Mengoyak Topeng Egosentrisme Tabiat Manusia sebagai Penguasa

Mengoyak Topeng Egosentrisme Tabiat Manusia sebagai Penguasa

Sejarah pemikiran politik klasik sering kali bersandar pada satu rumusan ideal: keabsahan sebuah kekuasaan mutlak bergantung pada kebaikan moral sang penguasa. Pandangan ini begitu kental mewarnai berbagai literatur dan buku panduan kepemimpinan warisan Abad Pertengahan hingga era Renaisans. Pesan yang digaungkan nyaris seragam. Apabila seorang raja mendambakan takhta yang aman, stabilitas pemerintahan yang tak tergoyahkan, serta transisi kekuasaan yang damai bagi penerusnya, jalan utamanya adalah kesalehan. Pada masa itu, orang-orang telanjur percaya bahwa kelurusan etika akan berbanding lurus dengan panjangnya umur kekuasaan. Rakyat diyakini bakal tunduk secara sukarela lantaran terpukau oleh integritas dan kedalaman spiritual sang pemimpin—sebuah tesis yang belakangan turut dibedah oleh Briggs dan Nederman (2022).

Namun, romantisasi politik semacam itu justru ditelanjangi oleh Niccolo Machiavelli lewat magnum opus-nya, Il Principe (Sang Pangeran). Pemikir garda depan dari Florence ini menolak keras penggunaan moralitas sebagai neraca untuk menimbang keabsahan suatu rezim. Baginya, wibawa dan kekuatan fisik adalah dua entitas yang saling berkelindan. Barang siapa sanggup memonopoli instrumen kekerasan, maka dialah sang pemilik otoritas sejati. Karakter personal yang terlampau luhur justru tak ada artinya apabila sang penguasa mengantongi nihil kekuatan; eksistensinya tidak akan pernah digubris. Machiavelli dengan berani mendobrak pakem-pakem usang tersebut dan meletakkan fondasi baru bahwa hakikat politik sesungguhnya sangat lugas: bagaimana merebut dominasi, lalu mempertahankannya mati-matian.

Urusan legitimasi atau hak suci kepemimpinan? Di mata Machiavelli, hal itu hanyalah pepesan kosong jika tidak dikawal oleh taring kekuatan yang riil. Pemikiran seliar ini tentu tidak lahir dari lamunan di ruang hampa, melainkan tempaan realitas yang ia saksikan sendiri selama jatuh bangun menjadi birokrat di Republik Florence. Pengalaman di lapangan membuktikan kepadanya bahwa bermodal niat baik dan kebenaran semata sama halnya dengan menyetor nyawa di arena politik yang ganas. Melalui risalahnya, ia bermaksud membuka tabir mengenai tata cara kerja kekuasaan yang sebenarnya. Agar selamat dan berjaya, seorang penguasa mutlak harus menguasai seni mengeksekusi kendali politiknya. Kepatuhan rakyat dan keutuhan negara, menurutnya, hanya bisa dijamin lewat manuver paksaan yang dikalkulasi dengan matang.

Konsekuensi logis dari pola pikir pragmatis inilah yang membuat Machiavelli rela menyingkirkan pertimbangan etis ketika harus menetapkan keputusan politik. Pendiriannya semakin gamblang tatkala ia membedah benang merah antara perangkat hukum dan instrumen kekerasan.

Ia memang tidak menafikan bahwa negara yang teratur harus bersandar pada dua pilar: hukum yang mapan dan angkatan bersenjata yang digdaya. Sayangnya, ada catatan kaki yang sangat krusial di sini. Lantaran hukum hanya bisa dihormati jika di belakangnya terdapat elemen paksaan, Machiavelli memutuskan untuk memusatkan seluruh energinya pada urusan militer. Pernyataannya sungguh menohok, “Karena undang-undang yang bagus tidak akan terbentuk apabila tidak terdapat pasukan yang kuat, dan di mana terdapat pasukan yang kuat maka akan ada undang-undang yang bagus. Saya tidak akan membicarakan undang-undang, namun saya akan membicarakan mengenai pasukannya” (Hlm. 77).1 Pesannya tak perlu ditafsirkan ganda. Hukum itu bisu tanpa adanya ancaman fisik. Berteori soal keabsahan hukum tanpa punya kapasitas militer untuk memaksakannya adalah kemustahilan di semesta Machiavelli.

Puncak dari gagasan liarnya lantas mengerucut pada satu simpulan legendaris yang senantiasa mengundang perdebatan: seorang pemimpin yang rasional sebaiknya memilih untuk ditakuti ketimbang dicintai oleh rakyatnya. Represi fisik dan intrik kelicikan dinilai jauh lebih ampuh untuk menundukkan massa daripada selembar aturan hukum di atas kertas. Pesimisme Machiavelli terhadap keluhuran budi manusia terekam jelas dalam pengamatannya yang teramat sinis:

Karena seringkali manusia secara umum disebut tidak tahu berterima kasih, munafik, tamak, takut akan bahaya; selama Anda memberikan keuntungan kepada mereka, mereka adalah milik Anda sepenuhnya… Manusia tidak segan-segan membela dia yang mereka takuti daripada mereka cintai karena rasa cinta diikat dengan rantai kewajiban, karena manusia pada dasarnya egois, maka pada saat mereka telah mendapatkan apa yang mereka inginkan, rantai tersebut akan putus; namun rasa takut dipertahankan oleh hukuman-hukuman yang menakutkan yang tidak pernah gagal” (Hlm. 106).2

Analisis ini mempertegas satu hal: Machiavelli sama sekali tidak mempercayai adanya kesetiaan yang murni lahir dari panggilan moral. Kepatuhan rakyat tak lebih dari sekadar reaksi alamiah atas ketakutan mereka terhadap sanksi, entah itu hilangnya kebebasan sipil, properti, maupun nyawa. Tentu saja, pameran mesin kekerasan tak lantas mampu menguasai kehendak batin manusia. Secara filosofis, kepatuhan sejati mestinya bersifat sukarela, yang memberi keleluasaan bagi individu untuk mengambil opsi perlawanan. Namun, celakanya, kemewahan untuk menolak tunduk hanya dimiliki oleh segelintir orang; yakni mereka yang kebetulan mengantongi daya tawar lebih besar dari sang penguasa, atau mereka yang memang sudah nekat membenturkan nasib ke hadapan mesin represi negara.

Pada titik inilah, esensi Il Principe akhirnya terpampang nyata. Seluruh bangunan argumennya sengaja dirancang untuk membuktikan bahwa konstelasi politik murni soal efektivitas kekuatan pemaksa—sebuah terminologi yang secara cerdas dibahasakan oleh Yves Winter (2018) sebagai “tatanan kekerasan”. Wibawa atau hak berkuasa sama sekali tidak memiliki kemandirian eksistensial. Machiavelli meramu postulat ini tidak berdasarkan ilusi, melainkan observasi tajam atas realitas historis dan panggung politik kontemporer di masanya, yang sekaligus mengoyak topeng egosentrisme tabiat manusia.

Berkoar-koar mengenai hak memimpin tanpa menggenggam monopoli atas kekerasan politik adalah kesia-siaan belaka. Seorang politisi naif yang menyandarkan nasibnya semata pada legitimasi moral di atas kertas, pelan tapi pasti, akan dilumat oleh pamornya sendiri. Dalilnya amat sederhana. Dalam palagan konflik politik yang banal, pihak yang memprioritaskan instrumen kekuatan niscaya akan selalu menggilas aktor yang hanya pandai merapal ayat dan memoles wibawa. Tanpa kompromi, marwah negara dan produk hukumnya akan menguap menjadi sekadar teks yang mati, kecuali jika instrumen negara bersedia memamerkan otot-ototnya untuk memaksa siapa pun agar tunduk tanpa celah.

Catatan
Artikel ini adalah adaptasi dari entri “Niccolò Machiavelli” yang ditulis oleh Cary Nederman dalam The Stanford Encyclopedia of Philosophy (Edisi Spring 2025), yang bersumber dari E. N. Zalta & U. Nodelman (Eds.), The Stanford Encyclopedia of Philosophy (Spring 2025 Edition). https://plato.stanford.edu/archives/spr2025/entries/machiavelli/

Sumber kutipan buku mengalami penyesuaian untuk pembaca Indonesia.

  1. Niccolo Machiavelli. (2025). Il Principe (Sang Pangeran). Penerjemah: Dwi Ekasari Aryani. Yogyakarta: NARASI. Hlm. 77 ↩︎
  2. Hlm. 106 ↩︎

Daftar Pustaka

Machiavelli, N. (Tahun Terbit). Il Principe (Sang Pangeran). Yogyakarta: Narasi.

Nederman, C. (2025). Niccolo Machiavelli. Dalam E. N. Zalta & U. Nodelman (Eds.), The Stanford Encyclopedia of Philosophy (Spring 2025 Edition). https://plato.stanford.edu/archives/spr2025/entries/machiavelli/

Penulis

Avatar Redaksi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *