Wajahmu adalah Samudra

Lampu-lampu menggantung di ruang sidang,
seperti mata waktu: tajam, tak berkedip.
Nama dan gelarku terpampang di layar besar,
seolah semesta sedang menagih seluruh janji
yang pernah kuikrarkan pada diri sendiri.
Suara penguji bergetar di udara,
bukan karena ragu,
namun bobot ilmu yang menuntut pertanggungjawaban.
Setiap pertanyaan melesat,
bagai anak panah yang mencari celah paling rapuh
di dinding keyakinanku.
Aku berdiri di antara tegang dan tenang;
di antara keringat dan doa
di antara kemungkinan rubuh
dan kemungkinan tumbuh.
Terlihat di baris kursi itu
ada sepasang mata
yang tidak sedang menguji,
tidak sedang menghakimi,
hanya menyala: tenang seperti telaga di kala subuh.
Di tengah gelombang pertanyaan,
wajahmu adalah samudra
yang membawakan musim dari ceruk nirwana
Di saat denting logika dan dalil,
engkau adalah zikir yang tak terdengar,
namun menguatkan.
Orang-orang melihatku berdasi,
berjas,
berpeci hitam,
seolah kokoh oleh teori dan metodologi.
Namun mereka tak mengerti
ada fondasi yang menopang suaraku
ialah kesabaranmu bertahun-tahun.
Mereka tak tahu
betapa banyak malam yang kau relakan
untuk menemani sunyi,
betapa banyak cemas yang kau lipat rapi,
agar aku bisa membuka lembar demi lembar disertasi
tanpa terganggu riuh dunia.
Di ruang sidang terbuka itu,
aku sedang mempersembahkan
setiap lelah yang pernah kau sembunyikan
di balik senyummu.
Ketika ketegangan hampir menutup napas,
aku menoleh,
dan di sana kau duduk bersemedi
dengan wajah seteduh hujan pertama.
Tak ada gemetar;
hanya keyakinan yang sederhana:
“Engkau mampu.”
Kalimat yang tak pernah terucap itu
lebih sakti dari seribu referensi,
lebih tajam dari kritik metodologis,
lebih sakral dari kutipan mana pun.
Hari itu aku menyadari
bahwa makhluk terkuat di muka bumi
bukanlah yang berdiri di podium,
bukan yang disebut doktor,
bukan yang dielu-elukan oleh tepuk tangan.
Makhluk terkuat itu
adalah perempuan
yang menahan air mata agar suaminya tak runtuh,
yang memeluk cemas agar suaminya tampak tegak,
yang menjahit doa di setiap helaan napasnya,
tanpa meminta dicatat dalam lembar pengesahan.
Jika gelarku berkilau,
itu karena cahaya dari wajahmu.
Jika namaku disebut dengan hormat,
itu karena engkau lebih dulu
menghormati perjuanganku,
bahkan saat dunia belum tahu apa-apa.
Malang, 28 Nopember 2025
Gelarku Berbunga
Pada wisuda di hari Sabtu,
langit seperti membuka jendela paling rahasia,
angin bertiup perlahan
seolah takut mengganggu doa-doa yang melangit diam-diam.
Aku berdiri
dengan toga dan lelah tanpa kenal istirah,
setiap langkah di panggung itu
adalah jejak luka yang tersiram air cuka.
Di antara tepuk tangan,
aku mencari satu wajah: istriku
rumah yang tidak terbuat dari dinding
tetapi dari keyakinan
yang berkali-kali menyalakan semangatku
saat nyaris padam.
Matanya lebih jernih
dari gelar yang kuterima,
senyumnya lebih sah
dari tanda tangan rektor mana pun,
sebab dialah
yang menandatangani ijazah hidupku
menjadi harapan tak bertepi.
Kau datang seindah bunga
bukan sekadar warna dan wangi,
tetapi musim yang kau rawat
dari air mata yang kau sembunyikan.
Katamu:
“Ini bunga sederhana”
Namun aku tahu
akarnya tumbuh
dari doa malam-malam panjangmu
yang tidak pernah kupelajari di buku mana pun.
Hari itu aku menyadari
wisuda bukan tentang selesai,
tetapi tentang siapa
yang tetap tinggal
saat riwayat dunia belum usai.
Jika ilmuku adalah huruf
kaulah maknanya,
jika gelarku adalah nama
kaulah jiwanya,
jika hidup adalah hamparan savana
aku ingin menua
menjadi tanah,
tempat bungamu terus mekar mempesona.
Malang, 7 Februari 2026









