Rinai Hujan

Aku enggan berurusan kala hujan
Aku sibuk merangkum gelisah di balik jendela
Aku yang hanya selembar daun tua,
Berlindung di balik pokok-pokok pohon renta
Menganyam rindu atau sekumpulan cerita yang meremaja
Dalam sajak-sajakmu
Kemudian hujan itu mereda
Namun rindu masih tergenang
Mengapa
Tidak
Tidak begitu
Aku tidak menggerutu
Tapi merasa rindu sudah semakin terlalu
Jika tidak menghilang, mohon agar kau pindahkan aku
ke tempat yang paling dekat dengan kematian; bibirmu
Ingin aku kecup satu persatu tetapi tak sempat;
tulisan-tulisan dari percakapan kita yang telah lalu
Ada jeda yang tabu
Ada diam yang beku
Kau mendingin
Aku? Menggigil!
Sungguh sepakat rasanya jika rindu menjalinkelindan dengan sesak
Terpesona pada sekarat. Mulai menghitung mundur detak-detak nama yang masih bernyawa
Di sebuah tempat paling rahasia; hanya aku dan Tuhan yang tahu
Kalau begini cara menghilangkan jejak dengan sengaja, tidak mengapa
Tapi biarkan sajak-sajak mengekal
Mengekalkan jatuh cinta
Mengekalkan marah, cemburu, dan tertawa lepas bersama
Lalu biarkan doa-doa merawat luka dan menjaga detak-detak nama
Perihal Rindu
Teruntuk percakapan sepanjang bulan Desember hingga Januari,
ada gelisah
yang tertanggal
yang tak pernah bosan berdetak di dada kiri
yang tak pernah membuat luka, tapi
meninggalkan sakit sebab waktu, jarak, lalu cua
Tak ubahnya candu
sekarat-berkarat
seperti rindu yang bangsat
Rindu (Sendiri)
Tidak ada yang lebih meriang ketika sesak bukan untuk sesiapa
serupa mendung yang enggan hujan
serupa daun kering yang enggan jatuh
serupa angin yang enggan semilir
serupa secangkir kopi yang enggan tandas.
Rindu kemarin
bukan rindu yang sekarang.
Rindu kini atawa esok
akankah masih sama?
Aku ingin bercerita tentang langganan baruku bernama ‘sesak’.
Ia kerap bertandang setiap pagi, yang
kadang beraroma mendung bercampur pekat rindu,
beraroma tanah kering yang tetiba disiram hujan,
bahkan sesekali beraroma lembab pohon pilu yang basah.
Kali ini ia semakin menjadi-jadi.
Sesak membawakanku oleh-oleh aroma kopi hitam
sepekat kenangan tentang percakapan kita
di pertengahan bulan Januari yang menggigil.
Editor: Farhan Azizi








