Tamsil Mem Rangkak Motih

matahari menyengat di tengah kerimbunan rimba
berkilau permukaan sungai di bawah sana
kulihat Umai duduk di bangku ulin tua
beroleskan bedak kuning pada wajahnya
sedang mengerjakan manik-manik bercahaya
yang berwarna-warni menyala
aku meringkuk bersandar
di tempat duduk nyaman, sambil berujar:
Umai, seperti kulihat tanah ulayat
perlahan mulai berpindah tangan
dibeliti ribuan godaan
berpacu seiring waktu berjalan
remuk tuturan leluhur diabaikan
ibarat bulan ditukar kepada kegelapan
dan kita pun dalam keterasingan
Umai, seperti kulihat perihal adat
cahayanya hilang ditengah kebaikan
berlimpahan namun tak bersisian
kadangkala masih bersinggungan
tertanam beberapa luka tuturan
seumpama doa tengah malam berarakan
tetapi bayangan tak sudi berpelukan
lihatlah anakku,
di balik segala sesuatu bernapas
kembali pada bilik kecil berbatas
tersimpan dekap harapan sahas
menyuluh segalanya saling selaras
keluarlah anakku,
bersama doa kita menjadi saksi
walau ingatan tak lagi mewangi
tak gentar membawa kembali
apa yang mereka ambil hari ini
bersama yang haq, hal-hal baik menyertai
terselip sabda petuah: Mem Rangkak Motih
—jangan rakus mata.
2025
Penulis: Sultan Musa
Editor: Ihya Ulumuddin









