajar? Apakah mereka tumbuh?
Jika kita menyepakati John Dewey, seorang filsuf Amerika Serikat yang merintis dasar keilmuan di bidang psikologi pendidikan, maka kita akan sepakat bahwa belajar atau pendidikan itu bukanlah ajang untuk menyiapkan masa depan seseorang.
Menurut Dewey pendidikan adalah bagian dari kehidupan itu sendiri dan bukan untuk mempersiapkan masa depan. “education be viewed as process of living and not preparation for future living”
Dalam sebuah riset yang dilakukan oleh Esther Christiana, dijelaskan bahwa pandangan Dewey ini bukan dalam arti mengabaikan masa depan nara didik. Sebab, bukankah perjalanan kehidupan itu sendiri—yang di dalamnya selalu melalui proses belajar—integral dengan proses penyempurnaan diri, atau yang oleh para filsuf disebut dengan kegiatan iman dan kegiatan transitif.
Proposisi di atas membawa kita kepada pemahaman bahwa belajar tidak bisa serta merta diartikan hanya tentang duduk di dalam ruang kelas. Belajar itu sendiri adalah seluruh peristiwa yang dialami dalam kehidupan, seperti perjumpaan, keberanian bertanya, serta kegagalan yang dipeluk dan bukan ditakuti.
Maka dengan begitu “pendidikan yang hidup” adalah “pendidikan yang menghidupkan”. Mencerahkan sesuatu yang gelap, menggerakkan sesuatu yang diam, menghimpun sesuatu yang terpisah, atau mengharmonikan sesuatu yang terdikotomi.
Pendidikan Serba Terukur
Tapi, kini, sistem pendidikan semakin menajamkan aspek kognitif. Tes kemampuan akademik hadir sebagai alat ukur baru. Olimpiade menjadi standar keunggulan. Semua serba terukur. Semua serba pasti.
Pendekatan ini lahir dari cara pandang positivistik. Segala sesuatu harus bisa dihitung. Harus bisa diuji. Harus bisa dibandingkan.
Awalnya, ini digunakan di dunia kerja. Untuk menilai kinerja. Untuk menentukan upah. Lalu, logika itu masuk ke ruang kelas. Pendidikan mulai diatur seperti mesin. Ada input. Ada proses. Ada output. Bahkan ada outcome. Sekolah menyerupai pabrik. Siswa menjadi produk.
Ijazah menjadi tiket menuju dunia kerja. Kurikulum disusun agar relevan dengan industri. Semua diarahkan untuk satu tujuan: bekerja. Seolah-olah, hidup hanya tentang itu.
Padahal, pendidikan lebih luas dari sekadar persiapan kerja. Ia adalah proses menjadi manusia. Ia adalah upaya memahami diri. Ia adalah perjalanan menuju kedewasaan.
Belajar tidak memiliki batas. Ia tidak berhenti di bangku sekolah. Ia tidak selesai saat wisuda. Ia terus berjalan, sepanjang hidup.
Sayangnya, pendidikan formal sering terasa kaku. Terlalu banyak aturan. Terlalu banyak target. Tapi, terlalu sedikit ruang untuk bernapas.
Institusi Pendidikan dan Berbagai Relasinya
Ada pula sisi lain yang jarang dibicarakan. Pendidikan terhubung dengan ekonomi. Semakin banyak siswa, semakin besar dana yang mengalir. Sekolah dan kampus tidak lagi hanya tempat belajar, tetapi juga bagian dari sistem finansial.
Akibatnya, logika kuantitas mengalahkan kualitas. Banyaknya peserta menjadi kebanggaan. Padahal, yang lebih penting adalah bagaimana mereka dibentuk.
Kesuksesan pun sering disalahartikan. Seolah hanya bisa diraih melalui jalur pendidikan formal. Padahal, hidup jauh lebih kompleks.
Ada keterampilan yang tidak diajarkan di kelas. Kemampuan berkomunikasi. Kepekaan sosial. Keberanian mengambil risiko. Semua itu lahir dari pengalaman.
Relasi juga berperan besar. Keluarga, lingkungan, kesempatan—semua memengaruhi jalan hidup seseorang. Bahkan keberuntungan pun ikut ambil bagian.
Maka, memaknai Hari Pendidikan Nasional tidak cukup dengan seremoni. Tidak cukup dengan pidato. Ia membutuhkan perenungan.
Pendidikan perlu dikembalikan ke habitat aslinya. Ke ruang yang lebih manusiawi. Ke tempat di mana nilai-nilai tumbuh secara alami.
Ada tiga pusat pendidikan yang saling terhubung. Keluarga, sekolah, dan masyarakat. Ketiganya tidak bisa berdiri sendiri.
Keluarga adalah awal segalanya. Di sanalah anak pertama kali belajar. Bukan tentang rumus, tetapi tentang rasa.
Kasih sayang menjadi bahasa pertama. Sentuhan menjadi pelajaran awal. Sejak dalam kandungan, hubungan itu sudah terjalin.
Ibu adalah sekolah pertama. Ia mengajarkan kelembutan. Ia menunjukkan keteguhan dalam diam. Dari dirinya, anak belajar mencintai.
Ayah melengkapi. Ia hadir dengan ketegasan. Dengan logika. Dengan prinsip. Dari ayah, anak belajar berdiri.
Keduanya membentuk keseimbangan. Kelembutan dan kekuatan. Perasaan dan pikiran. Inilah fondasi karakter.
Kemudian, anak melangkah ke sekolah. Di sana, ia bertemu dunia yang lebih luas. Ia belajar hidup bersama orang lain.
Guru menjadi sosok penting. Bukan hanya pengajar, tetapi juga penuntun. Ia tidak sekadar menyampaikan materi, tetapi menanamkan nilai.
Kejujuran. Tanggung jawab. Disiplin. Semua itu tidak cukup diajarkan. Ia harus dicontohkan.
Sebagaimana semboyan Ki Hajar Dewantara, Ing Ngarso Sung Tulodo: Di Depan Memberi Teladan. Ing Madyo Mangun Karso: Di Tengah Membangun Semangat.
Tut Wuri Handayani: Di Belakang Memberikan Dorongan.
Itu artinya, guru seorang panutan, motivator, dan pendorong bagi siswa. Ia menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat, memerdekakan, dan berkarakter.
Namun, ada hal yang sering terlupakan: kepercayaan. Tanpa kepercayaan, pendidikan kehilangan ruhnya.
Siswa perlu diberi ruang untuk bertanggung jawab. Untuk membuat pilihan. Untuk belajar dari kesalahan.
Jika setiap kesalahan dihukum, mereka akan belajar bersembunyi. Jika setiap kejujuran diabaikan, mereka akan belajar berpura-pura.
Guru yang baik tidak menghakimi. Ia menginspirasi. Ia membuka jalan. Ia mendampingi.
Mengajar bukan menghajar. Mendidik bukan membentak. Pendidikan adalah proses merangkul.
Lalu, ada masyarakat. Ia adalah ruang belajar yang paling luas. Di sinilah nilai diuji dalam kenyataan.
Lingkungan membentuk karakter. Ia bisa menguatkan. Ia juga bisa merusak.
Masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang beradab. Yang mampu menyelesaikan masalah dengan bijak. Yang tidak mudah tersulut emosi.
Pendidikan di masyarakat terjadi setiap hari. Dalam percakapan. Dalam konflik. Dalam kerja sama.
Pemerintah memiliki peran penting. Ketika pendidikan dan kesehatan menjadi prioritas, masyarakat akan tumbuh lebih kuat.
Masyarakat yang cerdas tidak akan main hakim sendiri. Ia akan memilih jalan hukum. Ia percaya pada proses.
Hari ini, dunia menghadapi tantangan baru. Salah satunya adalah ketahanan pangan. Ini bukan sekadar isu ekonomi, tetapi juga pendidikan.
Setiap individu perlu memahami pentingnya produksi. Tidak hanya konsumsi. Minimal, untuk diri sendiri.
Negara-negara mulai kembali ke sumber daya lokal. Mereka sadar akan pentingnya kemandirian. Terutama di tengah krisis global.
Di sisi lain, lahan pertanian semakin berkurang. Berganti menjadi bangunan. Menjadi industri. Menjadi jalan.
Padahal, tanah adalah sumber kehidupan. Tanpa itu, kita kehilangan pijakan.
Pendidikan tidak boleh diam. Ia harus terlibat. Ia harus mengajarkan kesadaran.
Sekolah bisa menjadi ruang belajar tentang alam. Tentang pangan. Tentang keberlanjutan.
Anak-anak perlu diajak menyentuh tanah. Menanam. Merawat. Memanen. Dari situ, mereka belajar menghargai.
Pendidikan tidak hanya terjadi di buku. Ia terjadi di kehidupan.
Maka, pada momen menjelang Hari Pendidikan Nasional ini, kita harus berharap, agar momen ini bisa menjadi momen refleksi. Bukan sekadar perayaan.
Pendidikan Kemanusiaan
Kita perlu bertanya ulang: untuk apa kita belajar? Untuk siapa pendidikan ini?
Jika jawabannya hanya angka, maka kita telah tersesat. Jika jawabannya adalah manusia, maka kita berada di jalan yang benar.
Pendidikan bukan tentang siapa yang paling cepat. Bukan tentang siapa yang paling tinggi nilainya. Ia tentang siapa yang paling utuh. Utuh dalam berpikir. Utuh dalam merasa. Utuh dalam bertindak.
Kita membutuhkan pendidikan yang membumi. Yang tidak tercerabut dari realitas. Yang tidak menjauhkan anak dari keluarganya. Anak bukan milik sekolah sepenuhnya. Ia bagian dari keluarga. Bagian dari masyarakat.
Ketika pendidikan menjauhkan mereka dari dua hal itu, kita sedang menciptakan jarak. Jarak yang berbahaya.
Sekolah seharusnya menjadi miniatur masyarakat. Tempat belajar hidup bersama. Tempat memahami perbedaan. Bukan tempat membangun kasta. Bukan tempat menciptakan elit.
Semua anak berhak tumbuh. Semua anak berhak belajar. Tanpa label. Tanpa sekat.
Berdasarkan semua itu, maka pendidikan adalah tentang kemanusiaan. Tentang bagaimana kita menjadi lebih baik. Bukan hanya pintar, tetapi juga bijak. Bukan hanya cerdas, tetapi juga peduli.
Hari Pendidikan Nasional adalah pengingat. Bahwa perjalanan ini belum selesai. Bahwa masih banyak yang perlu dibenahi. Kita tidak membutuhkan sistem yang sempurna. Kita membutuhkan niat yang tulus.
Dari keluarga yang hangat. Dari guru yang peduli. Dari masyarakat yang sadar. Di sanalah pendidikan menemukan maknanya. Di sanalah manusia dibentuk.
Dirgahayu Hari Pendidikan Nasional. Semoga kita tidak hanya merayakannya, tetapi juga memahaminya.





