Tere Liye kembali menyapa pembacanya dengan karya berjudul Teruslah Bodoh, Jangan Pintar. Jika sekilas judul ini terkesan seperti buku motivasi atau kumpulan esai reflektif, kenyataannya jauh lebih gelap dan mencekam. Buku ini adalah sebuah novel fiksi bergenre thriller hukum dan lingkungan. Dengan label usia 18+, Tere Liye menanggalkan gaya penceritaannya yang manis dan menggantinya dengan narasi yang brutal, tanpa filter, dan menguras emosi guna menguliti realitas pahit oligarki di Indonesia.
Ruang Sidang sebagai Arena Pertarungan
Secara struktur, novel ini sangat unik karena sebagian besar plotnya berpusat di sebuah ruangan sempit berukuran 3×6 meter, yakni ruang persidangan. Cerita berputar pada gugatan class action yang diajukan oleh sekelompok aktivis lingkungan (terdiri dari pengacara idealis, jurnalis, hingga rakyat biasa) melawan raksasa tambang, PT Semesta Mineral & Mining.
Melalui adegan kesaksian di pengadilan, pembaca ditarik ke dalam alur flashback yang mengungkap kejahatan korporasi tersebut selama puluhan tahun. Narasi ini secara gamblang memperlihatkan perampasan tanah, pembungkaman suara rakyat, hingga tragedi memilukan seperti kematian Badrun—seorang anak desa yang tewas tenggelam di lubang bekas galian tambang yang sengaja ditelantarkan perusahaan.
Dekonstruksi “Kepintaran” dan “Kebodohan”
Di sinilah esensi dari judul buku ini menemukan maknanya yang tajam. Tere Liye membangun satire melalui penokohan karakter yang saling bertolak belakang.
Si “Pintar” direpresentasikan oleh barisan pengacara korporasi yang licin, CEO tambang yang serakah, dan aparat negara yang korup seperti karakter Mayor Bacok. Mereka cerdas secara intelektual, tahu cara mencari celah hukum, pintar memanipulasi fakta, dan lihai membeli keadilan demi uang dan kekuasaan.
Si “Bodoh” adalah para aktivis, warga desa, dan tokoh-tokoh protagonis yang bersikeras melawan raksasa dengan tangan kosong. Mereka dianggap bodoh karena menolak disuap, menolak menyerah pada pragmatisme, dan secara naif masih percaya bahwa kebenaran harus diperjuangkan meski mustahil untuk menang.
Melalui fiksi ini, Tere Liye menampar kenyataan sosial kita: dalam sistem yang busuk, orang-orang “pintar” menggunakan kecerdasannya untuk menindas, sementara mereka yang berintegritas sering kali terpinggirkan, dikalahkan, dan dicap “bodoh”.
Kritik Sosial yang Mengoyak Kewarasan
Buku ini adalah kritik sosial yang ditelanjangi. Penulis tidak segan memperlihatkan bahwa dunia ini tidak selalu adil, dan hukum sering kali tumpul ke atas namun runcing ke bawah. Tere Liye menyoroti bagaimana sistem ekonomi dan politik memberi panggung bagi mereka yang tahu cara bermain di area abu-abu. Mereka tidak selalu melanggar hukum di atas kertas, karena merekalah yang bisa “membeli” hukum itu sendiri.
Pembaca tidak diajak untuk sekadar menikmati keindahan literasi, melainkan diajak untuk marah, frustrasi, dan berempati terhadap korban konflik agraria yang suaranya jarang terdengar di media arus utama.
Teruslah Bodoh, Jangan Pintar bukanlah bacaan santai. Ini adalah cermin masyarakat yang menakutkan sekaligus pengingat yang sangat penting. Jika menjadi “pintar” berarti harus menjarah alam, merampas hak orang kecil, dan mematikan nurani, maka jauh lebih mulia dan terhormat untuk tetap menjadi “bodoh”. Ini adalah penghormatan bagi mereka yang keras kepala mempertahankan kejujuran di tengah dunia yang makin manipulatif.
Identitas Buku
Judul: Teruslah Bodoh Jangan Pintar
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Sabak Grip Nusantara
Tahun: 28 Jan 2024
ISBN: 9786238882205
Halaman: 371






Tinggalkan Balasan