TJOKROISME: Pemikiran dan Gagasan HOS Tjokroaminoto dalam Perjuangannya di Balik Sejarah Sarekat Islam

TJOKROISME merupakan kristalisasi gagasan dan pemikiran dari Sang Guru Bangsa, “Raja Tanpa Mahkota” Hadji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto, dalam manifestasi perjuangannya melawan kolonialisme melalui panggung sejarah Sarekat Islam. Pemikiran ini menempatkan nilai-nilai Islam sebagai basis fundamental perjuangan melawan kedzaliman demi mencapai kemerdekaan sejati yang berkeadilan bagi seluruh umat manusia. Melalui gerakan kebudayaan, prinsip syuro (musyawarah), dan visi kesejahteraan Nusantara, Tjokroaminoto merajut narasi kebangsaan yang kokoh. Jika kita menilik kembali sejarah perjuangannya, terdapat berbagai gagasan vital yang termuat dalam literasi sejarah bangsa, di antaranya:
Persatuan dan Kebangsaan
Gagasan HOS Tjokroaminoto mengenai persatuan dan kebangsaan ini mulai diimplementasikan secara nyata setelah beliau resmi bergabung dengan Sarekat Dagang Islam (SDI). Momentum ini bermula saat beberapa utusan H. Samanhoedi berkunjung ke kediaman beliau di Gang VII Peneleh, Surabaya. Gagasan persatuan ini tidak hanya dikumandangkan melalui mimbar ke mimbar di setiap kunjungan regionalnya, namun juga diwujudkan melalui langkah-langkah strategis yang terukur, antara lain:
- Gerakan Politik Administrasi
Dalam catatan Metamorfosis Sarekat Islam, dijelaskan bahwa tujuan gerakan politik administrasi ini adalah untuk memperkenalkan SDI di kancah nasional maupun internasional, mengingat saat itu organisasi ini baru saja mendapatkan panggung dan belum dikenal secara luas di seluruh Hindia Belanda. Gebrakan signifikan dalam poin ini adalah penghapusan pasal dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) yang sebelumnya menyatakan bahwa keanggotaan hanya terbatas bagi orang Surakarta. Langkah inklusif ini menjadi tonggak awal keterbukaan organisasi bagi seluruh rakyat. - Gerakan Show of Force
Ini merupakan strategi pertemuan akbar bagi seluruh anggota Sarekat Islam (SI) di lokasi-lokasi yang telah ditentukan. Menurut hemat penulis, langkah ini bukan sekadar kumpulan massa biasa, melainkan media strategis untuk saling memperkenalkan anggota dari berbagai daerah serta membahas langkah-langkah taktis perjuangan ke depan.
Pemerintahan Sendiri (Zelfbestuur)
Zelfbestuur (bahasa Belanda) yang berarti “pemerintahan sendiri” adalah upaya untuk membentuk pemerintahan di Hindia Belanda oleh orang-orang pribumi sebagai langkah menuju kebebasan dari negeri Belanda. Melalui konsep ini, Pak Tjokro sejatinya sedang mengembuskan napas perlawanan terhadap kolonialisme. Merdeka dalam perspektif Tjokroaminoto bukan hanya soal kedaulatan pemerintahan, melainkan bebas dari segala bentuk penindasan, mulai dari beban pajak hingga pemulihan hak kepemilikan tanah bagi bangsa pribumi.
Hal ini secara tegas dikumandangkan karena beliau melihat bangsa Hindia Belanda diperlakukan layaknya “sapi perahan”. Dalam pidato bersejarah pada Kongres Nasional Pertama Sarekat Islam (dikenal sebagai Kongres Centra Sarekat Islam) di Bandung, Juni 1916, beliau menyatakan:
“Tidaklah wajar untuk melihat Indonesia sebagai sapi perahan yang diberi makan hanya disebabkan oleh susunya; tidaklah pada tempatnya untuk menganggap negeri ini sebagai suatu tempat di mana orang-orang datang dengan maksud mengambil hasilnya.”
Pendidikan dan Kesadaran Politik
Menurut HOS Tjokroaminoto, penindasan lahir dari penguasaan harta dan benda yang didapat melalui eksploitasi alam besar-besaran serta diskriminasi manusia yang mengabaikan aspek keseimbangan dan kesetaraan. Sebaliknya, beliau menghendaki kesetaraan hak dalam menata kehidupan bersama. Itulah mengapa perjuangan politiknya adalah jalan untuk melawan ketimpangan yang melanda masyarakat pribumi.
Perjuangan ini dilanjutkan dengan berbagai mosi dalam setiap Kongres Nasional Sarekat Islam. Salah satunya pada Oktober 1917 di Batavia, yang isinya antara lain:
“Mendesak pemerintah Belanda agar menghapuskan keputusan Particuliere Landeryen (penguasaan tanah oleh tuan tanah) yang membuat perkebunan masyarakat menjadi sengsara. Keputusan tersebut dibuat oleh Belanda pada tahun 1870 melalui Undang-Undang Agraria. Selanjutnya, menuntut perbaikan dalam bidang nasionalisasi industri perusahaan-perusahaan yang dilakukan secara monopoli, serta sektor irigasi, karena hal tersebut menyentuh hajat hidup orang banyak seperti besi, tekstil, gas, air, listrik, dan juga minyak.”
Dasar Kepemimpinan Spiritual
Berangkat dari konsep pemikiran politik yang bijaksana, HOS Tjokroaminoto menguraikan bahwa kebijakan pemimpin hendaknya diprioritaskan untuk memenuhi hajat hidup orang banyak demi mencapai keadilan dan kemakmuran. Beliau memiliki kesadaran mendalam sebagai pemimpin yang merasakan penderitaan rakyat. Pemikiran dasarnya menegaskan bahwa pemimpin memiliki tugas mulia sebagai Khalifah dan Abdillah di muka bumi. Oleh sebab itu, politik dimaknai sebagai cara untuk mengabdikan diri semata kepada Allah SWT.
Hal tersebut ditegaskan dalam tulisan beliau mengenai delapan tahapan menuju kehidupan sejati:
- Pengenalan terhadap Allah agar melalui jalan kebenaran serta keyakinan terhadap Allah yang Sejati.
- Menggali pelajaran mengenai keindahan yang terdapat pada kesempurnaan Allah.
- Pembuktian mengenai kemurahan dari sifat Allah.
- Meminta bantuan dan pertolongan hanyalah kepada Allah melalui doa.
- Segala pengorbanan baik materi maupun jiwa dan raga di jalan Allah.
- Sabar atas segala cobaan dan menerimanya dengan penuh kekuatan hati.
- Menghidupkan silaturahmi dan memberikan teladan di tengah kehidupan bermasyarakat.
- Menjadikan sifat-sifat Allah dan segala perintah-Nya sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.
Sosialisme Islam
Pada Kongres Nasional Central Sarekat Islam kedua di Batavia (20–27 Oktober 1917), tercetus pernyataan:
“Yang kita inginkan adalah sama rasa, terlepas dari perbedaan agama. CSI ingin mengangkat persamaan semua ras di Hindia sedemikian rupa sehingga mencapai (tahap) pemerintahannya sendiri. CSI menentang KAPITALISME. CSI tidak mentolerir dominasi manusia terhadap manusia lainnya.”
Baca JugaTentang Hidup Sederhana
Kalimat ini dilontarkan karena mulai masuknya pemahaman sosialis-komunis ke dalam tubuh CSI melalui murid-muridnya seperti Semaoen dan Darsono. Namun, hal ini bukan berarti HOS Tjokroaminoto menyetujui pemikiran tersebut sepenuhnya. Beliau justru menjadikan “Sosialisme Islam” sebagai ideologi organisasi yang berdiri kokoh di atas nilai religius.
Bukti nyata dari hal ini adalah penulisan buku berjudul Tarich Agama Islam agar masyarakat Muslim dan anggota CSI menjadikan sejarah Nabi Muhammad SAW sebagai modal perjuangan. Selain itu, beliau menulis buku Islam dan Sosialisme sebagai rujukan bahwa praktik sosialisme tertinggi—yang menjunjung nilai kemanusiaan dan keadilan—telah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabat, sehingga umat Muslim wajib belajar dari teladan tersebut.
Sosialisme dalam Islam digunakan oleh HOS Tjokroaminoto sebagai alat dan strategi untuk menentang kapitalisme-imperialisme. Beliau ingin memperlihatkan bahwa Islam yang dianut oleh mayoritas penduduk secara tegas menentang segala bentuk penjajahan. Melalui pendekatan yang sosialistis, manusiawi, dan berkeadilan, Tjokroaminoto berupaya mengikis kesenjangan dan kemiskinan serta membangun semangat nasionalisme yang kuat. Baginya, persatuan umat adalah syarat mutlak untuk mencapai kemerdekaan Indonesia yang sejati.
Editor: Muhammad Farhan Azizi









