“Serulah (wahai Muhammad) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah, nasihat yang baik, dan bantahlah dengan cara yang lebih baik”
(QS. Al-Nahl: 125)
Ayat di atas adalah ayat yang sering kita dengar, pengingat tentang adab, tentang bagaimana agama ini disampaikan dengan cara yang pantas, pada tempat yang tepat.
Dalam tradisi pesantren, hikmah dimaknai sebagai ‘tepat rasa’. Tahu kapan harus berbicara, tahu kapan cukup diam. Tahu kepada siapa suatu ilmu disampaikan, dan tahu sejauh mana sesuatu layak diuraikan. Karena itu, dakwah tidak melulu soal benar atau salah, tetapi juga soal kepantasan.
Belakangan ini, ruang dakwah kita terasa riuh, akibat mulai kaburnya batas antara satu peran dengan peran yang lain. “Penceramah” dianggap terlalu ringan, sementara “kalangan intelektual” dipandang terlalu tinggi. Yang satu dinilai kurang ilmiah, yang lain dianggap kurang membumi.
Padahal, dalam khazanah keilmuan Islam klasik, perbedaan itu justru dipahami sebagai keniscayaan. Ibnu Rusyd, dalam Fasl al-Maqal, menjelaskan bahwa manusia memiliki tingkat pemahaman yang berbeda-beda. Karena itu, cara menyampaikan kebenaran pun tidak bisa diseragamkan.
Domain Dakwah: Adab dan Peran
Adalah beragam, metode dakwah itu. Ada burhānī, khaṭābī, atau jadalī. Yang burhānī menyampaikan dengan argumentasi mendalam dan kokoh. Ini wilayah para ulama yang menekuni ilmu secara serius.
Yang melalui khaṭābī, nasihat yang sederhana, menyentuh hati, dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ini yang sering kita jumpai di mimbar-mimbar pengajian. Dan di antara keduanya, ada jadalī, yang menjembatani, menjelaskan yang dalam agar bisa dipahami oleh yang awam.
Dalam bahasa pesantren, ini seperti sanad keilmuan yang berlapis. Ada yang menggali langsung dari sumbernya, ada yang men-syarah, dan ada yang menyampaikan kepada masyarakat luas. Semuanya penting. Tidak ada yang lebih tinggi untuk kemudian merendahkan yang lain.
Maka menjadi kurang tepat jika kita menilai ceramah yang sederhana dengan ukuran kitab yang kompleks dan berat. Atau sebaliknya, mengharapkan semua persoalan selesai dengan bahasa yang ringan. Masing-masing ada tempatnya, ada maqām-nya.
Yang menjadi persoalan justru ketika batas itu tidak dijaga. Ketika yang seharusnya memberi nasihat mulai melangkah terlalu jauh ke wilayah fatwa, sementara yang mendalami ilmu tidak lagi merasa perlu menjelaskan kepada masyarakat. Di situlah sering muncul kegaduhan.
Nahdlatul Ulama, misalnya, mempunyai tradisi yang menekankan adab seperti ini. Ulama tidak mudah berbicara sebelum jelas ilmunya. Santri diajari untuk tawadhu’, tahu diri, dan tidak tergesa-gesa menyimpulkan. Bahkan dalam hal kecil, ada kehati-hatian, apakah ini sudah pantas disampaikan atau belum.
Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa berbeda, mungkin seperti ini, kalau yang kita pahami baru “alif”, maka sampaikanlah tentang “alif”. Tidak perlu tergesa-gesa menjangkau “ba”, apalagi “ya”. Bukan karena ilmu itu harus disembunyikan, tetapi karena menjaga agar tidak salah dalam menyampaikan.
Baca JugaBoikot Trans7 dan Martabat Pesantren
Di sisi lain, kita juga perlu adil dalam melihat peran penceramah. Tidak semua kebenaran harus disampaikan dengan bahasa yang berat. Justru banyak masyarakat yang membutuhkan pendekatan yang ringan, yang menyentuh hati, yang membuat agama terasa dekat. Fakta antropologi ini, memperjelas pentingnya dakwah yang khaṭābī.
Kalau semuanya dipaksakan menjadi burhānī, maka agama bisa terasa jauh, bahkan asing. Sebaliknya, jika semuanya hanya berhenti pada khaṭābī tanpa pijakan ilmu yang kuat, maka dakwah bisa kehilangan arah. Karena itu, keseimbangan menjadi kunci.
Dalam ungkapan para ulama, likulli maqāmin maqāl, wa likulli maqālin maqām; setiap tempat ada ucapannya, dan setiap ucapan ada tempatnya.
Merawat Adab
Dakwah seyogyanya tidak menjadi ajang saling menegasikan. Di ruang itu, justru dibutuhkan kesediaan saling melengkapi. Ulama menghadirkan kedalaman, intelektual menjelaskan dengan jembatan pemahaman, dan penceramah menghidupkan pesan itu di tengah masyarakat. Jika ketiganya berjalan seiring, maka agama akan terasa utuh: dalam ilmunya, dalam rasanya, dan dalam amalnya. Ekosistem dakwah menubuh dengan sehat.
Maka, yang perlu kita rawat hari ini, selain semangat berdakwah, adalah adabnya. Sebab tanpa adab, ilmu bisa melukai. Tanpa kehati-hatian, niat baik bisa berujung pada kebingungan di tengah umat. Barangkali, di situlah makna hikmah yang paling mendalam: menyampaikan yang benar, dengan cara yang tidak merusak. Wallahu a’lam.
Editor: Ihya Ulumuddin







Tinggalkan Balasan