Tantangan dan Peluang Bahasa Indonesia di Era Society 5.0

Bahasa gaul dan campuran makin popular, tetapi inovasi pembelajaran berbasis teknologi makin gencar. Begitulah keadaan bahasa Indonesia di era society 5.0, yang ditengarai perpaduan teknologi dan kehidupan manusia dalam satu ekosistem digital yang saling terhubung. Teknologi bukan hanya alat, melainkan bagian dari cara hidup.
Bahasa Indonesia memegang fungsi penting sebagai alat komunikasi, identitas nasional, dan media penyebaran pengetahuan. Efektivitas penggunaan bahasa harus meningkat, kultur berbahasa harus berubah, dan pengetahuan bahasa Indonesia sangat menurun pada era ini.
Efektif Secara Praktis
Efektivitas penggunaan bahasa Indonesia mulai diuji ketika masyarakat memasuki lanskap komunikasi baru. Dalam media sosial, aplikasi pesan singkat, dan berbagai platform video pendek menuntut penggunanya untuk menciptakan pola bahasa yang lebih cepat, ringkas, dan instan.
Pola-pola tersebut kerap mengabaikan kaidah baku. Kata-kata seperti “gk”, “bgt”, “pls”, “sorry”, atau “ok” menggantikan bentuk formalnya. Itu sebabnya, efektivitas bahasa mengalami reduksi makna; bukan lagi kejelasan melainkan kecepatan.
Fenoma itu terjadi karena masyarakat digital memerlukan bahasa yang komunikatif dan adaptif. Inilah muara dari efektivitas dan ketidakdisiplinan berbahasa di era ini. Penggunaan bahasa menjadi sangat efektif secara praktis, tetapi tidak secara struktural.
Pembaharuan Kultur Bahasa Indonesia
Pembaharuan kultur bahasa juga tidak terhindarkan. Bahasa Indonesia berkembang bersama teknologi dan realitas sosial baru. Muncul istilah seperti startup (bisnis baru), cloud system (komputasi awan), user experience (UX), literasi digital (melek aksara digital), artificial intelligence (akal imitasi), dan ratusan istilah lain yang tidak memiliki padanan tunggal. Pembaharuan itu bukan sekadar penyerapan kosakata baru, tetapi juga perubahan cara penyampaian gagasan.
Generasi muda menulis informasi secara visual melalui konten grafis, infografik, dan video. Maka bahasa tidak hanya hadir dalam kata, tetapi juga simbol visual dan audio visual. Bahasa Indonesia mengalami modernisasi. Badan bahasa merilis istilah baru seperti gawai untuk gadget, pranala untuk link, atau surel untuk email. Namun, realitasnya, masyarakat tetap lebih nyaman menggunakan istilah bahasa Inggris.
Era society 5.0 juga melahirkan budaya kolaborasi lintas negara seperti proyek penelitian ilmiah global, reaksi bencana lintas batas. Bahasa Indonesia dipaksa beradaptasi secara global. Banyak akademisi menggunakan bahasa internasional dalam publikasi ilmiah, sementara praktisi digital mengedepankan istilah asing karena dianggap lebih universal. Kultur bahasa akhirnya menjadi hibrida.
Kualitas Pengetahuan Bahasa Indonesia
Kualitas pengetahuan bahasa pun mengalami penurunan. Pengaruh budaya global melalui film, musik, tren media sosial, sampai gaya hidup digital menyebabkan generasi muda cenderung mengadopsi bahasa campuran (code mixing). Umpamanya, “Aku udah login duluan ya, nanti kamu follow up.” Adopsi bahasa semacam ini memang bukan kesalahan, tetapi apabila digunakan tanpa sadar dalam konteks formal, dapat melemahkan fungsi bahasa sebagai identitas nasional.
Pada tahap tertentu, penurunan kemampuan berbahasa terlihat dari rendahnya kemampuan menulis akademik, kesalahan ejaan massal, minimnya penguasaan kosakata baku, hingga hilangnya sikap hormat dalam komunikasi antar generasi. Bahaya terbesar bukan pada masuknya bahasa asing, tetapi pada hilangnya kesadaran menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai konteks. Bahasa Indonesia akan kehilangan kekuatan simboliknya apabila pengguna tidak menjadikannya sebagai kebanggaan.
Meski demikian, era Society 5.0 justru membuka peluang kebangkitan bahasa. Bahasa Indonesia kini ditopang oleh digitalisasi bahasa, kamus daring, aplikasi tata bahasa, penerjemah berbasis AI, hingga platform edukasi nasional.
Buku elektronik, modul pembelajaran digital, dan konten edukatif berbasis bahasa Indonesia mulai tersebar luas. Jika bahasa dihadirkan dalam ruang digital dengan kualitas baik, generasi muda akan semakin dekat dengan bahasa nasionalnya.
Bahasa Indonesia musti menjadi bahasa pengetahuan, bahasa inovasi, dan bahasa kepemimpinan peradaban. Perkembangan teknologi semestinya melahirkan disiplin baru: literasi bahasa digital. Kaidah tetap dijaga, tetapi bahasa tetap adaptif dan bergerak maju. Bahasa Indonesia bukan sekadar alat, tetapi modal budaya yang menentukan arah identitas keindonesiaan di tengah kompetisi global. Dengan kesadaran bersama, bahasa Indonesia dapat bertahan, berkembang, dan semakin efektif sebagai bahasa masa depan di era Society 5.0.
Editor: Muhammad Farhan Azizi









