Tentang Hidup Sederhana

Banyak orang bicara soal hidup sederhana. Tetapi, saya sering ragu apakah yang mereka maksud benar-benar sederhana, atau sekadar terdengar sederhana. Soalnya, “sederhana” di zaman sekarang seperti kata karet. Bisa ditarik ke mana saja, tergantung siapa yang mengucapkannya.
***
Begini ceritanya. Beberapa waktu lalu, saya melihat sebuah komik di Instagram. Gambarnya dua anak kecil sedang bercakap-cakap.
“Aku nduwe mobil Xpander, omahku gedhe, bapakku bos bakso.”
“Aku nduwe telo.”
Lalu anak yang cuma punya telo bertanya, “Kowe nduwe telo?”
Jawab si anak Xpander singkat, “Ora.”
Tanpa pikir panjang, si bocah pemilik telo langsung menyodorkan miliknya.
“Nyoh, nggo kowe!”
Saya tersenyum sendiri membacanya. Lucu? Iya. Tapi setelah itu, ada perasaan aneh. Sejenis tamparanlah. Anak yang cuma punya sebiji ketela justru paling ringan tangan berbagi. Sementara yang hartanya berlapis-lapis, ketika ditanya soal makanan “ndeso”, malah tidak punya apa-apa.
Kalau dipikir-pikir, kok mirip dengan dunia orang dewasa. Kita sering menjumpai orang-orang yang hidupnya pamer ini, pamer itu. Rumah, kendaraan, jabatan, liburan. Tetapi ketika bicara soal berbagi, eh, tiba-tiba banyak alasan. Banyak pertimbangan. Banyak hitung-hitungan. Sebaliknya, yang hidupnya terlihat biasa-biasa saja justru sering kali yang paling sigap membantu sesama. Dan tak bersedia kalau dianggap dermawan.
Ironisnya, di titik inilah kata “sederhana” mulai kehilangan makna.
***
Saya pernah ikut rapat RT. Ada seorang bapak yang berkali-kali menegaskan, “Sing penting sederhana wae.” Saya mengangguk saja, lha kedengarannya sangat bijak. Tetapi ketika sampai urusan konsumsi dibahas, ternyata definisi “sederhana” versinya adalah nasi kotak dengan ayam goreng, sate kambing, es buah, plus makanan ringan dua kali.
Eh, ketika ada peserta lain mengusulkan, “Mi goreng dan teh panas saja, gimana?” suasana langsung berubah jadi kikuk. Si pengusul ini dianggap tidak kompak. Tidak menghargai kebersamaan. Hmm, rupanya ukuran guyub rukun sekarang bisa dilihat dari tebal tipisnya paket katering.
Di kesempatan lain, saya juga pernah bertemu orang yang mengaku hidupnya sederhana. Katanya, “Barang branded tidak penting.” Tapi anehnya, sepatu yang dipakai harganya setara dengan biaya SPP satu semester mahasiswa. Katanya hidup apa adanya, eh setiap akhir pekan wajib nge-mal, katanya “demi menjaga pergaulan anak-anak.”
Di situ saya mulai bertanya pada diri sendiri. Apakah hidup sederhana itu betul-betul soal sikap hidup, atau hanya kalimat penghibur diri ketika saldo ATM mulai menipis?
Ah, entahlah. Padahal, kalau mau jujur, hidup sederhana tidak serumit itu. Lapar ya makan. Ngantuk ya tidur. Capek ya istirahat. Tapi lihat manusia zaman sekarang. Lapar ditahan demi diet yang entah siapa yang memerintahkan. Ketika ngantuk malah dilawan dengan scroll media sosial berjam-jam. Pas capek dilampiaskan dengan belanja daring yang tidak direncanakan.
Bukan berarti diet, hiburan, atau belanja itu salah. Tidak. Yang sering keliru adalah ketika hidup sederhana kita tukar dengan pola hidup ribet yang kita ciptakan sendiri.
Saya teringat seorang lelaki paruh baya di sebuah kampung di Jawa Tengah. Rumahnya papan kayu. Motornya Astrea Prima. Pekerjaannya ngarit (mencari rumput untuk ternaknya). Tetapi kalau ada hajatan, dia selalu datang paling awal. Membawa sayur dari kebunnya sendiri. Dan pulangnya paling akhir, setelah membantu mencuci piring si empu hajat.
Anehnya, orang seperti inilah yang paling sering dicari tetangga ketika ada masalah. Bukan mereka yang rajin pamer renovasi rumah di grup WhatsApp, bukan pula yang paling sering mengunggah foto liburan.
Di situ saya belajar tentang satu hal: merasa “cukup” ternyata ada bukan hanya di kepala, tetapi juga di hati. Banyak orang gelisah karena merasa belum cukup. Rumah masih tipe 36. Gaji belum dua digit. Skincare belum satu lemari. Namun, di sisi lain, ada orang yang merasa sudah cukup hanya dengan sebiji telo di tangan. Dan masih berbagi lagi. Luar biasa.
***
Meme telo itu menohok justru karena kesederhanaannya, karena membalik logika cara berpikir kita. Yang pamer harta kalah telak oleh ketela. Kata-kata “Nyoh, nggo kowe” sungguh tidak diduga. Dan barangkali, di situlah pelajaran hidup paling praktis itu berada.
Kita sibuk bikin teori, menulis panjang lebar tentang kesederhanaan, atau menggelar seminar motivasi dengan HTM (Harga Tiket Mahal). Padahal, contoh paling nyata hidup sederhana justru datang dari anak kecil yang bahkan belum tahu harga cabai di pasar.
Mungkin, kalau kita ingin belajar hidup sederhana, kita tidak perlu workshop atau membaca buku motivasi berjilid-jilid yang sampulnya penuh jargon. Dan barangkali, cukup dengan kalimat: “Kowe nduwe telo?”
Kalau jawabannya ora, ya belajar berbagi dari apa yang ada saja, meski secuil. Karena kesederhanaan sejatinya adalah merasa cukup, lalu ringan untuk berbagi. Hidup itu sebenarnya sederhana. Yang sering membuatnya ribet ya kita sendiri.
Penulis: Wahyu Tanoto
Editor: Farhan Azizi









