Tungku di Tengah Hutan

Tungku di Tengah Hutan

Di bawah pohon beringin yang besar, terdapat sebuah tungku yang terbangun sangat megah. Tungku ini digunakan untuk memberi makan seluruh penghuni hutan dengan standar hasil masakan yang lezat dan sehat. Namun, di dalamnya tidak hanya terdapat aroma yang menggugah selera, melainkan ada juga bau tidak sedap tentang kongkalikong di bawah meja para binatang terpilih.

Beruang ditunjuk Raja Hutan sebagai pemimpin di setiap tungku. Tubuhnya sudah terlatih berbulan-bulan, badannya juga sangat besar. Namun, ia selalu gelisah, matanya selalu mencuri-curi pandang ke arah dahan pohon yang paling tinggi. Ia takut sewaktu-waktu dicopot dari jabatannya atau dipindahkan.

Beruang bukanlah penguasa sebenarnya di sekitar tungku, ada pemasok bahan makanan yang punya kuasa lebih besar dan berdampak, ia adalah Musang. Musang yang memegang kunci gudang, menentukan daftar harga sendiri untuk pasokan bahan makanannya, serta punya pengaruh yang dapat membuat mata Beruang terbelalak, gemetar, dan berkeringat dingin.

Suatu hari Musang mencari Beruang ke sekitar tungku, “Bagaimana menu hari ini?” tanya Si Musang. Ia tiduran di atas meja Beruang, tangannya bersilang di dada, kaki disandarkan di atas meja tepat di depan muka Si Beruang.

“Anu, e… ini ada laporan dari Burung Hantu dan Berang-berang,” jawab Beruang dengan terbata-bata. “Mereka bilang, bahan makanan kita kurang nutrisi dan angka-angkanya juga tidak masuk akal, mereka berdua tidak mau tanda tangan.” Si Musang tertawa terbahak-bahak sambil memegang perut buncitnya yang bergoyang. Ia berkata, “Panggil mereka ke sini.”

Burung Hantu dan Berang-berang datang dengan membawa tumpukan daun lontar berisi catatan laporan yang beragam. Ada catatan sehari, seminggu, dan sebulan.

“Tuan, sayuran ini layu, dan dagingnya sudah berubah warna. Kita harus menyerap hasil panen dari Kelinci, ia adalah petani yang andal; Banteng juga dianggap sebagai peternak terbaik di hutan ini,” kata Burung Hantu menyampaikan laporannya.

Si Musang melengos dan tidak menatap mereka lagi. Ia menatap Beruang sambil memainkan kuku tangannya dan berkata, “Pimpinan tungku, sepertinya bawahanmu ini terlalu banyak membaca buku. Mungkin mereka bosan bekerja di sini?”

Beruang langsung pucat. Ia memukul meja, melotot, dan mengerang di hadapan anak buahnya.

“Cukup! Kalian ini hanya formalitas! Tanda tangani saja daun-daun itu, tugas kalian adalah membuat semuanya terlihat legal, bukan membuat saya pusing!”

Burung Hantu dan Berang-berang saling pandang. Mereka tahu, jika mereka bersuara lebih keras, paruh dan moncong mereka akan disumpal atau mereka akan ditendang keluar dari hutan. Maka, terjadilah kongkalikong. Setiap pagi, gerobak Si Musang masuk membawa bahan makanan tanpa kualitas yang bagus tetapi mahal.

Kelinci-kelinci di pinggir hutan hanya bisa menonton dengan sedih dan geram, hasil panen mereka membusuk karena tidak pernah diserap oleh tungku. Alasannya selalu sama, tidak sesuai standar administrasi.

Rakyat hutan mulai merasa sakit perut, tapi di papan pengumuman depan tungku, tertempel laporan bertanda tangan lengkap:

“Menu Hari Ini: Bernutrisi, Sehat, dan Lezat.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *