Tak Sesiapapun Tahu

Tak Sesiapapun Tahu
sepanjang mata memandang
riuh suara kayu mengitari laut dan tanah itu
tapi apa yang bisa dikata
tak sesiapapun tahu—mau mengaku
belakangan di dalam kubur
mayat-mayat merasa lapang
sebab di sebelah kanan kiri
tak lagi ada akar mengitar.
pun cacing, semut, tungau,
tikus tanah, rayap, kadal
kelaparan, kehilangan habitat
tanah seolah berlari menggulung diri
yang entah petuah siapa memberi.
rumah-rumah marah pada rumput.
sawah-sawah rusak sebelum sempat dituai.
pohon-pohon bunuh diri
tak ingin hidup lagi
Mojokerto 2025
Liur Langit
panas meringkuk sedu
diri di balik daun kasih sayang ibu
yang mengajari anak-anak bersepeda
di bawah langit biru.
matahari jadi kerabat hutan belantara,
membuat pintu rimba tertutup rapat.
awan gelap memberus mega
liur langit tak kunjung resap
meski di ujung puncak
kaki amat berat melangkah menuju permandian
satu dua langkah dipaksa tetapi bagai minyak lelap
menyesaki bumi hingga bertiraikan banir
Mojokerto 2025
Biduk di Bukit
cerita al-Fatih mendayung perahu
melewati bukit tak asing lagi.
kini, biduk bercokol di atas bukit
—bukan hanya ada biduk serempu pula,
tetapi biduk tiris menanti karam
biduk tak lagi berlayar di sungai tetapi di perkampungan
mengangkat barang-barang melewati pematang.
Mojokerto 2025
Balada Hujan dan Bumi
“hujan, cepat turun!” pinta bumi amat sedih
“apakah kau butuh aku sekarang juga?” tanya hujan
“ya, betul, sebelumnya aku jarang minta, tapi sekarang mukaku gundul, karena itu aku ingin menumbuhkan bulu-buluku yang dipangkas habis oleh jemari eskavator yang ganas itu” jawab bumi, yakin.
Mojokerto 2025
Ada Bais di Tubuh ini
aku menolak, kami menolak
dia menolak, mereka menolak
tidak, itu bukan aku, kami, dia, mereka!
tetapi, bais di tubuh ini sepenuhnya menolak!
Mojokerto 2025








