Menelusuri Jaring Kehidupan Dalam Lingkungan

Membaca karya Dr. A. Sonny Keraf yang membedah pemikiran Fritjof Capra dan filsafat lingkungan hidup bukan sekadar membaca tentang polusi atau pemanasan global secara teknis. Buku ini adalah sebuah “gugatan ontologis”. Inti dari uraian buku ini bermula dari sebuah tesis yang menohok: krisis lingkungan global yang kita hadapi saat ini—mulai dari perubahan iklim, kepunahan spesies, hingga kerusakan ekosistem—bukanlah sekadar krisis teknis atau kegagalan manajemen sumber daya. Lebih dalam dari itu, ini adalah krisis persepsi. Ini adalah krisis dalam cara manusia memandang dirinya sendiri dan memandang alam semesta.
Buku ini mengajak pembaca untuk melakukan perjalanan intelektual, membongkar “kacamata” lama yang telah kita pakai selama berabad-abad, dan mencoba mengenakan kacamata baru yang lebih jujur terhadap realitas kehidupan. Kacamata lama itu bernama paradigma mekanistis-reduksionis, dan kacamata baru itu adalah paradigma sistemik-ekologis.
Hegemoni Paradigma Mekanistis
Untuk memahami mengapa kita merusak alam, kita harus kembali ke masa lalu, ke masa “Pencerahan” Eropa. Sonny Keraf, melalui analisis historis yang tajam, menunjuk hidung para bapak sains modern—terutama René Descartes, Isaac Newton, dan Francis Bacon—sebagai peletak dasar cara pandang yang, meskipun melahirkan kemajuan teknologi, membawa benih kehancuran ekologis.
Paradigma yang mendominasi peradaban modern disebut sebagai paradigma Cartesian-Newtonian. Dalam pandangan ini, alam semesta dianggap sebagai sebuah “mesin raksasa”. Seperti halnya jam dinding yang terdiri dari roda gigi dan pegas, alam dilihat sebagai kumpulan materi mati yang bekerja berdasarkan hukum gerak yang pasti dan matematis.
Descartes memberikan sumbangan fatal melalui dualismenya (res cogitans dan res extensa). Ia memisahkan secara radikal antara pikiran (jiwa/manusia) dan materi (tubuh/alam). Dalam pandangan ini, hanya manusialah yang memiliki kesadaran dan nilai intrinsik. Sementara itu, alam, hewan, dan tumbuhan hanyalah materi, objek tanpa jiwa yang bekerja secara mekanis. Konsekuensinya mengerikan: karena alam tidak berjiwa, maka sah-sah saja bagi manusia untuk mengeksploitasinya. Tidak ada persoalan moral ketika kita membongkar mesin, begitu pula tidak ada persoalan moral saat kita membongkar hutan, selama itu menguntungkan manusia.
Melengkapi pandangan mekanis ini, Francis Bacon menanamkan ideologi bahwa tujuan utama ilmu pengetahuan adalah untuk “menguasai alam” (knowledge is power). Alam dipandang sebagai sosok liar yang harus ditundukkan, dipaksa menyerah, dan diperas rahasianya demi kenyamanan manusia. Sikap agresif terhadap alam ini menjadi basis dari revolusi industri dan ekonomi kapitalisme modern.
Cara pandang mekanistis ini melahirkan metode berpikir reduksionis. Artinya, untuk memahami sesuatu yang kompleks, kita harus memecahnya menjadi bagian-bagian terkecil. Kita percaya bahwa jika kita memahami sel, kita memahami organ; jika kita memahami organ, kita memahami tubuh. Namun, buku ini menegaskan bahwa metode ini gagal total dalam memahami kehidupan. Kehidupan tidak bisa direduksi. Ketika Anda membedah seekor katak menjadi potongan-potongan organnya untuk dipelajari, Anda memang mendapatkan pengetahuan tentang organnya, tetapi Anda kehilangan satu hal yang paling penting: kehidupannya. “Katak” sebagai sistem kehidupan sudah hilang.
Inilah akar masalahnya. Ekonomi modern, sains konvensional, dan kebijakan publik kita bersifat reduksionis. Kita mengejar pertumbuhan ekonomi (bagian kecil) dengan mengabaikan daya dukung ekosistem (keseluruhan). Kita melihat hutan hanya sebagai kayu (bagian), bukan sebagai sistem pengatur tata air dan iklim (keseluruhan).
Menuju Pemikiran Sistem
Setelah mendiagnosis penyakit peradaban modern, Keraf membawa kita pada obatnya: Pergeseran Paradigma (Paradigm Shift). Di sinilah peran sentral pemikiran Fritjof Capra, seorang fisikawan yang banting setir menjadi pemikir ekologi, diuraikan dengan sangat apik.
Dunia tidak lagi bisa dijelaskan dengan fisika Newton semata. Fisika kuantum di awal abad ke-20 telah meruntuhkan mitos “materi padat”. Di level subatomik, materi bukanlah benda keras, melainkan pola probabilitas dan jaring-jaring relasi energi. Jika realitas dasar alam semesta saja adalah relasi, maka pandangan bahwa alam adalah kumpulan objek terpisah (atomisme) menjadi tidak relevan.
Pergeseran utama yang ditawarkan adalah Systems Thinking (Pemikiran Sistem). Jika paradigma lama melihat dunia sebagai tumpukan batu bata, paradigma baru melihat dunia sebagai jaring laba-laba. Dalam sebuah sistem, “keseluruhan lebih besar daripada jumlah bagian-bagiannya”. Sifat-sifat kehidupan—seperti kesadaran, kesehatan, atau stabilitas iklim—adalah emergent properties (sifat yang muncul) yang hanya ada ketika seluruh komponen bekerja sama. Sifat ini tidak dimiliki oleh komponen itu sendiri jika berdiri sendiri.
Buku ini menekankan perlunya mengganti metafora “dunia sebagai mesin” menjadi “dunia sebagai organisme” atau jaringan. Bumi bukanlah pesawat ruang angkasa yang dikendalikan manusia (karena itu masih mekanistis), melainkan Bumi adalah sistem kehidupan yang swa-organisasi (self-organizing). Konsep ini, yang sering dikaitkan dengan Teori Gaia, melihat bumi sebagai entitas yang hidup, yang mampu mengatur suhu dan komposisi kimianya sendiri untuk menopang kehidupan.
Jaring Kehidupan (The Web of Life) dan Ekologi Dalam
Bagian paling krusial dari uraian buku ini adalah pemahaman tentang Deep Ecology (Ekologi Dalam) yang dikontraskan dengan Shallow Ecology (Ekologi Dangkal).
Gerakan lingkungan hidup yang umum kita temui seringkali masih terjebak dalam Ekologi Dangkal. Ciri khasnya adalah antroposentrisme (berpusat pada manusia). Contohnya: “Jangan tebang hutan supaya manusia tidak kebanjiran,” atau “Lestarikan harimau supaya anak cucu kita bisa melihatnya.”
Meskipun terdengar baik, argumen ini masih menempatkan alam sebagai alat untuk kepuasan manusia. Alam hanya berharga sejauh ia berguna bagi manusia (nilai instrumental). Jika suatu saat manusia menemukan teknologi yang bisa mencegah banjir tanpa hutan, maka dalam logika ini, hutan boleh ditebang. Ini adalah kelemahan fatal Ekologi Dangkal.
Sebaliknya, Ekologi Dalam (yang dipopulerkan oleh Arne Naess dan didukung oleh analisis sistem Capra) mengajukan perubahan radikal. Ekologi Dalam mengakui nilai intrinsik dari semua makhluk hidup. Sebuah pohon, seekor cacing, atau sebuah sungai memiliki hak untuk ada dan berkembang sesuai kodratnya, terlepas dari apakah hal itu menguntungkan manusia atau tidak.
Sonny Keraf menguraikan bahwa Ekologi Dalam tidak memisahkan manusia dari alam. Manusia hanyalah salah satu untaian dalam jaring kehidupan (The Web of Life). Apa yang kita lakukan pada jaring tersebut, kita lakukan pada diri kita sendiri. Meracuni sungai sama dengan meracuni darah kita sendiri secara metaforis dan harfiah.
Kesadaran ini melampaui sains; ia menyentuh ranah spiritual. Ketika seseorang menyadari dirinya adalah bagian tak terpisahkan dari alam semesta, muncul perasaan “perluasan diri” (self-realization). Melindungi hutan hujan bukan lagi sebuah “pengorbanan” atau kewajiban moral yang berat, melainkan sebuah tindakan pembelaan diri yang alami, sama seperti kita secara refleks melindungi tangan kita dari api. Inilah etika yang lahir dari ontologi, bukan dari aturan hukum.
Prinsip-Prinsip Kehidupan sebagai Basis Etika dan Ekonomi
Jika kita menerima bahwa alam adalah sistem kehidupan, bagaimana seharusnya kita menata masyarakat? Buku ini menawarkan jawaban dengan melihat bagaimana alam bekerja selama miliaran tahun. Alam adalah guru terbaik. Keraf menjabarkan prinsip-prinsip ekoliterasi (ecoliteracy)—melek ekologi—yang harus diadopsi oleh sistem sosial dan ekonomi manusia.
Dalam ekosistem, tidak ada sampah. Segala sesuatu didaur ulang. Output dari satu organisme menjadi input bagi organisme lain. Sebaliknya, ekonomi manusia bersifat linear (ambil – buat – buang) yang menghasilkan limbah. Kita harus meniru siklus alam (ekonomi sirkular).
Ekosistem yang beragam (seperti hutan hujan) jauh lebih tangguh (resilien) daripada monokultur (seperti kebun sawit). Namun, globalisasi ekonomi dan budaya manusia cenderung memaksakan keseragaman (monokultur pikiran dan produk). Buku ini memperingatkan bahwa penyeragaman ini membuat peradaban kita rapuh.
Evolusi bukan semata-mata “persaingan siapa yang terkuat” (seperti salah tafsir Darwinisme sosial), melainkan kisah panjang tentang kerjasama dan simbiosis. Kehidupan menaklukkan planet ini bukan melalui pertarungan, melainkan melalui jejaring kerjasama (misalnya, mitokondria dalam sel kita adalah hasil simbiosis purba). Oleh karena itu, struktur masyarakat yang hierarkis-dominatif (patriarki) harus diganti dengan struktur jaringan-kemitraan.
Berdasarkan prinsip-prinsip di atas, buku ini melancarkan kritik tajam terhadap obsesi pertumbuhan ekonomi tanpa batas. Di dalam sistem bumi yang terbatas, pertumbuhan eksponensial (seperti sel kanker) adalah sebuah kematian, bukan kemajuan. Pembangunan berkelanjutan (sustainable development) seringkali hanya menjadi jargon kosmetik jika masih bertumpu pada paradigma pertumbuhan kuantitatif.
Yang kita butuhkan adalah pertumbuhan kualitatif: peningkatan kualitas hidup, kebahagiaan, dan harmoni, tanpa harus menambah konsumsi sumber daya fisik secara berlebihan. Ekonomi harus tunduk pada ekologi, bukan sebaliknya. Ekonomi hanyalah subsistem dari ekosistem bumi; sungguh tidak logis jika subsistem mendikte sistem yang lebih besar.
Etika Kepedulian dan Ekofeminisme
Uraian buku ini juga menyentuh aspek gender dalam kerusakan lingkungan melalui lensa Ekofeminisme. Keraf menunjukkan adanya paralelisme historis antara dominasi manusia atas alam dan dominasi laki-laki atas perempuan.
Paradigma mekanistis-patriarkis cenderung mengagungkan nilai-nilai “maskulin” (yang dikonstruksi secara sosial) seperti: rasionalitas dingin, ekspansi, kompetisi, dan dominasi. Sementara nilai-nilai “feminin” seperti intuisi, pemeliharaan, kerjasama, dan empati dipinggirkan. Alam sering digambarkan sebagai “Ibu Pertiwi” yang pasif, yang siap ditaklukkan oleh sains yang maskulin.
Oleh karena itu, penyembuhan bumi tidak bisa terjadi tanpa penyembuhan relasi sosial. Kita perlu menyeimbangkan kembali nilai-nilai ini. Etika lingkungan bukan hanya soal aturan hukum (“Anda didenda jika membuang sampah”), tetapi soal Ethics of Care (Etika Kepedulian). Ini adalah etika yang berbasis pada relasi kasih sayang, tanggung jawab, dan kepekaan terhadap penderitaan makhluk lain.
Menuju Peradaban Ekologis
Sebagai konklusi dari uraian panjang ini, buku “Filsafat Lingkungan Hidup” karya A. Sonny Keraf ini bukan sekadar bacaan akademis, melainkan sebuah manifesto untuk transformasi peradaban.
Pesan intinya jelas: Kita tidak bisa memecahkan masalah lingkungan dengan pola pikir yang sama yang menciptakan masalah tersebut. Teknologi hijau (seperti mobil listrik atau panel surya) memang penting, tetapi itu hanya solusi permukaan. Tanpa perubahan fundamental dalam cara kita mendefinisikan “siapa manusia” dan “apa itu alam”, teknologi hanya akan menggeser masalah dari satu tempat ke tempat lain.
Perubahan sejati harus terjadi pada level kesadaran. Kita harus bergerak: Dari Antroposentrisme (berpusat pada manusia) menuju Ekosentrisme (berpusat pada kehidupan). Dari Dominasi menuju Kemitraan. Dari obsesi Pertumbuhan Ekonomi menuju Keberlanjutan Ekologis. Dari pandangan Mekanistis menuju pandangan Sistemik.
Buku ini mengajarkan kerendahan hati. Bahwa manusia, dengan segala kecerdasan teknologinya, hanyalah satu benang tipis dalam anyaman jaring kehidupan yang agung. Jika kita terus menarik benang itu dengan kasar demi keserakahan, kita tidak hanya merusak jaringnya, kita sedang menjerat leher kita sendiri. Filsafat lingkungan hidup, pada akhirnya, adalah filsafat tentang bertahan hidup dengan bermartabat di sebuah planet yang hidup.
Identitas Buku
Judul: Filfasat Lingkungan Hidup: Alam sebagai Sebuah sistem Kehidupan Bersama Fritjof Capra
Penulis: A. Sonny Keraf
Penerbit: Kanisius
Edisi: Elektronik oleh divisi Digital Kanisius
Tahun: 2014
ISBN: 978-979-21-4142-9 (pdf)
Peresensi: Muhammad Farhan Azizi
Editor: Andi Surianto










Ada kalanya sains dan filsafat musti berjabat tangan
Memang harus tidur bareng, bang 😁
Keren pak
Matur nuwun sanget