Menggali Konsep “Inner Beauty” Ala Kartini di Masa Kini

Menggali "Inner Beauty" Kartini Masa Kini

Balai Pikir – Nama Raden Ajeng Kartini kerap dipanggil kembali setiap April, tapi gaungnya sering berhenti pada seremoni. Padahal, seandainya Kartini hidup kembali, mungkin ia tidak hanya berbicara tentang kebebasan perempuan dari pingitan fisik, tetapi juga dari “pingitan digital”, sebuah ruang luas yang tampak bebas, namun diam-diam membentuk standar baru yang tak kalah mengekang. Di sinilah pentingnya menggali makna inner beauty Kartini masa kini sebagai tandingan atas dominasi outer beauty yang semakin menguat.

Fenomena perempuan modern menunjukkan paradoks yang menarik. Di satu sisi, perempuan memiliki akses luas terhadap pendidikan, karier, dan ruang publik. Namun di sisi lain, media sosial justru menghadirkan tekanan baru berupa tuntutan untuk selalu tampil menarik dan layak dilirik. Platform digital tidak sekadar menjadi ruang ekspresi, ia juga menjelma arena visual yang sering menggeser nilai dari substansi ke penampilan.

Kita begitu mudah melihat contoh konkret pada maraknya tren beauty influencer. Banyak perempuan muda berlomba-lomba menampilkan wajah tanpa cela, tubuh ideal, dan gaya hidup estetik. Tidak ada yang salah dengan merawat diri, namun persoalan muncul ketika nilai diri direduksi menjadi sekadar visual. Seorang mahasiswi, misalnya, bisa merasa kurang percaya diri bukan karena kurang kompeten, tetapi karena tidak memenuhi standar kecantikan yang viral di media sosial. Ini adalah bentuk baru dari penindasan yang halus oleh algoritma dan popularitas.

Industri Konten Digital: Selera Pasar vs Idealisme di Tengah Budaya yang Patriarkal

Kasus lain tampak pada penggiat perempuan di industri konten digital. Banyak kreator perempuan mengaku “dipaksa” mengikuti selera pasar agar tetap relevan dan menghasilkan. Konten edukatif atau kritis kerap kalah populer dibanding konten yang menonjolkan penampilan fisik. Akibatnya, pilihan yang tersedia menjadi sempit antara bertahan dengan idealisme atau menyesuaikan diri dengan tuntutan pasar. Dalam kondisi semacam ini, tubuh perempuan berisiko kembali menjadi komoditas belaka.

Lebih jauh, fenomena body shaming dan pelecehan verbal di ruang digital memperlihatkan bahwa perempuan masih dinilai dari aspek yang dangkal. Seorang aktivis perempuan yang vokal, misalnya, sering diserang bukan pada argumennya, tetapi pada penampilannya. Ini mempertegas cara pandang patriarkal masih bertahan, hanya berganti media.

Konsep “Inner Beauty” Ala Kartini

“Seorang guru perempuan di daerah terpencil yang tetap mengajar dengan dedikasi tinggi, meskipun tanpa sorotan publik, adalah representasi inner beauty yang nyata.”

Di tengah ganasnya gelombang digital, konsep inner beauty ala Kartini menjadi relevan untuk direkonstruksi. Bagi Kartini, kecantikan tidak terletak pada tampilan fisik, melainkan pada pikiran yang tercerahkan, keberanian untuk bersuara, dan komitmen terhadap kemanusiaan. Inner beauty adalah tentang integritas, kecerdasan, dan kepekaan sosial yang tidak bisa diukur oleh jumlah likes atau followers.

Perempuan masa kini kiranya perlu menggali kembali nilai-nilai inner beauty dalam berbagai bentuk yang lebih konkret. Seorang guru perempuan di daerah terpencil yang tetap mengajar dengan dedikasi tinggi, meskipun tanpa sorotan publik, adalah representasi inner beauty yang nyata. Begitu pula seorang ibu yang mendidik anak-anaknya dengan nilai kritis di tengah gempuran konten digital, atau seorang mahasiswa yang berani menyuarakan isu ketidakadilan meski berisiko mendapat serangan di media sosial. Mereka mungkin tidak viral, tetapi dampaknya jauh lebih mendalam.

Menggali inner beauty juga berarti membangun kesadaran kritis terhadap sistem yang ada. Perempuan tidak harus menolak dunia digital sebagai realitas baru yang tak mungkin dihindari. Literasi digital menjadi kunci agar tidak terjebak dalam standar semu. Dengan kemampuan berpikir kritis, perempuan dapat memilih untuk tidak sekadar menjadi objek komoditas.

Perjuangan Bersama

Namun demikian, tanggung jawab tersebut tidak bisa dibebankan pada perempuan semata. Masyarakat perlu mengubah cara pandang yang masih bias terhadap perempuan. Platform digital harus lebih bertanggung jawab terhadap algoritma yang mereka ciptakan. Negara pun harus hadir dengan regulasi yang melindungi perempuan dari kekerasan berbasis digital. Tanpa perubahan struktural, perjuangan individu akan selalu menghadapi batas.

Pada akhirnya, menggali inner beauty Kartini masa kini bukanlah upaya untuk menolak kecantikan luar, tetapi bagaimana menempatkannya pada proporsi yang bijak. Cantik secara permukaan boleh dirawat tanpa mengesampingkan kecantikan dari dalam. Jika kecantikan perempuan dihargai sebatas rupa, maka kita sedang memadamkan terang cita-cita Kartini menjadi gelap kembali.


Editor: Farhan Azizi

Penulis

Avatar Ahmad Fatoni

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *