Aku dan Kumpulan Puisi

Puisi bukan sebatas lipstik pemerah di bibir dengan permainan metafora yang memikat. Puisi adalah jalan berliku yang saya tempuh untuk memahami diri, meraba makna hidup, dan berdamai dengan kenyataan yang sering tak ramah. Ia adalah ruang sunyi tempat batin saya bercakap dengan luka, kegamangan, dan harapan. Sejak awal, saya tidak pernah menganggap puisi sebagai hobi sampingan: ia tumbuh bersama perjalanan hidup saya, mengikuti denyut nadi kesadaran.
Proses kreativitas kepenulisan puisi saya bermula sejak menjadi santri di Pondok Modern Darussalam Gontor. Di lingkungan pesantren yang sarat aturan itu, saya pertama kali belajar bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan instrumen pembentuk cara berpikir. Ritme kehidupan pondok—bangun dini hari dan kedisiplinan di antara dentuman lonceng—perlahan membentuk keakraban saya terhadap bunyi, makna, dan kedalaman kata.
Dalam pengalaman saya bersentuhan dengan puisi bukan sekadar pelampiasan semata, namun sebagai media pergulatan batin. Puisi hadir di sela-sela kesibukan belajar, di kesyahduan malam yang sunyi, di antara kegelisahan seorang santri yang mulai bertanya tentang jati diri, masa depan, dan hubungan manusia dengan Tuhan. Dari sanalah saya belajar berpuisi bukan soal ingin dianggap penyair, melainkan kebutuhan untuk menumpahkan sesuatu yang tak sanggup ditahan di dada. Puisi menjadi cara paling jujur untuk berbicara kepada diri sendiri.
Seiring perjalanan waktu, puisi-puisi saya bersinggungan dengan pengalaman hidup yang kian kompleks. Setelah keluar dari pesantren, dunia terbuka dengan segala keruwetannya; realitas sosial, tanggung jawab personal, kekecewaan, harapan yang retak, juga keyakinan yang terus diuji. Semua-mua itu menjadi bahan mentah yang terus saya olah dalam bahasa puisi. Saya menulis bukan dari posisi aman, tetapi dari titik-titik rapuh, dari kegagalan memahami hidup secara utuh.
Bahasa puisi yang saya pilih cenderung bersahaja, namun saya upayakan tetap tajam dan bernapas panjang. Saya tidak tertarik pada kemewahan diksi yang hampa makna. Saya lebih memilih kata-kata yang dekat dengan pengalaman, tetapi mampu membawa pembaca melampaui pengalaman itu sendiri. Saya percaya, kesederhanaan yang jujur justru memberi ruang bagi kedalaman. Puisi tidak harus berisik apalagi diteriakkan, ia cukup hadir dengan ketenangan yang menghunjam perlahan.
Keterlibatan saya dalam berbagai antologi puisi merupakan bagian dari proses panjang dan berliku. Di sanalah puisi-puisi saya menyapa suara batin para penyair lain yang kerap memiliki kegelisahan yang serupa. Saya tidak menulis dalam kesendirian yang eksklusif. Saya percaya, karya puisi tumbuh subur ketika ia dibagikan, didialogkan, dan dipertengkarkan dengan realitas sosial yang lebih luas.
Lewat media puisi, saya berusaha meresapi nilai-nilai kehidupan yang rumit tanpa menyederhanakannya secara dangkal. Relasi manusia dengan Tuhan, sesama, alam, dan diri sendiri selalu hadir dalam suasana yang tak selalu ideal. Spiritualitas dalam puisi-puisi saya bukanlah khotbah yang normatif, melainkan hasil gejolak jiwa yang menegangkan. Kritik sosial tidak saya hadirkan dengan amarah yang memerah, tetapi dengan ironi, satire, dan sedikit humoris yang mengajak pembaca berpikir halus.
Hemat saya, puisi bak cermin retak. Ia tidak menawarkan kesempurnaan, namun kejujuran. Ia tidak selalu memberi jawaban, tetapi menajamkan pertanyaan. Dalam proses kreatif yang saya jalani dari masa ke masa, saya semakin sadar bahwa menulis puisi adalah latihan kerendahan hati. Setiap puisi mengingatkan saya tentang perjalanan manusia yang selalu berada dalam proses menjadi, bukan dalam keadaan selesai.
Di tengah dunia yang kian pragmatis, saya sesekali memilih puisi sebagai jalan untuk melambat. Begitulah cara saya menolak hidup yang serba instan dan hedonis. Dalam kondisi yang serba tak pasti, memaksa saya untuk berhenti sejenak, merasakan, dan mendengarkan suara-suara batin yang sering diabaikan. Lewat puisi, saya belajar menerima keretakan sebagai bagian dari keutuhan manusia.
Hingga hari ini, proses kreativitas kepenulisan puisi saya tidak pernah benar-benar selesai. Puisi tetap menjadi teman setia di jalan sunyi. Saya menulis bukan untuk mengklaim kebenaran, melainkan untuk terus mencari makna. Selama kata masih mampu menampung kegelisahan batin, saya akan terus menulis puisi.
Jejak puisi saya tercermin dalam sejumlah antologi puisi lintas tema dan generasi. Di antaranya terdokumentasikan dalam Antologi Puisi Indonesia (Angkasa Bandung, 1997), Kumpulan Puisi Mata Air (2015), Potret Kehidupan (2020), Di Balik Ruang Tanpa Garis Temu (2020), Seribu Tahun Lagi (2021), Kembara Cinta: Himpunan Puisi dan Untaian Kata (2021), Upacara Tanah Puisi (2022), Antologi Puisi Bencana (2024), Kepak Sayap Bunda: Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah (2025), dan Cinta dalam Diam (2026-proses).
Bagi sebagian orang mungkin terlalu dramatis, bahwa menulis puisi adalah cara paling jujur untuk tetap menjadi manusia. Namun demikian, memasuki dunia puisi tak selamanya menghibur, justru seorang penyair harus siap menerobos lorong-lorong sunyi yang terkadang menyakitkan sekaligus menguatkan.









