Tuli Hati Merasa Ahli

Masalah krusial seorang hamba tentang keagamaan adalah ketika merasa intensitas ritual ibadahnya sangat tinggi. Pasalnya seorang hamba yang berada di situasi tersebut secara tanpa sadar mempunyai kecenderungan “tuli hati”, alias enggan memedulikan masalah-masalah sosial, lingkungan, dan lain sebagainya yang sebenarnya juga bagian dari ibadah kepada Allah SWT.
Dari situasi itu, terkadang atau sering, seorang hamba akan bersikap seolah-olah paling ahli ibadah: benar, soleh, dan suci. Sikap seperti ini adalah sikap yang berlebihan dalam keagamaan “takabbur”. Oleh karena takabbur seseorang akan merasa ahli melebihi ahli, atau suci dari yang lain.
Acap kali sikap tersebut pada akhirnya melahirkan paradoks fanatisme, misalnya, ibadah pagi-petang tetapi tidak kunjung bayar hutang—alias pura-pura lupa dengan alasan mengambinghitamkan ibadah—na’udzu billahi min dzalik, semoga kita dijauhkan dari sifat-sifat demikian.
Ajaran Islam sendiri menganjurkan keseimbangan dalam menyikapi kehidupan dunia dan akhirat. Tidak berlebihan pada dunia, sebaliknya juga tidak berlebihan pada akhirat. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Qashash ayat 77:
وَٱبْتَغِ فِيمَآ اتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْاخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ فِى ٱلْأَرْضِ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِينَ
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
Ayat ini menurut penafsiran Wahbah Az-Zuhaili dalam kitab Tafsir Wajiz memerintahkan kita untuk tidak sekadar totalitas pada tujuan kehidupan akhirat belaka, tetapi kehidupan dunia pula. Sebagaimana penjelasan berikut.
“Carilah dalam sesuatu yang diberikan Allah kepadamu itu pahala akhirat dengan menginfakkannya untuk mencari ridhaNya dan menaatiNya, bukan untuk berlaku angkuh dan sewenang-wenang. Janganlah lupa untuk berinfak dalam hal yang dihalalkan Allah kepadamu dan berbuat baiklah kepada hamba-hambaNya dengan bersedekah sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu dan memberimu nikmat berupa harta dan penghormatan. Jangan kamu gunakan harta benda untuk bermaksiat kepada Allah, sesungguhnya Dia tidak meridhai orang-orang yang merusak dengan berbuat maksiat di dunia dan akan membalas mereka atas perbuatan mereka.” (Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir Wajiz, QS. Al-Qashash: 77)
Bukan Orang yang Tuli
Orang ahli agama adalah orang yang belajar dan memahami ajaran-ajaran secara baik dan benar, serta mengamalkan ajaran itu ke dalam kenyataan sehari-hari. Sebagaimana Cak Nur mendefinisikan, manusia dengan keagamaan yang “sempurna” dia adalah orang yang secara jasmani dan rohaninya tidak didikotomi: antara kerja-kerja spiritual dan kerja-kerja fisik tidak dipertentangkan, namun keduanya berjalan beriringan.
Berdasarkan proposisi tersebut maka ahli agama bukan orang yang tuli, juga bukan yang merasa (atau bahkan mengklaim) dirinya ahli, atau paling memiliki hubungan dekat dengan Allah; dan dengan lantang menilai orang lain berdasarkan prasangkanya sebagai kafir, pendosa, rusak, dan celaka, dan lain sebagainya.
Hasil akhir orang yang demikian kerap kali mengklaim hanya dirinyalah yang akan masuk surga. Sementara barang tentu surga tidak dapat disamakan dengan sebuah tempat, apalagi sesempit tempat penginapan atau kost-kost an—siapa yang mampu membayar maka ia bisa menempati.
Pun proposisi di atas selaras dengan sabda Rasulullah SAW, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah:
المسلم أخو المسلم، لا يظلمه ولا يخذله ولا يحقره، التقوى هاهنا—ويشير إلى صدره ثلاث مرات—بحسب امرئ من الشر أن يحقر أخاه المسلم، كل المسلم على المسلم حرام، دمه، وماله، وعرضه
“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Dia tidak menzaliminya, tidak membiarkannya (tersakiti), dan tidak menghinanya. Takwa itu di sini—beliau memberi isyarat dengan menunjuk ke dadanya tiga kali—Cukuplah seseorang dikatakan buruk jika ia menghina saudaranya sesama Muslim. Setiap Muslim haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya bagi Muslim lainnya.” (Sahih Muslim: Al-Birr wa as-Shilah wa al-Adab, Hadis Nomor 2564).
Redaksi التقوى هاهنا—ويشير إلى صدره ثلاث مرات yang berarti “Takwa itu di sini—beliau memberi isyarat dengan menunjuk ke dadanya tiga kali” dalam hadis ini memberikan petunjuk kepada kita, bahwa ketakwaan seseorang bertempat di hati, bukan ditengarai oleh raut wajah yang ganteng, cantik atau “glowing”.
Dalam konteks yang lain, hadis Nabi Muhammad SAW tersebut juga mengisyaratkan bahwa Rasul yang merupakan makhluk paling mulia di sisi Allah saja selalu memperlihatkan sikap rendah hati di hadapan manusia, dan tidak berperilaku sombong dengan kemuliaan atau kekuasaan yang dimiliki.
Lantas, pertanyaan yang patut menjadi refleksi bersama untuk kita, mengapa betapa banyak orang yang katanya ahli sunnah malah berkebalikan dari sikap keteladanan yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Karena itu, orang yang bodoh dalam beribadah atau disebut (abid), adalah dia yang hanya sibuk mengawasi dan menilai kekurangan salat dan doa orang lain.
Perilaku tersebut oleh imam Asy Sya’rani digolongkan sebagai orang-orang yang tertipu (al-mughtarrin) dalam ibadah: Mereka berperilaku dengan tujuan demikian sebenarnya terperdaya oleh jebakan setan. Secara lahiriyah seolah beribadah ikhlas karena Allah, tapi hatinya ingin memamerkan ibadah yang telah dilakukan (riya’), alih-alih berharap pujian (‘ujub). Parahnya lagi, menganggap orang lain serba kurang secara keagamaan.
Oleh sebab itu, ahli tahajud tidak mesti menampakkan diri sebagai ahli tahajud, demikian ahli jamaah tidak perlu menampakan diri sebagai ahli jamaah, pun ahli puasa tidak perlu menampakan diri sebagai ahli puasa. Semata, segala perbuatan yang kita lakukan pangkal dan tujuannya adalah Allah SWT. Artinya, Allah bukan pacar kita yang bisa dibujuk rayu dengan kata-kata puitis nan romatis. Maka dari itu ikhlas adalah kunci dalam mendekatkan diri kepada kondisi keagaman yang sempurna.
Uraian bahasan ini dapat kita renungi bersama dengan kembali kepada firman Allah SWT:
وَٱخۡفِضۡ جَنَاحَكَ لِمَنِ ٱتَّبَعَكَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ
“Rendahkanlah hatimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang mukmin.” (QS. Asy Syu’ara’ 215).
Menurut Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Wajiz, ayat ini mengandung makna untuk menghadirkan cinta dan kasih sayang, kerendahan hati atau tawadlu’, dan meninggalkan kesombongan atau takabbur. Maka dari itu, cinta dan kasih sayang adalah salah satu dari sekian banyak sifat yang semestinya dimiliki oleh setiap pemeluk ajaran agama Islam secara khusus atau semua umat beragama secara umum dalam mengarungi babak panjang kehidupan ini.









