Pantun Redup, Mengungkap Penurunan Popularitas Pantun di Era Sastra Saat Ini

Pantun Redup, Mengungkap Penurunan Popularitas Pantun di Era Sastra Saat Ini

Mengikuti adat di perantauan
sembari ditemani kekasih hati
teruslah menulis pantun
agar Pantun Sepopuler Puisi.

Balai Pikir – Pantun di atas bukan hanya sekadar kata-kata yang dimainkan pengarang, melainkan karya sastra yang diwariskan para leluhur secara turun temurun yang memiliki makna untuk dipahami dan dipelajari. Akan tetapi, karya sastra satu ini tidak mencapai viralitas seperti teman-temannya, yakni puisi, cerpen, cerbung, dan fiksi mini.

Sebagai pencinta pantun, saya kerap kali menelusuri pantun-pantun di pencarian Google untuk mengetahui apakah ada pantun terbaru. Hasil yang saya dapatkan hanyalah pantun lama yang telah bertahun-tahun tersurat di redaksi-redaksi. Saya juga menelusuri apakah ada redaksi yang terbuka terhadap pantun. Hasilnya, saya menyatakan bahwa sedikit sekali redaksi yang terbuka terhadap pantun.

Saya juga mencoba menggali apakah ada penulis yang menghadirkan tulisan terbaru tentang pantun khususnya menyoroti keredupan pantun dibandingkan jenis sastra lainnya. Satu yang saya dapatkan dan itu membuat saya semakin semangat untuk mengangkat keresahan ini menjadi berbentuk tulisan.

Kenyataannya di era sastra kontemporer ini, puisi, cerpen, cerbung, dan fiksi mini yang mendominasi jejak di media sosial. Redaksi-redaksi jarang terbuka untuk pantun. Bahkan perlombaan sastra juga jarang memandang kehadirannya. Sangat jarang ada lomba menulis pantun. Biasanya dipenuhi lomba menulis puisi dan lomba menulis cerpen. Lalu, pameran sastra untuk menghadirkan pantun juga jarang adanya.

Padahal isi dari pantun lebih sedikit dibandingkan karya sastra lain. Lalu, mengapa pantun tidak bisa mengimbangi kepopuleran teman-temannya?

Pantun dengan Sejarahnya

Pantun merupakan salah satu jenis karya sastra dalam bentuk puisi lama yang memiliki bait yang terdiri atas empat baris dengan sajak a-b-a-b yang memiliki nilai-nilai. Wahyuni mendefinisikan pantun sebagai sastra lisan yang berkembang dalam bentuk tulis, disertai dengan yang sudah mengenal dunia tulis. Ia juga menambahkan pantun sebagai puisi lama yang telah lahir lebih dulu sebelum puisi.

Pantun muncul pertama kali sebagai bentuk puisi lisan untuk kepentingan si pembuat pantun, seperti menghibur, rayuan percintaan, atau untuk kepentingan adat. Pada abad XV, pantun menjadi bagian kebudayaan Melayu.

Faktor-faktor Penyebab Pantun Tidak Sepopuler Teman-temannya

Penurunan popularitas pantun pastinya disebabkan beberapa faktor yang menjadi penyebabnya. Di antara berikut ini:

#1 Bentuk Terbatas

Pantun hanya terdiri atas empat baris dalam satu bait. Walaupun bisa terdiri dari beberapa bait, setiap baitnya tidak memiliki pembahasan yang sama sehingga dalam penulisannya sudah langsung dibatasi. Oleh karena itu, untuk membuatnya lebih kreatif memiliki tantangan tersendiri.

Berbanding terbalik dengan cerpen, puisi, fiksi mini, dan cerbung yang memiliki jumlah kata yang lebih banyak. Bahkan, keempat sastra tersebut dapat disisipkan dengan majas yang dapat membangkitkan imajinasi pembaca yang berguna untuk membuat pembaca tidak merasa bosan dan mempermanis isi yang ada.

Kemudian, biasanya diperindah juga dengan gambar yang relevan dengan isi yang ada. Sementara itu, biasanya pantun hanya terdiri dari kata-kata yang sederhana dan tidak memiliki gambar.

#2 Tidak Mengikuti Tren yang Ada

Digitalisasi dapat dengan cepat mengubah tren. Saat ini, kebanyakan pengarang suka dengan “Puisi Instagram” diperindah dengan format konten yang menarik. Cerpen, cerbung, dan fiksi mini yang diunggah di media sosial dengan gambar-gambar yang mempermanis isi cerita.

Pantun yang terbatas untuk dikreasikan kurang mendukung untuk diunggah hanya sekadar kata-kata di media sosial. Karena media sosial tempat yang menarik pengguna, dibutuhkan kreativitas lebih untuk membuat para pengguna tertarik.

#3 Media Ogah Terbuka untuk Pantun

Media ogah membuka rubrik pantun karena pantun pendek dan isinya mudah ditebak. Jika dibukukan membutuhkan beberapa bait yang berulang untuk dijadikan hingga mencapai jumlah kata yang dibutuhkan, sedangkan cerpen, puisi, dan fiksi mini mudah dikompilasi jadi analogi penjualan terbaik.

Media lebih memilih yang menguntungkan mereka. Padahal, jika media kreatif dan memberikan perhatian lebih terhadap pantun, pastinya kehadiran pantun juga akan membawa dampak baik untuk mereka.

Membangkitkan Pantun supaya Sepopuler Karya Sastra Lainnya

Jangan sampai hanya karena permasalahan di atas, pantun benar-benar hilang dari jagat nusantara. Pantun karya sastra yang harus dilestarikan supaya generasi yang akan datang masih dapat menemui puisi lama ini.

#1 Menggunakan Bahasa Kiasan (Majas)

Bagi pengarang, diperkenankan untuk menyelipkan majas pada isi pantun dengan catatan ada anotasi di bawah isi pantun. Misalnya, pantun di bawah ini.

Ada manggis di plastik hitam
dimakan kekasih Siti
bila kamu dijadikan kambing hitam
kamu boleh panas hati.

Kambing hitam dalam isi pantun merupakan majas metafora yang artinya orang yang dipersalahkan dan panas hati artinya marah. Anotasi dari kata-kata yang tidak merepresentasikan artinya secara langsung boleh dibuatkan penjelasan singkat di bawah pantun.

#2 Mengunggah Pantun Sesuai Tren

Pantun dapat diikutsertakan dalam tren sastra yang ada pada saat ini. Misalnya, mengunggahnya di media sosial dengan disertai gambar yang mendukung isi dari pantun atau gambar yang mewakilkan isi pantun. Dapat juga pantun yang terdiri dari beberapa bait didesain dalam format konten yang menarik.

# 3 Para Redaksi Menampung Pantun

Para redaksi terbuka untuk para pengarang yang suka menulis pantun. Tidak hanya memandang cerpen, cerbung dengan segala permainan kata begitu juga dengan fiksi mini. Pantun memiliki karakteristik yang berbeda sehingga menjadi hal yang baru untuk dipopulerkan. Tidak melulu tentang cerpen dan fiksi mini yang berisi khayalan pengarang.

Pantun Dapat Bangkit Apabila Ada Bentuk Tertulis

Penulisan terhadap pantun memang kurang dibandingkan cerpen dan puisi. Oleh karena itu, jika ketiga hal di atas dilakukan tanpa adanya bentuk tertulisnya, akan sia-sia dan tidak akan ada gunanya.

Pantun itu membutuhkan bentuk tulisan untuk tetap hidup dan lestari dalam kehidupan masyarakat supaya berjejak. Atau supaya generasi yang akan datang tahu bagaimana bentuk pantun jika dituliskan.

Editor: Andi Surianto

Penulis

Avatar Cindy May Siagian

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *