Esai
Rubrik untuk suara-suara kreatif dan mendalam tentang apa saja yang terjadi di sekitar
-
Membaca, Aktivitas yang Kian Diujungkan
Sejak lama, manusia membaca sebagai bagian dari kebudayaan: dari relief batu, dari papirus, dari lembaran-lembaran kitab, hingga dari layar-layar terang yang kita bawa ke mana-mana…
-
Menghapus Jurusan Filsafat Demi Masa Depan Pendidikan
Jika ingin filsafat tetap relevan, ubah format pengajarannya. Jangan jadikan ia ruang eksklusif tanpa tanggung jawab langsung. Ciptakan ilmu yang berpadu dengan industri dan teknologi.
-
Piring Politik: Ketika Program Gizi Menjadi Alat Kekuasaan
Dalam sejarah bangsa, terlalu banyak program besar yang gagal karena tidak berbasis pada kebutuhan nyata rakyat. Program makan siang bergizi bisa menjadi pengecualian jika dikelola…
-
Kenapa Membaca Jadi Kunci Bertahan di Zaman Sekarang (Dan Kenapa Kamu Nggak Boleh Nganggap Remeh
Membaca adalah latihan otak paling sederhana tapi paling efektif. Saat kamu membaca, kamu melatih fokus.
-
Akal Imitasi
Akal imitasi telah mengubah cara kita bekerja, belajar, berkomunikasi, bahkan mencintai. Namun, ia tidak bisa menggantikan keheningan setelah patah hati.
-
Kopi dan Budaya Kelas Menengah
Ironisnya, narasi “kopi lokal” justru digunakan oleh pemilik kafe di kota besar sebagai jualan branding, meski nilai tambahnya tidak kembali ke petani. Ini menunjukkan adanya…
-
Superman 2025: Mitos Baru di Tengah Krisis Identitas Budaya
Superman (2025) bukan sekadar film superhero besar; ia menjadi simbol kebudayaan utama jamannya.
-
Hidup adalah Roller Coaster: Menyambut Guncangan dengan Penuh Kesadaran
Hidup adalah roller coaster; perjalanan yang tidak bisa kita kendalikan sepenuhnya, tapi bisa kita rasakan sepenuhnya.
-
Menjemput Masa Depan Ekonomi Pemuda: Refleksi atas Audiensi BAKORNAS LEMI PB HMI dengan OJK Malang
BAKORNAS LEMI PB HMI dan OJK Malang sinergi literasi ekonomi, bahas pinjol, judi online, dan edukasi keuangan pemuda di daerah.
-
Ketika Sejarah Bertemu Kepentingan
Sejarah lebih menyerupai kanvas. Ia bisa dilukis, dihapus, ditimpa, dan diwarnai sesuai selera pelukisnya. Dan pelukis sejarah—baik itu negara, penguasa, atau institusi pendidikan—selalu memiliki motif.
















