Balai Pikir – Hari buruh adalah hari berdarah bagi para pekerja, serikat pekerja, atau kelompok lain yang merepresentasikannya. Momentum ini ditandai oleh Tragedi Haymarket yang terjadi di Chicago tahun 1886. Tuntutan saat itu sangat sederhana, yaitu 8 jam kerja sehari. Karena dulu, orang bisa dipaksa kerja 12-16 jam sehari sampai tumbang. Ketika aksi protes itu berujung kerusuhan dan ledakan bom, akibatnya banyak buruh dan polisi tewas. Sejak saat itu, 1 Mei ditetapkan sebagai hari perjuangan kelas pekerja sedunia.
Walakin, ada hal yang mengganjal, contoh kecilnya adalah dari cara merayakan. Di beberapa negara (termasuk Indonesia), Hari Buruh dirayakan dengan cara meliburkan pekerja. Pertanyaannya, apakah cara terbaik merayakan hak pekerja adalah dengan… tidak bekerja. Sebuah paradoks yang menarik, bukan?
Kemudian, di tengah riuh rendah peringatan Hari Buruh yang menyalak di jalanan setiap tanggal 1 Mei, akan ada kemungkinan-kemungkinan, di antara ribuan massa yang menuntut keadilan, orang-orang yang salah jalan, salah masuk pintu, salah kamar dan salah segala-galanya. Orang-orang itu adalah orang yang melakukan lobi-lobi transaksional di balik pintu.
Ada jurang yang menganga antara apa yang diteriakkan sebagai “pengetahuan tentang kebenaran” dengan apa yang dilakukan sebagai “kepentingan praktis”. Jika boleh dikata, fenomena ini bukan masalah moralitas individu yang bejat belaka, melainkan sebuah manifestasi dari perselingkuhan rumit antara teori pengetahuan dan fenomenologi tindakan manusia.
Pengetahuan Menetap di Kepala
Secara teoretis, manusia adalah makhluk yang dibekali rasio. Kita memiliki tumpukan pengetahuan (episteme) tentang apa yang benar dan apa yang salah. Seorang aktivis buruh tahu betul teori nilai lebih Karl Marx; seorang pejabat tahu persis pasal-pasal antikorupsi dalam undang-undang; dan seorang pencuri tahu bahwa mengambil hak orang lain adalah pelanggaran etika. Namun, mengapa pengetahuan ini sering kali tumpul saat berhadapan dengan realitas?
Masalahnya terletak pada sifat pengetahuan itu sendiri yang sering kali bersifat abstrak dan berjarak. Pengetahuan sering kali hanya menjadi “arca” di dalam kepala—ia dikagumi, dihafal, bahkan disucikan dalam diskusi-diskusi intelektual, namun ia tidak memiliki daya tekan (coercive power) terhadap tubuh yang sedang bergerak di dunia nyata. Di sinilah kita perlu membedah melampaui sekadar “tahu” dan mulai melihat bagaimana manusia “mengada”.
Fenomenologi Kepentingan
Edmund Husserl dan kemudian Martin Heidegger memperkenalkan kita pada konsep Lebenswelt atau dunia-kehidupan. Fenomenologi mengajarkan bahwa manusia tidak pertama-tama bertemu dengan dunia sebagai subjek yang berpikir (cogito), melainkan sebagai subjek yang “berada-di-sana” (Dasein). Dalam keberadaan yang sangat nyata ini, kebutuhan-kebutuhan praktis muncul bukan sebagai pilihan logis, melainkan sebagai desakan eksistensial.
Mari kita ambil contoh korupsi atau oportunisme dalam gerakan buruh. Secara fenomenologis, bagi seorang pemimpin organisasi yang sedang terjepit oleh tekanan struktur ekonomi, “kekuasaan” atau “akumulasi harta” bukan lagi sekadar konsep dosa. Harta dan akses politik itu hadir dalam kesadarannya sebagai instrumen untuk mempertahankan eksistensi. Ketika perut lapar atau ketika tuntutan gaya hidup di lingkungan elit mulai menjerat, “pengetahuan” bahwa korupsi itu salah menjadi redup karena ia tidak “hadir” secara fenomenologis sekuat rasa lapar atau rasa malu karena tertinggal secara ekonomi.
Dalam titik ini, kepentingan praktis bukan lagi sekadar “keinginan”, melainkan menjadi “cakrawala” yang membatasi pandangan manusia. Orang yang sudah terjebak dalam kepentingan praktis untuk menumpuk harta akan mengalami penyempitan kesadaran. Dunia baginya bukan lagi tempat untuk menegakkan keadilan (pengetahuan), melainkan ladang untuk dieksploitasi (kepentingan).
Kepentingan-kepentingan dalam Realitas
Jurgen Habermas dalam karyanya Knowledge and Human Interests (Erkenntnis und Interesse) secara brilian menjelaskan bahwa pengetahuan manusia tidak pernah bersifat netral; ia selalu dibimbing oleh kepentingan. Habermas membagi kepentingan ini menjadi tiga: teknis, praktis, dan emansipatoris.
Kepentingan praktis akan jauh melampaui pengetahuan terjadi ketika kepentingan “teknis” (untuk mengontrol dan menguasai) dan kepentingan “praktis” (untuk sekadar bertahan hidup dalam sistem) menelan kepentingan “emansipatoris” (pengetahuan untuk membebaskan).
Ketika seorang tokoh buruh mulai bersikap oportunis, ia sebenarnya sedang mengalami pergeseran kepentingan. Pengetahuan emansipatorisnya tentang kesejahteraan kelas pekerja kalah telak oleh kepentingan teknis-praktis untuk mengamankan posisinya dalam struktur kekuasaan. Pengetahuan tentang “mencuri itu dilarang” menjadi tidak relevan karena secara praktis, tindakan “mengambil” itu memberikan kepastian hidup yang lebih nyata daripada sekadar memegang teguh prinsip yang tidak memberikan jaminan ekonomi.
Paradoks Pengetahuan
Ini menjelaskan mengapa pendidikan tinggi atau wawasan yang luas bukan jaminan seseorang akan bertindak idealis. Fenomenologi mengatakan bahwa pengalaman tentang kebutuhan jauh lebih purba dan lebih kuat daripada pengetahuan tentang aturan.
Seseorang bisa saja menguasai teori-teori sosial yang paling radikal dan canggih, namun jika “dunia-kehidupannya” setiap hari dikelilingi oleh ketakutan akan kemiskinan atau obsesi pada status sosial, maka tindakan yang keluar adalah tindakan yang oportunis. Pengetahuan hanya menjadi topeng untuk menutupi wajah pragmatisme yang asli. Ini adalah apa yang dalam psikologi sosial sering disebut sebagai disonansi kognitif, namun dalam skala yang lebih masif dan sistemis.
Dalam struktur ekonomi yang sangat kapitalistik dan kompetitif, sistem seolah-olah “memaksa” subjek untuk menjadi oportunis. Struktur ini menciptakan sebuah fenomenologi di mana individu merasa bahwa “jika saya tidak melakukan trik kotor ini, saya akan binasa.” Di sinilah pengetahuan menjadi lumpuh. Pengetahuan tentang kejujuran dianggap sebagai “beban” yang menghambat kelincahan dalam bertahan hidup.
“Dirty Code” dalam Struktur Sosial
Jika kita menggunakan metafora dalam dunia pembangunan sistem, oportunisme adalah sebuah dirty code atau “cara kotor” yang digunakan untuk menambal kebocoran dalam struktur ekonomi seseorang. Kita tahu bahwa menggunakan cara itu salah secara fundamental—ia akan merusak arsitektur jangka panjang—namun karena tuntutan praktis agar “sistem” (baca: hidup) segera berjalan dan menghasilkan keuntungan, pengetahuan tentang best practice itu dibuang ke tempat sampah.
Korupsi, dengan demikian, adalah fenomena di mana kepentingan praktis untuk “menumpuk harga” menjadi pusat gravitasi dari seluruh kesadaran manusia. Seluruh pengetahuan yang dimiliki individu tersebut hanya digunakan sebagai alat untuk membenarkan (rationalizing) kepentingan tersebut. Pengetahuan tidak lagi menjadi penuntun, melainkan menjadi pelayan bagi kepentingan praktis yang purba.
Membangun Kesadaran Eksistensial
Lantas, apakah kita ditakdirkan untuk selalu kalah oleh kepentingan praktis? Tidak harus. Fenomenologi juga menawarkan jalan keluar melalui konsep “kesadaran kritis”.
Jalan lain yang bisa ditempuh adalah dengan menempatkan idealisme bukan lagi sebagai “pengetahuan luar” yang dihafal, melainkan sebagai “pengalaman dalam” yang dihayati. Kita perlu membangun sebuah dunia-kehidupan di mana integritas dan kejujuran memberikan kepuasan fenomenologis yang lebih besar daripada sekadar akumulasi materi. Ini adalah perjuangan untuk menaikkan kelas “kepentingan emansipatoris” agar setara, atau bahkan melampaui, desakan perut.
Gerakan buruh, atau gerakan sosial apa pun, tidak akan pernah benar-benar kuat selama ia hanya dibangun di atas fondasi “pengetahuan”. Ia harus dibangun di atas fondasi karakter yang mampu melihat bahwa ada kepentingan praktis yang lebih luhur daripada sekadar menumpuk harta, yaitu kepentingan untuk hidup dengan harga diri dan martabat.
Tanpa itu, setiap tanggal 1 Mei hanya akan menjadi panggung sandiwara, di mana pengetahuan diteriakkan dengan lantang, sementara kepentingan praktis berbisik mesra di telinga para penguasa panggung, membisikkan angka-angka yang siap menggadaikan seluruh idealisme yang ada. Kita harus berani mengatakan bahwa hidup bukan sekadar tentang bagaimana bertahan (survive), tapi tentang bagaimana mengada (exist) dengan cara yang benar, tanpa harus menggunakan “cara-cara kotor” yang merusak jiwa dan sistem secara keseluruhan.
Editor: Andi Surianto






Tinggalkan Balasan