Mohon untuk Tidak Menyudutkan Orang Tua Terlebih “Ibu” yang Memilih Bekerja dan Menitipkan Anak di Daycare

Ilustrasi daycare

Di tengah beredarnya kabar tentang salah satu daycare problematis di Yogyakarta, yang sedang ramai diperbincangkan di media sosial, tidak sedikit stigma yang muncul malah mengerdilkan sosok “ibu”. Sebagai orang yang sudah melalui perjuangan untuk mengandung dan melahirkan, mereka dinilai lalai, dan lebih mementingkan pekerjaan daripada mengasuh anak di rumah. Meskipun memang lebih banyak orang menyalahkan daycare berikut sistemnya yang tidak dapat dibenarkan.

Dari berbagai cuplikan video pendek yang berseliweran, terungkap bahwa anak-anak yang dititipkan di daycare tersebut diikat tangan juga kakinya, makan dan minum yang diberikan tidak dalam kondisi layak hingga membiarkan anak-anak tersebut tidur di lantai tanpa alas dengan keadaan hanya memakai popok. Siapa saja yang melihat praktik pengasuhan dalam video tersebut akan tergugah emosinya untuk mengutuki para pelaku.

Tak terbayang betapa terpukulnya para orang tua yang anak-anaknya menjadi korban dari bobroknya pengasuhan di daycare tersebut. Ditambah lagi beban dari orang-orang yang kemudian menyudutkan dan melimpahkan bahwa kesalahan itu datangnya dari orang tua terutama ibu yang lebih memilih pekerjaan ketimbang anak. Anggapan seperti itu jelas jahat dan nirempati, terlebih yang mengatakan adalah sesama kaum perempuan.

Seorang ibu yang memilih untuk tetap bekerja dan berkarier di luar rumah lalu menitipkan anaknya di daycare bukannya tidak melalui pertimbangan-pertimbangan yang berat. Banyak yang mengatakan untuk membantu perekonomian keluarga di tengah apa-apa sekarang serba sulit dan butuh banyak duit, ada pula yang memang mendedikasikan dirinya untuk kebermanfaatan orang banyak setelah menempuh pendidikan panjang dan pengalaman yang menempahnya sebelum akhirnya ia menjadi seorang ibu.

Perempuan berkarier di masa kini sah-sah saja, bukan? Namun, rentetan pertanyaan kembali muncul, mengapa tidak membawa anak ikut bekerja sekalian? Tidak semua pekerjaan di luar rumah yang bisa kita kerjakan sembari sekaligus mengasuh anak, atau sebenarnya memang bisa tetapi tidak diizinkan oleh pihak atasan.

Kemudian, mengapa tidak menitipkan anak kepada kerabat dekat atau tetangga yang dipercaya? Jelas itu merepotkan. Tidak sebatas melihat dari sisi mereka memiliki kesibukan atau tidak, tapi bersedia atau tidak. Apalagi jika nantinya ada drama izin, sakit, bepergian jauh, atau yang lainnya. Jika seperti ini malah akan membuat lebih repot lagi harus mencari pengganti secara dadakan.

Keputusan menitipkan anak di daycare bukan suatu kesalahan. Ibu yang memilih tetap bekerja jugalah bentuk tanggung jawab sebagai orang tua. Apalagi jika dibandingkan dengan isu-isu yang beredar bahwa ada sebagian orang tua yang tega membuang anak saat masih bayi. Katakan saja itu bentuk pembelaan, tidak mengapa. Dan barangkali kasus pengasuhan anak yang salah seperti yang terjadi di salah satu daycare di Yogyakarta pernah dan bisa saja terjadi di daerah lain, hanya saja belum terungkap.

Alih-alih menyudutkan peran ibu sebagai orang yang paling mengerti perihal pengasuhan anak, ada baiknya menjadikan kasus serupa itu sebagai rambu-rambu yang membuat kita harus lebih waspada dalam memilih daycare yang berkualitas untuk penitipan anak. Kenali dengan saksama bagaimana sistem daycare tersebut dalam menjaga dan mengasuh anak. Lebih baik lagi jika dilengkapi dengan fasilitas pengawasan seperti CCTV yang juga dapat dipantau oleh pihak orang tua. Sehingga, jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dapat segera diatasi.


Editor: Ihya Ulumuddin

Penulis

Avatar Merita Dewi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *